34-📝 Rasa

48 3 0
                                        

Melihatmu menangis hanya akan menambah luka yang diderita.

-Fazrin Rafando Putra-

Tempat ini begitu kacau, semua berantakan. Bahkan saat masuk ia dihadapkan pada beberapa pecahan kaca yang begitu memenuhi tempat ini.

Perlahan ia mendekat, terlihat seseorang tengah menundukan kepala dengan tangan yang berada di pelipisnya. Secangkir kopi yang masih mengepul berada tepat di depannya.

Ia mulai mendekat, hingga saat berada tepat di sampingnya ia tertegun begitu kacaunya orang yang dicintainya itu.

"Kak Fazrin..."

Bibirnya kelu.

Mafka tak bisa lagi menahan air mata di depan laki-laki ini. Tangannya ia gunakan untuk menutupi mulut yang tak menyangka kejadian ini menimpa suaminya.

Fazrin melihat air mata itu lagi, hatinya merasa teriris. Sudah lama ia tidak berada sedekat ini dengan perempuan itu.

"Mafka?" tanyanya memastikan.

Mengangguk. Dengan isakan ia pun berusaha mengatakan sesuatu.

"Maaf, maaf kalo aku gak pernah tahu masalah ini. Maaf juga karena kemarin malam aku kasar sama Kak Fazrin. Maaf juga karena aku gak bisa berbuat apa-apa. Maaf juga..." Mafka terdiam melihat Fazrin menatapnya dalam diam juga.

"... Aku sekali lagi minta maaf, hiks.. Hikss... Hikss... Ma-af," ucapnya.

Entah keberanian apa yang membuat seorang Fazrin menarik gadis itu mendekat. Memeluknya, untuk menyampaikan luka yang ia hadapi selama ini.

Mafka pun terperanjat akan pelukan itu, tapi dari sana ia merasakan sebuah luka yang begitu menyulitkan.

Air mata pun akhirnya mengalir dari mata seorang Fazrin. Entah kenapa pelukan ini membuatnya ingin menangis, menumpahkan apa yang tidak bisa ia lakukan dihadapan semua orang, menangis!

Setelah beberapa menit, akhirnya Fazrin mengurai pelukannya. Dan kini mereka duduk bersama dengan Mafka yang sedang mengobati luka dipelipis suaminya.

Hening terjadi.

"Boleh aku obati?" tanya Mafka memegang pelipisnya.

Dengan cepat ia menjawab, "boleh." akhirnya Mafka mengobati luka itu.

Mafka masih ingat, ada kotak P3K di sekitar sudut. Dan benar memang, meski jarang pergi ke sini lagi tapi tempat ini masih belum berubah.

Kecanggungan pun terjadi kembali, terlebih mereka adalah dua orang yang pernah perang dingin.

Fazrin menatap perempuan yang berstatus istrinya dengan rasa bersalah yang semakin hari semakin besar.

"Saya minta maaf." Mafka tak begitu menghiraukan perkataan Fazrin ini, sebab masih sibuk membereskan peralatan P3K.

Huh.

Tangan itu ia pegang, untuk memberhentikan Mafka dari aktivitas yang mungkin sengaja dilakukannya.

Mafka terperanjat saat tangan itu memberhentikan aktivitasnya. "Kak?" tanyanya mencoba melepaskan tapi tak bisa.

Harapku HadirmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang