35

21.7K 2.5K 191
                                        

Bara duduk di kursi sambil menumpu kepalanya. Sudah beberapa jam ini ia menunggu seseorang untuk membuka mata.

Bara sangat terkejut saat teman yang lain berteriak kalau Jay pingsan di toilet. Semua mengira ini karena Jay dipukul oleh Bara. Jadilah Bara menunggu Jay sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Bara menghela nafas. Ia jadi merasa bersalah karena membuat Jay seperti.

"Bara. Jay kenapa?" Bara menoleh. Ada Evan di sana. Sepertinya Evan baru membuka ponselnya. Bara sudah mengabari sejak Jay sampai di rumah sakit tapi Evan baru datang.

"Salah gue. Jay mungkin shock. Gua tadi gak bisa nahan diri." Jawab Bara. Evan melihat wajah Jay dan mengerti. Evan yakin Bara pasti memukul Jay.

"Seaneh-anehnya tingkah Jay, lo gak berhak mukul dia." Evan menatap Bara tajam. Bara balas menatapnya tenang.

"Dia kelewatan." Ucap Bara.

Evan menatap Bara dengan tatapan tidak suka. Sudah cukup mumet dengan masalah Radinka, Bara malah menambah masalah. Otak Evan serasa mau pecah.

"E-Evan..." Evan dan Bara menoleh mendengar suara.

Keduanya melihat Jay sudah membuka matanya. Jay mengulurkan tangannya memanggil Evan. Evan langsung bergegas mendekati Jay.

"Gue panggil dokter." Ucap Bara lalu mencari dokter.

"Gue dimana?" Tanya Jay.

"Rumah sakit. Bara chat gue katanya lo pingsan terus di bawa ke rumah sakit. Lo ngapain sih sampe berantem sama Bara?" Jay terdiam tidak menjawab Evan. Jay memijat keningnya.

Sedetik kemudian barulah ia ingat apa yang terjadi padanya. Ia jatuh di toilet karena kepalanya pusing akibat flu yang ia derita.

"Eh!" Jay tiba-tiba terduduk. Jay memeriksa tubuhnya. Tidak ada yang terasa sakit padahal ada banyak memar akibat percobaannya.

"Alicia?" Tanya Jay pada Evan. Evan bingung. Ada apa dengan temannya ini?

"Jay. Lo tiduran dulu situ. Si Bara lagi panggil dokter." Ucap Evan. Jay terlihat gelisah.

"Ini kita dimana?" Tanya Jay lagi.

"Rumah sakit." Jawab Evan. Evan yakin ada yang salah dengan Jay. Sudah aneh semakin aneh.

"Maksudnya. Kita di dunia mana?" Walah. Sudah valid. Pasti ada yang salah dengan Jay. Pertanyaannya sudah luar biasa sekali.

"Jay. Udah deh. Jangan nanya macem-macem." Ucap Evan mulai kesal.

Jay merebahkan tubuhnnya perlahan. "Gue mimpi kali yah?" Gumamnya.

Ia ingat ia bertemu dengan Alicia di dunia lain. Ia mencoba berbagai cara untuk kembali ke dunianya dan saat ia sakit ia tidak sengaja terhuyung.

"Bentar." Gumam Jay. Ia tiba-tiba meraih lengan Evan.

"Alicia dimana?" Tanya Jay.

"Kita masih belum bisa nemuin Alicia, Jay." Jawab Evan. Jay terdiam lalu melepaskan lengan Evan.

"Hallo Jay. Gimana? Ada yang sakit? Atau kerasa pusing?" Tanya dokter yang baru saja tiba bersama Bara.

"Pusing sedikit dok." Ucap Jay.

"Kamu kenapa kok bisa pingsan? Berantem sama temanmu?" Tanya dokter itu lagi sambil memeriksa Jay.

"Lagi flu berat dok, terus pas berdiri langsung pusing banget. Akhirnya jatuh kayaknya di kamar mandi. Alicia gak mungkin bisa nahan badan saya sih." Jawab Jay tanpa menyadari kata-kata yang ia keluarkan. Evan dan Bara menatapnya bingung. Kenapa Jay menyebut Alicia?

INEFFABLE [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang