10

34.7K 3.8K 248
                                        

Sangat mengejutkan sekali untuk Alicia ia bisa berlari secepat dan selincah ini. Ia sudah sangat lelah rasanya tapi kakinya terus berlari mengejar si pencopet itu. Orang-orang bahkan tertinggal di belakangnya.

"Hahh...Hahh... Capek banget." Keluhnya saat kakinya berhenti. Alicia melihat laki-laki di depannya yang juga sudah kelelahan.

"Atlet ya Neng?" Tanya pencopet itu. Ia berdiri agak jauh dari Alicia. Ia sedang mengatur nafasnya juga.

"Abang copet kan? Balikin sini? Gak akan ngaruh Bang. Abang nih udah pasti ketangkep. Sama si Bara. Tungguin aja." Ucap Alicia. Ia tidak pernah dalam hidupnya berniat menangkap seorang pencopet atau sebangsanya. Tidak ada juga keberanian dalam hati Alicia menghadapi orang-orang nekat itu.

Pencopet itu segera bersiap berlari saat kerumunan massa kembali terlihat.

"Sini deh balikin. Abis itu abang kabur." Pinta Alicia.

"Dipikir gue apaan." Cibir pencopetnya. Alicia menyeka keringatnya. Habis makan lalu lari-larian lumayan juga. Lumayan mual.

Grap

Alicia meraih pakaian pencopet itu saat pencopet itu akan melangkah pergi. Alicia tertawa. Kalau di dunianya, tidak akan nada kejadian seperti ini.

"Lepasin." Pencopet itu mencoba memberontak namun Alicia genggam pakaiannya sekencang mungkin. Tangannya susah payah meraih kerah pencopet itu namun

Brak

Alicia dibanting ke depan tanpa perlawanan. Pencopetnya menguasai tekhnik beladiri rupanya. Memang paling benar kalau Bara yang melawan.

Kepalanya serasa berputar sekali sekarang. Punggungnya kebas. Matanya panas menahan air mata.

"Sakit anjim" Umpat Alicia lalu kembali meraih kaki pencopet itu.

Brak

Giliran pencopet itu yang tersungkur. Alicia bukan tipe anak yang suka mengumpat atau berkata kasar. Tapi untuk pertama kalinya ia keluarkan umpatan itu.

"Jangan kabur lo!"

Pencopet itu hendak kabur lagi namun terlambat. Massa sudah mengerumuni. Alicia langsung dibantu berdiri oleh seseorang lalu di papah agak menjauhi kerumunan yang sedang menghakimi pencopet itu.

"Alicia!!! Lo gak apa-apa?" Muncul wajah Bara di hadapannya. Raut wajahnya sangat khawatir.

"Harusnya lo..." Lirih Alicia sebelum air matanya mengalir deras dan tubuhnya bergetar. Alicia sesegukan di sana. Tidak memperdulikan orang lain. Ia takut sekali tadi. Berlari tanpa keinginan bahkan dilukai pencopet.

Pencopetan ini harusnya terjadi di rumah Lezio, tapi kenapa justru terjadi di sini dan kenapa ia yang harus mengejar pencopet itu?

"Astaga! Alicia! Lo gak apa-apa kan?" Alicia bisa mendengar suara Radinka namun ia sudah tidak ada kekuatan untuk menjawab. Tubuhnya lemas sekali karena ketakutan.

"Lo udah aman. Tenang." Tanpa diduga, Bara memeluknya. Radinka tidak berkomentar apa-apa. Malah ikut mengusap punggung Alicia. Semakin meledaklah tangis Alicia.

10 menit kemudian kira-kira.

Barulah tangis dan gemetar Alicia mereda. Bara dan Radinka dengan sabar menunggu Alicia sampai lega. Radinka bahkan membelikannya air putih.

"Thanks. Maaf sekali lagi gue ngerepotin kalian lagi." Ucap Alicia dengan suara sumbang.

"Adek. Ibu yang tasnya kena jambret tadi. Ibu makasih banget sama adeknya. Adeknya berani banget." Ibu paruh baya berjongkok di depan Alicia sambil menggenggam tangan Alicia.

INEFFABLE [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang