5: Rain

401 32 2
                                        

Setelah mata kuliah Elsa yang Dava ikuti, mereka tidak langsung pulang. Elsa malah datang ke perpustakaan yang ada di fakultas kedokteran padahal mendung begitu hitam dan air hujan sudah siap untuk turun mengguyur bumi. Dava tidak bisa jika harus menolak Elsa, apalagi Elsa sepertinya membutuhkan buku tersebut.

Dava memilih duduk di bangku yang kosong sembari menunggu Elsa selesai memilih buku nya. Dulu pernah Dava ikut membantu, bukan malah menemukan buku, yang ada Dava pusing melihat gambar manusia, gambar hewan dan sel-sel. Meskipun dulunya Dava adalah siswa yang berasal dari jurusan IPA, tapi Dava sudah lupa dengan semua itu dan kini otaknya berganti dengan pasal dan undang-undang, bukan lagi tentang mahkluk hidup.

Akan lebih senang jika Dava di suruh menyebutkan pasal dari pada harus menyebutkan bagian tubuh hewan. Rasanya materi itu sudah tenggelam seiring berjalannya waktu.

"Dav nih udah dapat" ucap Elsa setelah usai mendapatkan buku yang di perlukannya.

"Langsung balik ya. Ini udah mau turun hujan soalnya" ucap Dava

Elsa menatap keluar jendela, awan sudah semakin menghitam. Sementara Dava siang ini menggunakan motor Diva. Lantaran tidak mau dengan macet jika harus menggunakan mobil. Alasan bisa selap-selip dipilih oleh Dava secara random.

Elsa menarik lengan Dava sampai ke parkiran, memasukkan bukunya ke dalam tas bersama dengan peralatan tulis lainnya

"Nih helm nya" ucap Dava sembari memakaikan helm di kepala Elsa.

Jika pemandangan seperti ini dianggap aneh, Elsa justru sudah terbiasa dengan perlakuan Dava yang seperti ini. Dan Dava juga sudah terbiasa untuk memperlakukan Elsa seperti ini, seperti seorang ratu.

"Makasih" ucap Elsa lalu naik ke atas motor.

Dava melajukan motornya dengan kecepatan sedang, melewati jalan besar meskipun terlalu banyak lampu merah.

Selang beberapa waktu hujan turun sedikit deras membuat Dava menepikan motornya. Dava membuka jok dan hanya ada satu setel jas hujan berwarna biru milik Diva.

"Kamu pakai Sa" suruh Dava sembari menyodorkan mantel

"Kamu aja yang pakai. Kan kamu yang di depan. Kalau aku bisa berlindung di belakang kamu nanti" ucap Elsa

Dava berdecak "udah pakai aja Elsa. Aku nggak papa. Yang penting kamu nggak kehujanan dan nggak sampai sakit. Cepet pakai keburu hujannya tambah deras" ucapnya

"Tap___"

"Nggak ada tapi-tapian. Pakai aja Elsa. Aku nggak mau lihat kamu sakit. Ingat, dokter nggak boleh sampai sakit" potong Dava "dengerin aku ngomong sekali ini" sambung Dava

"Kamu nggak papa?" Tanya Elsa

"Nggak papa sayang"

Elsa menurut, menggunakan setelan jas hujan berwarna biru itu, rasanya tidak adil jika Dava kehujanan justru Elsa malah menggunakan jas hujan. Tapi ini permintaan Dava, tidak terlalu enak juga jika Elsa menolaknya. Tapi sangat tidak baik jika mereka berdua harus berdebat di tepi jalan.

"Naik Sa" ucap Dava.

Elsa langsung naik dan memeluk erat perut Dava. Karena kebetulan jarak sedikit jauh dari rumah Elsa, menjadikan Dava tidak terlalu terburu. Dava menikmati setiap rintik guyuran air hujan, apalagi Dava menikmatinya bersama dengan Elsa.

"Dav buruan, nanti kamu keburu kedinginan" ucap Elsa setengah berteriak. Suaranya kalah dengan suara rintik hujan dan gemuruh petir di atas langit

"Nggak papa Sa. Aku seneng bisa melewati hujan begini bareng kamu" ucap Dava. Elsa menggeleng aneh, Dava memang manusia yang tidak bisa ditebak.

"Nanti kamu keburu sakit Dava. Dengerin kalau aku ngomong" ucap Elsa ketus

"Iya sayang. Agak aku cepetin" ucap Dava

Selang 15 menit kemudian motor Vespa Dava sudah terparkir di halaman rumah Elsa. Elsa dengan segera melepas jas hujan lalu masuk ke dalam rumah dengan keadaan kering sementara Dava basah kuyup.

"Dav langsung ke kamar mandi aja. Aku siapin air hangat. Handuknya ada di dalam warna ungu" ucap Elsa. Dava mengangguk mengekor di belakang Elsa

"Dava, kok bisa basah kuyup begini, terus Elsa malah kering" ucap Rosa kaget. Elsa kering dan Dava malah basah kuyup.

"Ma nanti aja ya Elsa jelasin. Dava biar mandi dulu" ucap Elsa kemudian beranjak pergi ke dapur untuk merebus air. Dava langsung ke kamar mandi yang ada di sebelah dapur.

Sembari menunggu air mendidih, Elsa berlari kecil ke kamarnya. Mengambil satu setel pakaian laki-laki yang masih baru di lemari nya. Yang di beli Dava beberapa bulan yang lalu saat liburan dan sengaja Dava tinggalkan di rumah Elsa dengan alasan seperti ini. Persiapan jika ada kendala semacam hari ini dan diperlukan, maka Dava tidak perlu pulang dengan keadaan basah kuyup.

"Dav, bajunya aku taruh di luar" ucap Elsa setengah berteriak.

Seusai itu Elsa menunggu Dava di ruang tengah bersama dengan Rosa.

"Jadi gimana ceritanya bisa Dava basah kuyup terus kamu kering begitu?" Tanya Rosa. Viona dan papa nya langsung kompak mendengarkan baik-baik.

"Jadi waktu Elsa perjalanan pulang, hujan itu turun deras banget ma. Dan waktu Dava buka jok, adanya cuma satu setel mantel. Sebenarnya Elsa udah nyuruh biar Dava aja yang pakai. Tapi mama tau kan wataknya Dava, kekeuh. Dia malah bilang kalau Elsa aja yang pakai, biar Elsa nggak sakit karena dokter nggak boleh ada penyakit katanya. Dia malah bilang gitu ma. Ya udah Elsa pakai daripada ngeributin hal yang nggak penting" ucap Elsa

"Ya ampun Dava. Kalau gitu mama buatkan mie kuah sama teh hangat dulu. Ada yang mau sekalian?" Tanya Rosa pada anggota keluarganya yang lain.

Viona, Elsa dan Doni kompak menggeleng. Memang enak jika makan mie ditemani dengan secangkir teh hangat saat cuaca seperti ini. Tapi mereka kompak tidak menginginkan kedua barang hangat tersebut.

"Makanya kak kalau sama kak Dava tuh jangan galak-galak. Kak Dava itu baik tau sama kakak. Baik banget malah" ucap Viona yang di setujui oleh papa nya dengan cara mereka ber-tos ria tepat di depan mata Elsa.

Elsa mendesis melihat kekompakan ayah dengan anaknya.

"Menurut Vio, kak Dava itu lima tingkat lebih romantis, lebih bucin daripada Faris. Harusnya Kak Elsa itu merasa super beruntung bisa ketemu orang kayak kak Dava" ucap Viona

"Itu bener Elsa, dengarkan adik kamu. Kamu itu jangan galak-galak sama Dava. Kasian, anaknya orang" tambah Doni

"Iya Pa, Elsa nggak galak-galak lagi" ucap Elsa. Daripada mereka berdua terus saja memojokkan Elsa dan mengatai jika Elsa galak dan judes seperti ibu tiri.

"Bisa-bisa nya kak Dava betah sama kak Elsa yang super galak begini" ucap Viona

Elsa terkekeh "karena Dava menyukai inner beauty daripada outer beauty Vio" ucapnya dengan menirukan apa yang sering di katakan oleh Dava

"Ya itu outer beauty nya kayak mak lampir. Inner beauty nya super galak kayak ibu tiri" ucap Viona. Doni justru tertawa dengan perdebatan yang di mulai oleh Viona, Doni sendiri seolah setuju dengan anak bungsunya

"Dava malah seneng tuh kakak galakin. Makin betah dan nempel wlekk" ucap Elsa lalu menjulurkan lidahnya ke arah Viona.

Viona hanya mendengus, pasalnya yang dikatakan Elsa memang benar. Mau di galaki seperti apapun, pada nyatanya Dava tetap menyukai Elsa. Meskipun serupa ibu tiri, tetap saja Dava klepek-klepek.

Dava & ElsaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang