16-📝 Menaruh harap

35 4 0
                                        

  Semakin dalam harapan itu ia simpan

"Ayo kak, kita pulang." Mafka sudah tidak tahan dengan ketidaknyamanan yang terjadi setelah ucapannya.

Mafka beranjak, namun suara itu menginterupsinya.

"Tunggu!"

Fazrin mendekat, kemudian mengambil sesuatu di wajah perempuan yang tiba-tiba mematung.

"Ayo pergi." Fazrin berlalu dan membuat Mafka terperanjat kembali ke dunia yang sempat berhenti.

Sebelum membuka mobil ia pun kembali termenung atas perilaku seorang Fazrin yang menurutnya aneh.

"Lain kali jangan urusin orang lain, pandangan kamu sama orang lain itu pasti berbeda!" tegas Fazrin membuat Mafka masuk langsung ke dalam mobil.

Setelah masuk ke dalam mobil dan memasang seatbelt Fazrin kembali membuatnya diam. "Gak usah masang muka cemberut. Makin gak enak dilihat." Fazrin malah membuat Mafka kesal.

"Astagfirullah, makin gak enak dilihat? Berarti dari awal juga jelek dong! Huhh!" monolognya dalam hati.

"Ya udah gak usah dilihat!" ketus Mafka tak terima karena secara tidak langsung ia mengatakan bahwa dirinya jelek.

"Ha.. Haa, kamu itu ya suka percaya diri. Siapa juga yang mau liat kamu." tawa itu menjadi penyebab mulut Mafka terbuka sambil menyipitkan mata.

"Terserah Kak Fazrin deh!" balasnya.

Fazrin terkekeh melihat Mafka yang semakin cemberut. Entah wajah ngambek nya selalu ingin dia lihat.

Malam semakin larut dan mereka juga semakin diam dalam keheningan se- akan tenggelam dengan fokus masing-masing.

🐚🐚🐚

Sekarang Mafka tengah beristirahat, setelah ia membersihkan semua sudut rumah. Fazrin terlihat menyiram tanaman, Mafka pun menghampiri bermaksud untuk mengajak suaminya itu makan.

"Kak, sarapan dulu." menghampiri Fazrin yang sepertinya sengaja tidak menjawab.

"Kak!!" teriak Mafka di samping lelaki yang mengabaikan suaranya.

Tanpa Mafka sadari senyum jahil terbit dari Fazrin. Hingga akhirnya air yang begitu deras bisa dirasakan Mafka,  Fazrin tertawa puas sambil terus menghadapkan selang ke depan.

"Kamu belum mandi kan?"

"Duhh, kak. Aku emang belum mandi, tapi gak gini kak. Duhhh.."

Mereka saling memperebutkan selang air hingga tubuh mereka basah kuyup. Mereka berdua menikmati hari ini, tertawa bersama seakan lupa tentang hati mereka yang berbeda.

Mafka berharap ini menjadi awal yang baik, meski hati lelaki itu entah untuk siapa.

Suara pengering rambut menggema di satu kamar dalam hunian yang hanya didiami oleh dua orang.

"Kak gantian dong." Mafka sedikit berteriak agar Fazrin mendengarnya.

"Iya nih," ucap Fazrin berjalan ke arah pintu ruangan yang ada dalam kamarnya.

Harapku HadirmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang