38: Deep

254 22 0
                                        

"ngomongin apa sih? Seru banget kayaknya" tanya Elsa yang baru datang bersama Dava.

"Nggak ada" jawab Sari

Elsa terkekeh "masa?" Tanya nya sembari duduk di sebelah Hana

"Sa kamu mau pesan apa? Biar aku yang pesan" Tanya Dava sembari mengelilingkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin yang begitu ramai

"Enggak deh Dav. Aku kan udah makan tadi, dibuatin roti bakar selai cokelat sama mama" jawab Elsa.

"Susu cokelat?"

"Enggak. Aku masih kenyang"

"Cokelat beneran?"

"Enggak. Cokelat aku masih banyak di rumah" jawab Elsa lalu menatap Hana dan Sari secara bergantian.

Dava menurut apa kata Elsa. Siang ini Dava sudah berencana untuk mengikuti mata kuliah yang akan dijalani oleh Elsa, seperti tempo hari yang sudah lalu.

Berbagai hal dibicarakan oleh Elsa dan kedua temannya. Mulai dari bergosip tentang kakak tingkat yang sedang mendekati Hana, menggosipkan teman sekelasnya yang sedang terkena konflik dengan mantan pacarnya Minggu kemarin, dan juga mengenai dosen yang memberikan tugas seabrek dan tanpa memberi materi. Dava disini hanya sebagai pendengar sembari menatap lekat Elsa yang kadang tertawa, kadang menimpali apa yang kedua temannya ucapkan. Dava menatap Elsa dengan lembut, seperti laki-laki yang baru jatuh cinta pada seorang perempuan.

Tatapan yang hangat tiba-tiba bisa menjadi candu untuk Sari. Meskipun tatapan Sari mengarah bergantian ke Elsa dan Hana. Tapi ekor mata Sari memperhatikan setiap gerak-gerik yang Dava lakukan.

Yang ditatap Elsa, tapi yang merasakan kehangatan dalam hatinya justru Sari.

Hana memperhatikan mata Sari yang sesekali melirik ke arah Dava. Sampai pada akhirnya Hana menginjak kaki Sari sebagai kode agar Sari menghentikan lirikan aneh tersebut. Hana tidak ingin jika Elsa atau Dava menaruh curiga pada Sari dan malah banyak menerka-nerka.

"Aduh" ucap Sari

"Maaf nggak sengaja Sar" ucap Hana sembari mengode menggunakan matanya.

Sari berdecak kesal "iya nggak papa"

"Hana, kok nggak dilihat sih" ucap Elsa sembari menunduk ke bawah meja, melihat tangan Sari yang memegangi flat shoes di kakinya.

Telapak tangan Dava secara otomatis langsung menutup sisi bawah meja, agar jika Elsa mendongak maka ubun-ubun nya tidak akan sampai terbentur. Dava mencegah hal seperti itu terjadi.

"Maaf ya Sar" ucap Hana dengan wajah menyesal yang dibuat-buat

"Iya santai aja Han" jawab Sari yang sudah mengerti maksud dari kode yang Hana berikan.

"Sa hati-hati kalau angkat kepala" ucap Dava saat Elsa akan kembali mengangkat kepalanya ke atas.

"Terimakasih" ucap Elsa pada Dava.

Jika ditanya, apakah Sari juga ingin di perlakukan seperti itu. Maka jawabannya adalah iya. Sari iri dengan setiap kedekatan di antara Elsa dan juga Dava. Sari menginginkan ada 1 laki-laki yang memperlakukan wanita seperti itu, dan Sari akan menemukannya.

"Bentar ya" pamit Dava kemudian melenggang pergi memasuki salah satu stand kantin yang menjual berbagai nasi.

Elsa melanjutkan pembicaraan nya lagi yang sempat terpotong karena Hana yang menginjak kaki Sari.

"Emang iya? Masa viral sama mantannya masih aja kuliah" ucap Sari yang menanggapi kasus teman sekelasnya yang sedang santer dibicarakan satu jurusan.

"Ya iyalah. Kalau nggak kuliah, nanggung kali. Udah semester 3 mau semester 4 dan bentar lagi mau ujian" ucap Hana.

"Bener, kan sayang kalau harus keluar hanya karena berita itu. Lagian belum tentu kalau dia seperti itu. Belum ada buktinya. Cuma gosip aja" timpal Elsa dengan suara pelan. Takut jika teman sekelas yang sedang mereka gosipkan ada di sekitarnya.

Selang beberapa waktu, Dava datang dengan membawa dua bungkus roti berisi selai cokelat dengan kemasan transparan beserta sekotak susu rasa serupa yang di produksi oleh pabrik Indonesia.

"Nanti jangan lupa di makan" ucap Dava sembari memasukkan roti dan susu ke dalam tas milik Elsa tanpa penolakan. Karena Elsa tau, jika Dava di tolak maka Dava akan semakin memaksa. Terlebih jika masalah makan seperti ini. Dava tidak akan tinggal diam kalau Elsa melupakan makan dan istirahat.

"Makasih Dav" ucap Elsa dengan ujung bibir yang ditarik membentuk senyuman.

"Sama-sama sayang" ucap Dava lembut

Suara riuh kantin begitu terdengar nyata di telinga, berpuluh-puluh mahasiswa sedang nongkrong dan menghabiskan waktu di kantin yang memiliki fasilitas paling lengkap di kampus ini. Bisa saja mahasiswa yang ada di kantin sekarang bukan sepenuhnya mahasiswa fakultas kedokteran. Contohnya seperti Dava yang berasal dari fakultas hukum, kini malah duduk di kantin fakultas kedokteran.

***

Mata Elsa tidak pernah berhenti melihat sekitarnya, memandangi setiap mahasiswa yang sedang berdiri di lobby dan berbicara dengan mahasiswa lainnya. Tangan Elsa kini di genggam oleh Dava, seolah Dava tidak mau jika sampai Elsa terlepas atau memiliki celah untuk membuat jarak dengannya. Elsa benar-benar menyukai Dava yang begitu lembut seperti ini.

"Masuk sayang" ucap Dava sembari membuka pintu mobil sebelah kiri untuk Elsa.

Meskipun sudah berulang kali Elsa mengatakan jika Elsa bisa membukanya sendiri, tapi tetap saja Dava selalu membuka pintu mobil untuk Elsa, memasang sabuk pengaman dan saat mereka mengendarai motor, maka Dava selalu memasang dan melepas helm dari kepala Elsa tanpa merusak tatanan rambut yang sudah Elsa rapikan sebelumnya.

"Oh iya Dav aku mau ngomong" ucap Elsa tiba-tiba. Mobil Dava sudah menjauh 500 meter dari kampus.

"Ngomong aja sayang. Aku selalu seneng kalau dengerin kamu ngomong" ucap Dava

Elsa bergumam, nampak berfikir begitu banyak "kamu jangan memperlakukan aku dengan spesial atau berlebihan kalau kita lagi di depan temen-temen aku. Aku nggak mau mereka merasa kayak jadi obat nyamuk kita Dav" ucap Elsa

Dava tersenyum kemudian mengusap puncak kepala Elsa dengan lembut "apanya sayang yang berlebihan. Bukannya dari dulu aku memang seperti ini, kenapa baru protes sekarang. Lagi pula kalau mereka merasa jadi obat nyamuk, mereka pasti pergi gitu aja. Buktinya kalau aku nimbrung, mereka fine fine aja sayang. Dan sikap aku ke kamu mau di rubah bagaimana pun nggak akan bisa. Ini udah karakter yang nempel di diri aku. Kamu jangan overthinking ya" ucap Dava kemudian menggenggam punggung tangan Elsa dan mengecupnya sekilas.

"Kamu cantik" puji Dava

"Nggak usah gombal deh. Aku lagi serius"

"Aku juga serius Elsa. Kamu kira aku bohongan?" Tanya Dava lalu tertawa terbahak

"Mana ada serius bisa ketawa gitu"

"Maaf sayang. Soalnya kalau di sebelah kamu itu bawaannya seneng terus. Nggak ada sedihnya sama sekali"

"Terus aja mas gombalnya. Boleh boleh"

"Mau di gombalin?" Tanya Dava serius. Elsa malah menjitak kepala Dava dengan sedikit keras

"Enggak sama sekali. Mending buruan pulang dan gue mau tidur" ketus Elsa lalu memalingkan wajahnya keluar jendela

"Idih galak banget. Jutek tapi cute" goda Dava.

Elsa tersenyum begitu tipis, tidak terlihat sama sekali karena bibirnya tidak terangkat. Jika masalah menggombal, maka Dava adalah juara utamanya.

Memenangkan setiap inci dari hati Elsa, penenang untuk Elsa dan juga menjadi teman sekaligus sahabat bagi Elsa. Paket lengkap yang tidak akan pernah Elsa dapatkan dari siapapun. Selain dengan papa nya sendiri.

Dava & ElsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang