20-📝 Ada apa ini?

30 4 0
                                        

Bila memang kami berjodoh, permudahlah semuanya Ya Rabb.

Fazrin pun melihat sekeliling kampus dan kelas yang sering Fabian datangi, tapi nihil. Fabian mungkin tidak masuk hari ini.

Ia pun memutuskan untuk pergi ke cafe dan menghubungi seseorang yang mengiriminya pesan.

Hari semakin panas, sebenarnya mereka ingin bergegas pulang tapi karena ada penawaran dari Ilyasa untuk makan tentu saja ia tidak menolak.

"Duhh, gini dong pak dosen! Traktiran terus ya!" Nadya memasang muka manisnya.

"Eh busyet! Jangan di manis-manisin deh mukanya, gak cocok!"

"Yehh, awas ya kalo gak lagi di traktir gue kibarin bendera perang!" kembali melahap mie ayam pesanannya.

"Kalian ini, ribut terus. Sehari aja gak ribut kenapa sih?" Mafka mencoba membuat mereka bisa akur tidak hanya untuk hari ini.

"Duh sulit Maf, tapi tenang aja ribut kita ini gak akan mengeluarkan darah kok!"

Nadya hanya mengangguk setuju, dan Mafka pun kembali fokus kepada mie ayam nya.

"Oke, awas ya itu cuma becandaan!" Mafka kembali melahap makanannya.

Nadya memperhatikan mangkuk sahabatnya itu yang tidak tersentuh oleh sambal atau saus. "Maf, tumben gak pake sambal atau saus?" Mafka pun mendongak mendengar pertanyaan itu.

"Ya, semenjak keluar dari rumah sakit. Kak Fazrin itu bawel banget, dan larang buat makan makanan pedes." Mafka melahap kerupuk yang ia ambil.

"Wah, kakak lo perhatian juga ya tapi sayang kalo ketemu sama gue kayaknya benci banget. Aneh gue!" kedua perempuan di sana hanya terkekeh pelan.

"Wah bagus dong Maf, berarti dia itu emang takut kehilangan kamu. Progres yang bagus loh!" semangat Nadya.

"Eh, ya iyalah Kak Fazrin itu gak mau kehilangan Mafka, mereka kan saudara. Mana ada kakak yang ingin adiknya sakit." kembali kedua perempuan terkekeh sambil pura-pura minum agar Ilyasa tidak bingung.

"Duh, Yasa mana ada sih kakak yang jahat sama adiknya." Mafka mencoba menyambungkan perkataan Ilyasa.

"Tuh bener kan. Emang ya Nadya ini aneh pemikirannya!" ucapnya sedikit berbisik namun sangat terdengar jelas oleh sang empu.

"Ehh, pak dosen diamlah! Denger ya, Kenapa Kak Fazrin kelihatan benci banget sama bapak? Itu karena dia tahu kalo pak dosen ini bukan orang yang baik!" balas Nadya yang kemudian mereka memulai perdebatan lagi.

"Ehh, enak aja! Bayar sendiri sana!"

"Ih ogah, kalo janji itu harus ditepati! Kalo gak berarti pak dosen punya salah satu ciri orang munafik!"

"Enak aja!"

"Emang bener kok!"

Mafka hanya terkekeh pelan.

"Duhhh, awas ya! Kali ini kamu benar, tapi bukan berarti saya kalah!"

Mafka hanya mengacungkan jempol ke arah Ilyasa. "Bodo amat pak dosen!" Nadya kembali berbicara membuat Ilyasa mengusap dada.

Harapku HadirmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang