Mobil milik Dava terparkir di depan kos-kosan yang berada di tepian kota. Seusai pulang dari rumah Elsa, Dava tidak langsung pulang. Tetapi datang ke kos milik Martin dan sudah janjian di telepon. Sedangkan Darwin sudah datang lebih dulu sejak satu jam yang lalu. Sahabat semasa SMA nya itu memang tergolong orang yang tidak begitu waras. Tapi mungkin bisa menghilangkan bintik-bintik cemburu dalam diri Dava saat ini.
Meskipun sudah berusaha Dava menghapus cemburu dalam dirinya. Tetap saja manusia bernama Arion itu berhasil mempengaruhi urat cemburu dalam diri Dava.
Dava menggendong ranselnya lalu masuk ke dalam area kos dengan pagar warna hijau setinggi dada. Suara berbagai jenis cowok yang beraneka ragam sudah menjadi rutinitas disini. Kos cowok dengan fasilitas super lengkap tapi tetap ada yang berteriak-teriak, menjerit-jerit dan memutar musik sekeras mungkin seolah dunia ini miliknya sendiri.
Tidak mempedulikan suara-suara yang masuk ke dalam telinganya, Dava lurus masuk lalu naik ke lantai 2 dimana kamar Martin berada.
Jika di tanya kenapa Martin kos padahal Martin kuliah di Jakarta. Jawabannya adalah sebagai ganti basecamp mereka yang baru, lantaran basecamp lama mereka saat SMA adalah di rumah Kemal. Sedangkan Kemal sekarang berkuliah di Malang, pulang hanya saat liburan semester saja. Martin juga jarang menempati kos ini, jika ia tidak benar-benar ingin.
Tanpa mengetuk pintu, Dava langsung masuk ke dalam kamar Martin di nomor 10. Martin dan Darwin yang duduk bersebelahan tidak kaget dengan kedatangan Dava.
"Makan dulu Dav" ucap Martin sembari menunjuk pizza yang ada di lantai menggunakan kakinya. Tangan Martin memegang ponsel dan sedang ranked bersama dengan Darwin. Tumben akur
Pizza yang di bawa oleh Darwin untuk camilan sampai sore.
Dava mengangguk saja lalu beralih menatap beberapa buku yang berserakan di depan tv. Buku fisika bangunan, utilitas bangunan dan struktur kontruksi bangunan bertingkat rendah. Dava bisa menebak jika itu adalah milik Martin. Dan pertanda jika Martin baru saja selesai kuliah.
"Dar lo nggak kuliah?" Tanya Dava
Martin berdecak "nggak kuliah apanya. Gue yang jemput dia di kampus. Berasa jadi sopirnya si Dadar" gerutu Martin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Orang yang dibicarakan malah cengengesan tanpa rasa berdosa. Hari ini Darwin sedang malas untuk naik taksi. Dan sekaligus sebagai penghemat ongkos, Darwin pun menyuruh Martin untuk menjemputnya. Meskipun harus ada drama ribut di sepanjang perjalanan.
"Nyusahin terus" sambung Martin
"Lo nggak kuliah Dav?" Tanya Darwin
"Baru pulang dari rumah Elsa. By the way gue tadi kesini mau minta pendapat lo berdua" jawab Dava
"Tunggu 5 menit lagi. Gue bakal hancurin semua tower" ucap Darwin serius.
Dava menghela nafasnya panjang. Jika ingin di dengar maka Dava perlu menahan ceritanya untuk beberapa saat. Lagi pula teman kuliahnya juga tidak sedekat Dava dengan Darwin seperti ini. Hanya mengenal dan sedikit akrab.
Selang 6 menit seusai itu Darwin dan Martin sudah selesai bermain game dan menang. Membuat kedua orang itu langsung bertos ria dengan kompak, seolah mereka dekat dan akur.
"Jadi lo mau cerita tentang Diva atau Elsa?" Tanya Martin yang mulai hafal dengan tema curhatan dari Dava
"Elsa" jawab Dava
"Kenapa lagi dia? Ngambek? Mau cokelat? Mau jemput? Mau pulsa?" Tanya Darwin bertubi. Dava menatap tajam sahabatnya tersebut. Hal yang di tanyakan Darwin sama sekali belum pernah dilakukan oleh Elsa. Kecuali minta cokelat dan ngambek.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dava & Elsa
Chick-Lit(Sekuel Backstreet) Mencintaimu bukan lah cara menciptakan sebuah pelangi, tapi tentang cara terkuat untuk menghadapi badai. (Dava) Langit tak selalu biru, mendung tidak selalu datang hujan, sore tidak selalu akan jingga, dan hidup tidak selamanya a...
