13: Annoyed

282 22 0
                                        

Dava diam menatap laptop yang ada di depannya. Otaknya terlalu lelah setelah menghafal beberapa pasal. Dan sekarang ia sudah dihadapkan dengan tugas individu yang harus dikumpulkan besok.

Membuat contoh kasus beserta pasalnya lalu di beri kesimpulan dan penyelesaian. Dava berulang memijat pelipisnya yang tidak bisa berfikir banyak.

Pintu kamar Dava di ketuk secara tiba-tiba saat Dava baru saja memberikan nama tokoh pada contoh kasusnya.

"Masuk" ucap Dava.

Pintu di dorong, ada Diva yang datang dengan membawa sepiring nasi dan segelas air putih. Vanya pasti menyuruh Diva untuk mengantarkan ke kamar Dava lantaran sejak sore Dava tidak juga keluar kamar, memikirkan tugasnya hari ini.

"Kata mama, kak Dava makan dulu. Kalau pusing berhenti sejenak. Nggak usah terlalu dipaksain" ucap Diva sembari menaruh piring di atas nakas

Dava bergumam "makasih Div" ucap Dava.

Diva mengangguk mengiyakan lalu mendekat ke arah kakaknya. Melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Dava sampai membuat Dava tidak sempat untuk memberi makan pada dirinya sendiri.

"Perlu Diva bantuin?" Tanya Diva

"Bantuin apa? Emangnya bisa? Masih SMA juga" ucap Dava. Diva dan Dava terpaut usia 2 tahun. Dava lebih tua dari Diva.

Diva cengengesan "nggak bisa. Diva pahamnya sama rumus kimia, rumus fisika. Basa-basi aja sih biar image Diva itu baik di mata kak Dava" ucap Diva tanpa rasa berdosa

"Gue udah lupa sama itu semua. Udah ganti jadi pasal sama undang-undang" ketus Dava lalu menatap kembali buku yang masih kosong di depannya.

"Ya udah kalau gitu Diva keluar. Kak Dava jangan lupa makan" pamit Diva kemudian melenggang pergi

Otak Dava terus berputar mencari kasus yang mungkin bisa ia jadikan contoh. Tapi sayangnya, otak Dava harus buntu di tempat dan tidak menemukan jawaban apa-apa. Yang ada justru semakin pusing.

"Perbuatan tidak menyenangkan. Elsa kan sering ngomel, galak. Bisa kali ya di jadiin contoh kasus. Terus solusinya di beliin Cokelat. Udah beres. Pasal 335 ayat 1. Penyelesaian jalur kekeluargaan, bukan jalur hukum" gumam Dava pada dirinya sendiri. Dava hendak menuliskan apa yang ada di otaknya namun di tahan, ia tidak mungkin merealisasikan pemikiran gila itu ke atas kertas. Yang ada malah di tertawakan oleh dosennya nanti.

"Gue coba tanya anaknya Ratu Iduna aja deh" ucap Dava sembari mengambil ponsel dari sebelah tumpukan buku. Dava menatap nama Elsa yang sudah ia sematkan di chat paling atas lalu menekan tombol telepon.

"Halo Dav ada apa? Tumben nelpon malem-malem" tanya Elsa.

Jika ada yang bertanya kenapa Elsa disebut anak Ratu Iduna. Tentu karena Dava selalu menganggap jika pacarnya tersebut adalah karakter film Frozen. Dan mama Elsa adalah Ratu Iduna.

"Mau nanya yang. Eh gak deng, bantuin mikir maksudnya" jawab Dava cengengesan. Elsa tidak bisa melihat gigi rapi Dava, hanya mendengarnya saja.

"Mikir apa? Negara? Karakter Frozen 3? Atau apa?" Tanya Elsa bertubi. Lantaran biasanya Dava selalu menanyakan hal di luar nalar.

"Cariin contoh Kasus dong Sa, sama pasalnya sekalian terus penyelesaiannya" ucap Dava

Terdengar Elsa menghela nafasnya panjang kali ini.

"Gampang aja. Kasus pencurian, cari pasalnya. Terus penyelesaiannya itu di hukum sesuai undang undang yang berlaku dengan tujuan membuat jera pelaku. Gitu aja kok repot" ucap Elsa

"Pencurian ya" ucap Dava lalu bergumam panjang sembari memikirkan pasal berapa yang akan ia gunakan "pasal 362 KUHP" sambung Dava saat otaknya mampu mengingat pasal yang sudah ia hafalkan.

Dava & ElsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang