Sedari tadi Elsa terus saja memperhatikan Bu Wina - dosen Histologi Veteriner I yang sedang menerangkan tentang dasar histologi dan metode-metode pendekatan yang digunakan dalam mempelajari histologi pada struktur dan komponen-komponen pembentuk jaringan organ dan sistem organ tubuh seperti sel, jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan lemak, tulang dan tulang rawan, darah, otot dan syaraf.
Sesekali Elsa mencatat presentasi yang dilakukan oleh Bu Wina sendiri. Mengabaikan Hana dan Sari yang sibuk bergosip di belakangnya. Meskipun Elsa mendengar yang mereka bicarakan, mengenai mantan Hana yang mendapat pacar baru dan lebih cantik dari Hana. Akan tetapi Elsa sama sekali tidak tertarik dengan hal itu.
"Di akhir mata kuliah ini. Sesuai dengan yang ibu sudah jelaskan kepada kalian. Ibu akan mengadakan kuis. Dan sudah ibu bagi Per-materi nya. Kelompok 2 orang dan di kumpulkan secara individu di email ibu. Batas waktu besok lusa jam 12 siang, jika telat kalian tau sendiri akibatnya. Sudah saya terangkan di awal kontrak kuliah. Sampai disini pertemuan kita Minggu ini dan sampai jumpa di materi Minggu depan" ucap Bu Wina kemudian beranjak pergi tanpa mengindahkan ucapan para mahasiswa nya yang meminta kelonggaran waktu. Tugas mata kuliah lainnya masih menumpuk dan ini sudah di tambah lagi dengan tugas lainnya.
Tapi Bu Wina ini termasuk perfeksionis dibanding dosen-dosen yang lain. Jika telat mengumpulkan, maka akan di anggap tidak pernah mengerjakan, meskipun tugas yang sudah di kerjakan mendapatkan nilai A.
Elsa memasukkan binder dan alat tulis ke dalam tas nya karena mata kuliah sudah usai untuk hari ini. Hendak berdiri tapi Rendra sudah lebih dulu menghalangi langkah Elsa.
"Sa kita bisa kan kelompoknya hari ini? Pumpung masih siang dan bisa kan sekarang? Soalnya besok jadwal kuliah kita kan lumayan padat, dan banyak tugas lain juga yang udah numpuk. Gimana?" Tanya Rendra
"Elsa kita duluan ya" pamit Hana seusai merapikan buku-buku tebalnya. Sari ikut melambai ke arah Elsa sembari tersenyum
"Iya Han. Hati-hati di jalan" ucap Elsa pada kedua teman dekatnya itu.
"Gimana Sa?" Desak Rendra
Elsa berdecak, mengambil ponsel dari dalam tas dan mencari nama Dava yang ada di bagian paling atas. Elsa tidak berbasa-basi melalui chat, ia langsung menyambungkannya ke telepon agar lebih cepat dan Rendra berhenti untuk terus bertanya
"Halo sayang. Aku udah di parkiran fakultas teknik nih. Kan kamu bilang biar nggak banyak cewek yang lihat. Ya udah aku di parkiran fakultas teknik. Kamu udah selesai kelasnya?" Tanya Dava
"Udah Dav. Tapi aku mau kelompok sama Rendra ngerjain tugas kuis. Gimana? Kamu nggak papa pulang aja?" Tanya Elsa.
Terdengar deru nafas kecewa dari Dava "ya udah nggak papa. Kamu hati-hati ya di jalan. Bilangin sama Rendra. Kalau dia kebut-kebutan, aku akan bikin perhitungan sama dia" ucap Dava
"Beneran nggak papa?" Tanya Elsa meyakinkan. Elsa tidak mau jika sampai ada kesalahpahaman atau saling curiga dalam hubungannya.
"Nggak papa sayang. Apa aku perlu teriak dari sini biar kamu percaya?" Tanya Dava kemudian tertawa renyah.
"Nggak usah Dav" jawab Elsa. Dava tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika dia berkata akan teriak, maka akan teriak kalau Elsa mengiyakan saja.
"Ya udah aku matiin ya telponnya. Nanti kalau udah sampai rumah langsung kabarin ya sayang" ucap Dava
"Iya Dav" ucap Elsa lalu mematikan sambungan teleponnya.
Elsa kembali menatap Rendra yang mematung mendengarkan percakapan antara Elsa dengan Dava. Elsa tidak tau sejak kapan Rendra berubah menjadi manusia menyebalkan seperti sekarang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dava & Elsa
ChickLit(Sekuel Backstreet) Mencintaimu bukan lah cara menciptakan sebuah pelangi, tapi tentang cara terkuat untuk menghadapi badai. (Dava) Langit tak selalu biru, mendung tidak selalu datang hujan, sore tidak selalu akan jingga, dan hidup tidak selamanya a...
