2📝-Takdir

89 15 30
                                        

Mengapa kau tak bisa menerima, jika itu bukan keinginanmu mungkin itu kuasa Tuhan. Sesungguhnya Allah tau apa yang kita butuhkan bukan hanya yang kita inginkan

Suasana ruang keluarga malam ini benar-benar sangat mencekam bagi seseorang bernama Fazrin.

"Apa yang sebenarnya kamu pikirkan Fazrin!!!" sentak ayahnya emosi.

"Ayah salah paham, dengerin dulu. Tadi itu Fazrin cuma-"

"Cuma apa? Tatap-tatapan sama perempuan yang buhkan muhrim! Iya?" timpal Sang Ayah memotong pembicaraan putranya.

"Ayah, tadi Mela yang menyuruh Fazrin untuk menjemput dan mengajaknya jalan-jalan," ucap Mela membela adiknya.

"Diam Mel, Ayah tidak sedang berbicara dengan kamu! Sekarang kamu Fazrin! Apakah pantas seseorang yang sudah dijodohkan dengan perempuan, jalan dengan perempuan yang berbeda?!!" sentaknya, kemudian bertanya kepada Fazrin.

Fazrin hanya diam, ia bingung harus berbuat apa. Toh jika berbicara pun tak pernah didengarkan.

"Jawab Fazrin!! Apakah ayahmu ini mengajarkan untuk seperti itu?" sentaknya lagi melihat putranya diam.

"Ya sudah lebih baik kita percepat saja pernikahan kamu dengan Mafka," tegas Bundanya.

"Ayah setuju Bun!"

"Tapi Aku ga-"

"Diam Fazrin! Tidak ada waktu lagi kamu untuk berbicara!"

Fazrin pun kesal dan mengepalkan tangan, namun ia memilih pergi dari ruangan itu menuju kamarnya.

Kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.

"Seandainya dia tau yang sebenarnya tentang perjodohan ini, mungkin ia takkan seperti ini!"

"Sudahlah Bun, Papa mu bilang untuk merahasiakan ini darinya. Mungkin dia akan menjadi lebih baik dari hari ini. Sungguh kita telah salah mendidik mereka dengan banyak harta. Papa mu lebih tau, mungkin dengan dia menikah tanggung jawabnya bisa menjadikan ia dewasa.
Dan menikah dengan wanita yang sedang menuju ridho-Nya akan membuat dia semakin menuntun istrinya untuk lebih taat!" jelas sang Ayah.

Mela hanya mendengarkan percakapan kedua orang tuanya dari kejauhan. Namun ia masih bingung sebenarnya apa alasan Kedua orang tuanya bahkan kakeknya menjodohkan Mafka dengan Fazrin?

Mela pun pergi menghampiri adiknya yang pasti sedang bersedih.
Setelah membuka pintu kamar sang kakak pun masuk.

"Kalo ngambek itu pintunya ditutup, kakak jadi bisa masuk kan!" kekehnya pelan. Namun lawan bicaranya tidak tersenyum sedikit pun.

"Kalo mau ledekin aku, mending kakak pergi deh!" titahnya tak ingin diganggu.

"Sewot aja, gini harusnya kamu gak kaya gitu sama kedua orang tua tau." melihat kearah Fazrin.

"Kakak bisa bicara begitu karena gak ada diposisi aku," ucapnya tanpa melihat ke lawan bicaranya itu.

"Mereka ingin kamu bahagia Az, mereka tidak mungkin menjodohkan kamu dengan perempuan sembarangan! Pasti ada kriteria khusus yang mereka nilai dari Mafka!?" ucap sang kakak.

"Bentar deh, kenapa kak Mel jadi setuju aku sama Mafka. Bukannya selama ini kakak terlihat nggak suka sama dia?" heran Fazrin dengan perubahan Mela yang terbilang cepat itu.

"Kamu memang bener! Awalnya dan sampai sekarang kakak belum suka sama Mafka. Tapi setelah kakak tau kakek juga yang ikut andil masalah perjodohan ini, kakak merasa Mafka punya daya tarik yang beda. Buktinya ayah, bunda, dan kakek itu sangat menginginkan perjodohan ini!" jelas Mela menceritakan perubahannya itu.

"Kakek?" kagetnya.

"Iya, dan you know lah. Kakek itu adalah orang yang sangat penuh dengan pertimbangan! Dan bukannya kamu pernah tinggal bersama kakek di desa sana?"

"Ya benar, kakek adalah orang pertama yang mengajariku tentang  ilmu agama. Ya meskipun sekarang aku tidak alim-alim banget!"

"Dan kamu bisa membuat ayah dan bunda sadar, bahwa harta bukan segalanya?! Dan kakak pernah menyesal tidak belajar ilmu agama sejak kecil, karena rasa malasnya itu banget-banget!!!"

"Sekarang kakak kan udah rajin ke pengajian buat belajar ilmu agama?"

"Ya, alhamdulillah. Semoga rasa malas itu akan hilang jika kita tahu nikmatnya beribadah," ucapnya menerawang.

Fazrin hanya tersenyum melihat kakaknya, ia senang kakaknya bisa berubah. Meskipun dirinya sendiri terkadang ogah-ogahan untuk pergi beribadah! Astagfirullah!

"Jadi gimana kamu mau kan terima Mafka demi kebahagiaan mereka?" tanya Mela meyakinkan Fazrin.

"Mafka memang orang yang sepertinya rajin apalagi dia berhijab. Tapi aku tau, Mafka sama seperti kak Mela--proses. Jadi apa pertimbangan mereka menjodohkan aku kak?" herannya.

"Mungkin kamu belum sepenuhnya mengenal dia Az!"

"Padahal aku punya calon yang sangat taat beribadah kak, tapi kenapa harus Mafka sih!" umpatnya.

"Perempuan kakaknya Nina--teman sekolah Caca? Yang tadi tatap-tatapan sama kamu terus ketauan Ayah?"

"Namanya Syafa, dia adik kelas ku waktu SMP. Kita udah pernah deket tapi saat SMA kita beda sekolah jadi ya kakak tau lah akhirnya!?" ucapnya menceritakan dengan semangat namun lemas saat ucapan terakhirnya.

"Jadi gitu? Terus ketemu lagi tadi waktu jemput Caca?" tanya Mela lagi.

"Dan aku rasa, aku cinta sama Syafa kak. Bahkan mungkin dari dulu sampai sekarang!" tegasnya.

"Emmm, mungkin ini takdir Az!"

"Aku ketemu sama syafa?" semangatnya.

"Takdir kalo kalian itu tidak berjodoh," tandasnya.

"Loh? Kok gitu sih kak!" ucapnya tidak terima.

"Karena pada akhirnya, kamu akan menikahi Mafka bukan Syafa Az," canda kakaknya.

"Apaan sih kak!!"

"Ya betul dong? Karena kamu sudah dijodohkan dengan Mafka! Bahkan pernikahan kalian akan dipercepat!"

"Lebih baik kakak ku tersayang ini keluar ya?! Daripada di sini malah membuatku pusing." menarik tangan kakaknya ke arah pintu.

Sebelum menutup pintu, kakaknya kembali menahan itu.

"Tunggu-tunggu!!" menahan pintu.

"Percaya sama kakak kalo jodoh itu gak akan kemana Az! Kalo kamu gak jodoh sama Mafka, bisa aja pernikahan batal bahkan pada saat hari-H. Jadi, menurut kakak, terima aja nikah sama Mafka siapa tau gagalkan!"

"Duhhh. Aku gak mau percaya sama kakak! Musyrik!" berhasil menutup pintu kamarnya.

Mela pun tersenyum melihat Fazrin seperti itu! Menjahili adiknya itu memang gampang.

Sedangkan Fazrin yang sebenarnya tidak ingin mendengar ucapan kakaknya, malah memikirkan itu.

"Ada benarnya juga kak Mela, apa aku setuju aja? Siapa tau memang gagalkan?" menimang omongan Mela.

"Tapi kalo.... " ucapannya tidak ia lanjutkan.

Fazrin pun semakin frustasi, ia mengacak rambutnya yang tidak gatal. Kemudian ia merebahkan diri ke kasur king size nya, sebelum benar-benar terlelap ia berdoa.

"Semoga kau menjodohkanku dengan Syafa Ya Allah." kemudian ia benar-benar terlelap.

Bersambung ...

Gimana? Maaf jika tidak sesuai ekspetasi kalian🙏

Maaf juga kalo tidak nyambung🙏😓

Tapi jika kalian suka, vote jika berkenan💙❤

Abaikan jika tidak bermanfaat bagi kalian! Setidaknya bisa mengisi waktu luang😀

Harapku HadirmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang