37

23.1K 2.6K 236
                                        

Teman-temannya berakhir bolos di rumahnya. Bahkan sampai malampun mereka masih tidak mau pergi.

Mereka takut Alicia akan kembali menghilang. Apalagi Jay. Sedikitpun ia tidak bergeser dari samping Alicia. Bara yang ada di hadapannya sudah risih sekali melihat Jay terus menempel pada Alicia.

Alicia ke dapur pun terus diikuti. Beberapa kali matanya bertemu mata Jay namun Jay malah terlihat menantangnya.

Seingat Bara dulu Jay tidak seperti ini. Jay dulu bertingkah konyol dengan menggoda Bara sampai membuat Bara jijik. Kenapa sekarang mendadak jadi laki-laki sesungguhnya lalu menempel pada Alicia?

Tuk

Bara melempar sedotannya ke sembarang arah. Kenapa juga ia harus mengurusi Jay. Terserah Jay mau berubah bagaimanapun.

"Geser lo. Liat gak ada pawangnya di depan lo?" Bisik Kanaya pada Jay. Kanaya sejak tadi memperhatikan Bara. Kanaya tahu Bara memang pendiam dan tidak banyak omong kalau mereka sedang main bersama, namun Bara tidak pernah memasang tampang galak seperti itu.

"Alicia harus dijagain dari spesies kayak gitu." Balas Jay. Kanaya hanya terkekeh.

"Alicia. Lo kalau mau istirahat, masuk kamar aja. Tenang aja ada kita disini." Ucap Radinka karena menyadari seharusnya Alicia lebih banyak istirahat setelah melewati banyak hal.

"Alicia. Lo beneran gak di apa-apain kan? Kalau ada yang jahatin lo, bilang aja." Ucap Evan setrlah menahan diri dari tadi pagi untuk tidak menyinggung apapun soal hilangnya Alicia.

"Kalau lo diancem, bilang aja." Tambah Kanaya.

"Gak kok. Tenang aja. Gak ada yang ngancem gue. Gua juga gak apa-apa, serius. Waktu gue hilang itu, gue diselametin sama orang lain. Terus eum... pas gue mau pulang, gue dapet kabar nenek gue sakit. Jadi sementara gue nemenin di sana. Hp gue ilang, gue gak bisa kabarin kalian. Eum... lokasinya juga jauh. Jadi gue gak bisa langsung pulang." Semua terdiam mendengar penjelasan Alicia. Jay hanya menundukkan kepalanya menahan tawa melihat bagaimana kemampuan Alicia merangkai cerita. Nilai Bahasa Indonesia Alicia pasti 100.

"Selama itu? Lo gak pergi seminggu doang loh Li." Ucap Radinka.

"Iya. Gue minta maaf. Gue gak tau bakal sekacau ini tapi gue juga gak bisa pergi cepet-cepet. Nenek gue sakit parah. Gak ada yang bisa jagain lagi." Ucap Alicia. Ia merasa ia sudah terpojok sekali. Jangan sampai ada yang mengoreknya terus. Bisa-bisa terbongkar karangan cerita Alicia ini.

"Yang penting lo gak apa-apa. Kita semua khawatir soalnya lo ilang ditengah-tengah tawuran. Takutnya ada yang jahat sama lo." Ucap Jay menengahi. Jay mengerti teman-temannya belum sepenuhnya percaya pada cerita Alicia. Terlihat dari tatapan penasaran mereka. Tapi ia tidak bisa membiarkan Alicia kebingungan begitu.

"Dah yok udah malem. Sekarang bubar aja yuk biar Alicia juga istirahat." Usul Jay. Kanaya mengangguk setuju. Alicia pasti melewati jalan yang panjang sebelum ke sini. Alicia pasti lelah.

"Gue pulang ya Li. Besok gue ke sini lagi kita pergi ke sekolah bareng." Ucap Kanaya.

"Gak usah lah. Kan gue sama Dinka." Jawab Alicia sambil tersenyum ceria.

"Ehehehe. Gue gak ke sekolah besok. Lo pergi sama Kanaya aja bener." Sedetik kemudian Alicia baru ingat. Radinka sudah memberitahu teman-temannya tentang berhenti sekolah dan penyakitnya. Duh, bodoh sekali Alicia malah mengungkitnya. Di depan Bara pula.

"Ah itu. O-Oke."

"Yaudah. Li. Gue pamit juga ya. Hati-hati di rumah. Kunci pintu tutup jendela. Kalau ada suara aneh langsung lari aja ke rumah Radinka." Alicia mengangguk pada Evan.

INEFFABLE [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang