37-📝Harus Bisa.

31 2 0
                                    

Jika kita jalan sendiri, rasanya memahami diri sendiri itu begitu kuat.

Jadi kalo sendiri saja seharusnya bisa, kenapa harus malu?

Terkadang hidup selalu memaksa kita untuk melakukan apa yang sebenarnya dilakukan orang lain.

Lalu lalang manusia di salah satu tempat ini, membuat Mafka tersenyum teringat masa SMA nya. Begitu ingin pergi ke tempat ini, nongkrong dan menikmati kebersamaan itu dengan orang lain. Dengan sahabat, Ardan pernah mengajaknya. Tapi bukan itu yang diinginkan.

Matanya melihat seorang perempuan dan laki-laki yang tengah berjalan bergandengan mesra. Ia menggeleng, masih menggunakan seragam ternyata.

Dulu, ia yang menginginkan itu semua. Mungkin kedua insan itu juga punya gejolak yang sama sepertinya dulu.

Mafka berjalan sedikit, mendekati sebuah kursi kemudian mendudukinya. Teringat kembali pencariannya, Mafka menghela napas.

Ia sudah menunggu waktu itu. Waktu di mana ia bisa bertemu dengan orang tua kandungnya. Ia ingin melihat senyum dan wajah orang yang telah melahirkannya, ia juga ingin melihat sosok lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Hanya ingatan kecil yang entah ilusi atau bukan selalu ada dalam mimpinya.

Pelukan mereka yang 20 tahun lalu begitu erat, bagaimana cara mereka tersenyum di saat kesulitan yang akhirnya memaksa mereka meninggalkan balita yang tidak pernah terpikir harus ditinggal pergi?

Itu yang selalu terasa meski masih buram. Ia tidak bisa mengingat wajah mereka. Bukannya ia punya amnesia, tapi karena saat itu masih terlalu dini.

Air mata lolos dari pelupuk matanya, begitu sakit harus kehilangan seorang anak yang begitu ditunggu kelahirannya. Begitu berat hati mereka harus kehilangan putri pertama mereka.

Drttt... Drttt... Drttt...

Suara ponsel membuat Mafka mengusap air mata, mencoba menstabilkan suara agar tak diketahui oleh si penelepon.

"Assalamualaikum," ucap si penelepon.

"Waalaikumsalam." Mafka menjawab sambil pergi ke sebuah restoran, karena perutnya sudah keroncongan.

"Sayang, kamu dimana?"

"Ini Bu, Mafka masih di supermarket." Langkah kakinya terhenti, ia memilih memutar arah dan pergi ke luar ruangan.

"Pulang ya, Ibu mau makan siang sama kamu." Mafka tersenyum, benar saja. Mafka memilih tidak jadi makan di restoran, karena ia sudah yakin kalo ibunya akan mengajak makan siang.

"Maf, kok diam?"

"Iya, nanti kita makan siang bareng. Mafka sekarang lagi nunggu taxi kok."

"Syukur sayang, oke hati-hati ya."

"Iya Bu," ucap Mafka, tak lama ibunya mematikan panggilan.

🐚🐚🐚

Mobil yang mengantarkan Mafka pulang pun berhenti, tepat di rumah sang ibu. Ia masuk dan langsung menuju ke ruang makan, di mana sang ibu pasti tengah menunggunya.

Harapku HadirmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang