Semua diam menunggu Radinka yang sedang di periksa di dalam. Tidak ada yang satupun yang mengeluarkan suara. Semua sibuk berdoa dan menyesal.
Andai saja mereka tidak mengajak Radinka mengobrol sampai selarut itu. Andai saja mereka langsung membawa Radinka istirahat. Andai saja lebih peka. Ya andai saja.
"Albi. Radinka..." Aksa datang dengan wajah pucatnya. Ia masih di kantor saat mendengar dari Albi kalau Radinka pingsan.
"Om... ma-maafin kita..." Kanaya yang pertama berdiri dan bicara. Air mata Kanaya tidak berhenti keluar membuat Aksa merasa iba juga.
Bukan sepenuhnya salah mereka. Kondisi Radinka memang sering berubah-ubah. Terkadang terlihat sehat bugar seharian tapi besoknya tiba-tiba diam di tempat tidur hampir seharian.
"Doakan Radinka ya." Ucap Aksa. Kanaya mengangguk cepat. Albi menepuk pundak Kanaya pelan lalu mengantar Aksa ke dalam ruangan.
Alicia berdiri lalu pergi dari sana. Ia tidak tahan lagi. Ia tidak bisa diam saja melihat Radinka seperti itu.
"Dinka... gue... minta maaf. Dinkaa..." Alicia jatuh meluruh ke lantai saat sampai di tangga darurat.
Ia sudah tahu bagaimana Radinka di masa depan. Ia harusnya bicara dan lebih hati-hati lagi jika itu menyangkut Radinka. Ia harusnya bisa menjaga Radinka. Harusnya. Harusnya.
"Gue gak tau gimana caranya Dinka!! Hikss gimanaaa caranyaa... gimanaa biar lo gak sakit lagi..." Alicia mengeluarkan isi hatinya.
Alicia menangis kencang di sana. Tidak ada yang bisa mendengar tangisan pilu Alicia. Jay hampir menyusul Alicia namun ia urungkan karena ia pikir Alicia mungkin waktu sendiri.
Jadi ia biarkan Alicia sendirian.
Tapi setelah lewat tengah malam hatinya jadi tidak tenang. Albi hanya menjelaskan kalau Radinka butuh istirahat sementara waktu tapi tidak menjelaskan lebih jauh lagi.
Albi menyuruh yang lain untuk kembali ke Villa tapi tidak ada yang mau kembali. Terlihat Kanaya duduk di salah satu kursi agak jauh dari Evan. Keduanya hanya diam termenung.
Bara entah pergi kemana dan Alicia belum kembali.
Jadi Jay putuskan untuk mencari Alicia. Ia takut terjadi sesuatu dengan Alicia.
Pertama Jay menyusuri jalan yang Alicia lewati tadi dan menebak kira-kira dimana Alicia.
"Jay." Jay menoleh mendengar suara Bara.
Bara berdiri di sana bersama Alicia. Wajah Alicia terlihat kacau sekali. Matanya sembab dan wajahnya memerah. Pasti karena terlalu banyak menangis.
Di tangan Alicia sudah ada cup minuman. Pasti dari Bara.
"Lo gak apa-apa Li?" Tanya Jay.
Alicia hanya mengangguk.
Mereka bertiga kembali. Mereka semua memutuskan untuk menunggu sampai pagi sampai Radinka membuka matanya karena mereka merasa bertanggung jawab atas yang terjadi pada Radinka.
*******
Paginya.
Tidak ada kabar baik dari Radinka. Radinka masih menutup matanya. Evan dan yang lain mengalah. Mereka semua akhirnya pulang ke rumah.
Sepanjang jalan pulang tidak ada yang bicara. Menangis pun tidak ada. Mereka hanya diam. Diam berpikir.
Saat sampai di rumah masing-masing pun tidak ada komunikasi diantara semuanya.
Esok harinya juga seperti itu.
Tidak ada yang saling menghubungi. Mereka masih belum mendapat kabar apa-apa dari Albi soal kondisi Radinka.
KAMU SEDANG MEMBACA
INEFFABLE [COMPLETED]
Fiksi RemajaMULAI REVISI PELAN-PELAN ************* Alicia menyukai semua bacaan fiksi. Mulai dari novel sampai komik. Menyukai semua genre mulai dari horror sampai romantis. Yang paling ia suka adalah fiksi remaja. Di umurnya ke 18 ini ia memang sedang mendamba...
![INEFFABLE [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/240269220-64-k167601.jpg)