Ada kalanya kita merasa dunia begitu menakutkan dari apapun yang ditakuti. Namun ada kalanya kita merasa dunia begitu membahagiakan sampai kita lupa caranya bersyukur.
Embun menyiram dedaunan yang tengah tumbuh. Seseorang membuka jendela kamar, membuat angin sejuk menelusuk tulang, masuk memenuhi ruangan.
Sudah beberapa hari, ia tinggal di tempat yang baru untuknya. Semua harus menjalani kebohongan yang menjenuhkan pikirannya.
Seseorang masuk menghampirinya. Ia lupa, ternyata ada orang lain selain dirinya yang menghuni kamar ini.
"Kemas semua barang-barang kamu, kita pindah hari ini juga." Cowok itu berkata dengan nada datar.
"Sekarang?" tanyanya masih mencerna kata-kata lelaki itu.
"Jangan banyak tanya! Lagi pula sebentar lagi kamu masuk kuliah 'kan? Saya juga harus cepat menyelesaikan semuanya," lanjut laki-laki masih dengan posisi membelakangi istrinya.
Mafka hanya menurut kemudian, segera mengemasi barang-barangnya. Mafka kira ia akan pindah siang, sehingga semalam santai-santai saja.
Saat akan bertanya kepada Fazrin apakah ia ingin dikemas barang-barangnya, Mafka melihat koper suaminya itu telah rapi dan kemudian lelaki itu terlihat menutup kopernya.
Butuh setengah jam bagi Mafka mengemas barang-barang. Tak lama pun mereka berpamitan kepada ibunda Mafka--Riri pun memeluk Mafka dan berujar kepada Fazrin untuk menjaga anak angkatnya itu. Meskipun sempat meminta mereka untuk tetap tinggal beberapa bulan lagi, tapi Riri sadar mereka ingin lebih mandiri.
Mobil putih yang tadinya terpakir kini sudah melesat, membelah jalanan menuju sebuah rumah yang disiapkan Fazrin saat dia berkeluarga nanti, bersama istri tercintanya.
Tapi semua terasa begitu menyedihkan saat ia bahwa ia akan tinggal dengan orang yang tidak dicintainya. Tapi bagaimana lagi? Ia tidak bisa terus merasa baik padahal hatinya berkata buruk, itu akan merusak kesehatan mentalnya 'kan?
Mafka duduk di samping si pengemudi. Tidak ada percakapan apapun sama halnya waktu mereka tinggal dalam satu ruangan. Mafka memang sempat bahagia saat resepsi itu, tapi tidak berlangsung lama, sebab Fazrin tetap tidak mengharapkannya.
Mobil pun masuk ke area tol, dengan menggesekan kartu elektronik membuat semua terasa lebih mudah.
Pukul sepuluh pagi tadi ia berangkat, dan sekarang sudah satu jam berlalu. Masih sama tak ada percakapan. Mafka tidak tahu harus melakukan apa, sebab jika memainkan handphone apalagi lama akan membuatnya pusing. Tapi jika ia diam rasanya ia akan mabuk perjalanan.
Dengan segala kebosanan ini, Mafka melirik Fazrin yang begitu fokus dan enggan berbicara sedikitpun. Hingga matanya berair karena mengantuk, ia pun bersandar dan mulai mencari posisi yang nyaman untuk terlelap.
Matanya mulai mengerjap setiap waktu sampai akhirnya ia menutup mata sambil memegangi seatbelt yang digunakan.
Fazrin merilekskan lehernya yang pegal, namun pada saat ia menoleh seseorang di sampingnya tengah terlelap, begitu tenang dan damai.
"Gak bisa bedain mana kasur mana bukan, dasar gadis yang menyedihkan!" nyengirnya tanpa ia sadari tersenyum saat berada dengan Mafka.
🐚🐚🐚
Mobil pun Fazrin diparkirkan di sebuah area parkir mesjid. Azan dzuhur tengah berkumandang begitu dekat sehingga membuat perempuan di sampingnya terbangun dengan sendirinya.
"Bagus lah, gak usah capek-capek bangunin!" Kemudian keluar dari mobil.
Huh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Harapku Hadirmu
Spiritualité#3 fazrin 24/06/2020 #2 fazrin 13/08/2020 Mafka Malihah Farha, seorang perempuan yang selalu berharap pada lelaki yang tak pernah mengharapkannya. Ia lelah selalu memberi hati! Namun, suatu hari ia dipertemukan dengan lelaki yang diharapkannya! Buk...
