8-📝...

46 8 13
                                        

Ketahuilah aku akan tetap mendoakanmu agar selalu bahagia meskipun kau membenciku

Mafka masuk dan mulai menaiki tangga, setelah salat ia pun akan memasak. Untung tadi ia melihat ada pasar, dan Ilyasa mau mengantarkannya belanja terlebih dahulu.

Dan sekarang ia bisa masak, untuk sang suami. Terlebih mengambil hatinya, semoga dengan ini ia tidak akan bersikap cuek dan ketus lagi.

Waktu menunjukkan pukul 17:00.

Waktu memasak di mulai.

Dengan cekatan ia mulai mengolah bahan-bahan yang ia beli. Memotong bawang merah, bawang putih dan cabai merah.

Kemudian memanaskan air untuk ia isi pada termos. Suara bising pun ia tampilkan pada saat air itu menyembur wajan berisi tumis bahan yang sudah ia potong dan bahan yang ia ulek.

Menunggu sedikit mendidih, ia akhirnya memasukkan bahan utama. Sebuah mie instant masuk tenggelam dengan bumbu lainnya, setelah itu kecap manis juga menambah warna masakan.

Ia mencicipinya dan sudut bibirnya terangkat. Ia pun mematikan kompor setelah itu menuangkan masakannya ke dalam mangkuk besar.

Tak sampai di situ, sekarang ia memanaskan minyak pada wajan. Setelah menunggu beberapa saat ia kemudian meluncurkan paha ayam yang sudah ia beri terigu.

Membolak-balikkan paha ayam itu beberapa menit, akhirnya ia mengangkatnya. Meniriskan terlebih dahulu pada saringan gorengan.

Huhhh, untung peralatan masaknya lengkap. Apa Fazrin suka memasak? Padahal ia tinggal di sini sendirian bukan?

Tapi melihat peralatan di dapur ini begitu lengkap.

Suara adzan menggema, bertepatan dengan selesainya kegiatan memasak itu. Mafka bergegas menuju kamar atas setelah ia menyajikan semua hasil masakan di meja makan.

Beberapa jam kemudian...

Mafka mondar-mandir di depan pintu masuk, ia menunggu fazrin yang sudah lewat jam delapan malam masih belum pulang.

Meja makan masih utuh, Mafka ingin makan bersama suaminya sehingga ia menunggu meski harus kelaparan.

"Duhh, hubungin siapa coba?" ucapnya khawatir.

"Kenapa gak ada nomer yang bisa ditanyain soal Kak Fazrin?" ocehnya sambil memainkan ponselnya.

Kryukk...  Kryukkk...

Suara perutnya terdengar nyaring, ia pun lantas memegangi perut. Rasa lapar semakin menjadi namun ia enggan , sebab rasa khawatirnya membuat tidak tenang.

Ia memilih duduk di sofa, kemudian tanpa sadar ia terus menguap. Rasa lapar kini terganti menjadi lemas, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur sejenak. 

🐚🐚🐚

Fazrin memberhentikan mobilnya tepat di garasi, ia berjalan gontai karena merasa lelah.

Tapi saat masuk ternyata seseorang tengah tertidur di sofa. Ia mendekat, kemudian membangunkan orang yang sedang tertidur itu.

"Oyy, bangun!"

Orang itu menggeliat, namun tak lama membuka mata. "Alhamdulillah, akhirnya pulang juga kak." Ia langsung memeluk lengan Fazrin tentu saja langsung ditepis oleh lelaki itu.

Harapku HadirmuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang