Ada yang mengenalmu jauh hari, juga ada yang mengenalmu baru dan sama-sama memiliki rasa.
Sudah berulang kali ia menghubungi seseorang tapi hasilnya selalu sama. Tidak pernah dijawab.
Bahkan saat mencari di tempat yang seharusnya ada, dia malah tidak ada.
Apa dia sudah pulang?
Tapi kenapa tidak memberitahu dan menyuruhnya datang menjemput?
Dan kalo di rumah kenapa ponselnya tidak aktif?
Fazrin melajukan mobil dengan cepat untuk pergi ke rumah, bukan apa-apa ia takut dengan keadaan istrinya.
Boleh saja dong ia khawatir?
Khawatir?
Sejak kapan seorang Fazrin mengkhawatirkan Mafka?
Oh, itu tidak masuk akal.
Tapi semakin Fazrin menyangkal segala pemikiran itu, ia malah semakin takut terjadi apa-apa.
Drttt... Drttt... Drttt...
Dengan sigap Fazrin mengangkatnya, ia tidak melihat layar dan berpikir kalo itu adalah istrinya.
"Kamu di mana?" tanya Fazrin kepada si penelepon.
"Apaan kamu Az, masa manggil bunda gitu." jawab seseorang.
Fazrin merasa ada yang salah, ia pun melihat layar handphone dan benar saja dirinya salah menduga. Ternyata itu adalah...
"Assalamualaikum Bun."
"Waalaikumsalam, kamu kenapa Az?"
"Gak Bun, cuma Az pikir bukan dari bunda."
"Terus dari siapa? Oh bunda tau kamu lagi nunggu telepon dari Mafka ya?"
"Bundaaa..."
"Iya-iya, oh iya kapan kamu mau ke Jakarta lagi Az?"
"Ada apa Bun? Bunda sakit?"
"Duh kamu itu kebiasaan, masa pulang ke rumah bunda cuma karena ada sesuatu! Sengaja main kek, atau bawa kabar gembira kek."
"Maaf Bun, kalo kabar gembira aku ada Bun!"
"Apa?"
"Aku lagi mau punya rencana buat cafe lagi,kayak cabang gitu, dan nanti tempatnya tuh..." cerocos Fazrin terhenti sebab Bundanya memotong kalimat itu.
"Bukan itu dong kabar gembiranya Az!"
Fazrin mengernyit tidak paham dengan maksud dari Sang Bunda.
"Ya terus apa dong bun?"
"Cucu!"
"Bunda kan udah ada Caca apalagi nanti adiknya Caca akan lahir." Fazrin mencoba mengalihkan.
"Ya itu semua dari Mela bukan dari kamu Az!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Harapku Hadirmu
Espiritual#3 fazrin 24/06/2020 #2 fazrin 13/08/2020 Mafka Malihah Farha, seorang perempuan yang selalu berharap pada lelaki yang tak pernah mengharapkannya. Ia lelah selalu memberi hati! Namun, suatu hari ia dipertemukan dengan lelaki yang diharapkannya! Buk...
