27-📝 Tetap.

21 3 0
                                        

Biarkan tetap seperti ini agar saat waktunya, salah satu di antara kita tidak ada yang menangis.

Seperti kemarin, hari ini ia sudah menyelesaikan kuliahnya. Dan saatnya merangkai bunga untuk diberikan kepada pelanggan.

"Mbak, bunga yang cocok untuk lamaran yang mana ya?" tanya salah satu pelanggan.

"Wah, kalo menurut saya bunga mawar merah itu cocok. Soalnya merah menggambarkan cinta dan juga keromantisan." senyum tergambar dari wajah Mafka.

"Kalo gitu, saya ambil mawar merah dua buket ya mbak."

"Baik, tunggu sebentar ya." Mafka pun berlari menuju ruangan khusus tempat merangkai bunga.

"Ra, buket bunga mawar merah dua," ucap Mafka pada teman yang memang sedang bekerja di sana.

Setelah mendapat buket itu. "Oh ya, mau di tulis apa di sini?" tanya Mafka.

"Apa ya mbak, saya kurang puitis. Sama mbaknya boleh?" pinta pelanggan itu tentu saja Mafka tersenyum dan muali menulis rangkaian kata.

Tak berapa lama, akhirnya bunga yang disiapkan untuk lamaran pun selesai. "Ini mas, semoga acaranya lancar ya." pelanggan pun meng-aminkan doa tersebut kemudian pergi meninggalkan toko.

"Maf, maaf ya lama." datang seorang yang memang bertugas menjaga kasir.

"Gak papa kok, ya udah aku ke belakang ya." Mafka pun kembali menjalankan tugasnya di area belakang.

Sseorang yang baru saja selesai mengerjakan skripsi pun akhirnya kembali fokus pada masalah usahanya.

Tangannya memijat pelipisnya pelan, ia bingung dengan keterangan yang diberikan beberapa pekerja di sini. Selain ia harus mencari orang itu, ia juga harus menebak siapa dalang yang ingin menghancurkan usahanya.

Salah satu pelayan mengaku pernah memergoki pekerja baru itu tengah mengobrol dengan seseorang yang mencurigakan. Pelayan itu tidak hanya asal menuduh, sebab dalam perbincangan tersebut terdengar membicarakan nama sang bos.

Fazrin.

Fazrin mengacak rambutnya frustasi, terlebih perempuan yang menjadi istrinya kini tidak pernah menyapa atau mengobrol dengannya.

Pagi tadi saat pulang dari masjid, Mafka sudah tidak ada. Sedangkan kemarin malam, ia sudah tertidur.

Bohongkah jika ia nyaman dengan semua ini?

Bohong juga jika ia tidak merasa ada yang hilang?

Kenapa tawa, senyumnya tidak bisa didengar dan lihat kembali?

"Huhhhhh, Arghhhh ...," frustasinya mengingat permasalahan yang begitu beruntun.

Duakkk...

Suara pintu yang dipaksa dibuka pun mengagetkan Fazrin di saat yang tidak tepat.

"Apaan sih lo, mau rusak pintu orang?!" emosi Fazrin.

"Duhh, sorry deh Az. Tapi ada masalah yang lebih penting dari ini. Gue tadi liat si Anto di area kampus."

Mata Fazrin membulat sempurna mendengar semua itu, "Apa?" kagetnya.

"Duhh, kok apa sih? Mending kita tangkap dia!"

"Ya kenapa lo malah ke sini!" ucapnya sambil berlari mengikuti Fabian.

"Tenang aja, gue udah suruh temen-temen buat ikutin dia."

Fazrin merasa lega, setidaknya ada yang mengikuti ke mana perginya maling itu. Ia benar-benar tidak terima jika ada yang merusak usaha yang ia bangun dengan penuh perjuangan.

Harapku HadirmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang