Bara dan Alicia kini sudah berada di minimarket. Bara memesan coklat panas dan Alicia sibuk memilih snack untuk simpanan di rumah.
"Udah Li?" Tanya Bara dengan dua coklat panas di tangannya.
"Eum... udah. Gue bayar bentar Bar." Jawab Alicia lalu berjalan ke kasir minimarket.
Belanjaan Alicia lumayan banyak ternyata. Es krim, snack, dan coklat. Alicia berpikir karena Radinka sedang jauh, tidak ada lagi teman untuk ke minimarket. Karena itulah Alicia harus stock sebanyak-banyaknya.
"Ayo Bar." Ajak Alicia ketika belanjaannya sudah selesai dihitung.
Bara mengangguk lalu memberikan coklat panasnya untuk Alicia. "Makasihh Baraa" Alicia tersenyum lebar.
Awalnya Alicia mengira akan sangat canggung berduaan saja dengan Bara. Ia sudah bersiap menelfon Jay kalau suasana tidak enak, tapi ternyata ia merasa nyaman-nyaman saja.
Mungkin karena Bara yang tidak sependiam biasanya. Sejak dari rumah tadi, Bara terus mengajaknya mengobrol. Entah kenapa tiba-tiba Bara punya banyak topik.
****
Sampai di rumah Alicia. Bara ikut turun dari motornya.
Karena tidak enak kalau membawa Bara ke dalam rumah, jadilah mereka berakhir di teras rumah Alicia.
"Nih Bar makan juga snacknya." Ucap Alicia sambil membuka bungkus snack lalu meletakkannya di tengah-tengah mereka. Bara hanya mengangguk.
Ada jeda cukup lama mereka berdua hanya diam. Bara juga terlihat sibuk dengan coklat panasnya.
"Li. Waktu lo ngilang, lo bukan ke rumah nenek lo kan?" Alicia hampir menyemburkan coklat panasnya.
"Ha? Kenapa Bar?" Alicia pikir sepertinya ia salah menfengar tadi. Bara tersenyum lalu meletakkan cup minumannya.
"Gue yakin yang lain juga sadar tapi mereka gak mau maksa lo buat cerita. Lagian kalo lo bener pergi ke rumah nenek lo, gak mungkin lo setakut itu waktu gue pertama kali liat lo." Alicia meringis. Susah rupanya membohongi orang-orang.
"Itu karna gue kaget." Jawab Alicia pelan.
"Li. Kalau lo gak mau bikin semua orang khawatir, minimal 1 orang lo kasih tau faktanya. Jadi kalau ada apa-apa, gak kayak kemarin. Kita gak ada yang tau lo kemana, lo kenapa, lo ilang tiba-tiba. Terus gak ada satupun keluarga yang bisa dihubungin." Ucap Bara. Bara tidak berharap dirinya yang diberitahu oleh Alici namun Bara berharap setidaknya satu saja. Siapapun itu.
"Thanks Bar." Ucap Alicia setelah mengagguk. Ia pikir ia tidak bisa membuat lebih banyak alasan lagi di depan Bara karena Bara bukan orang yang sebodoh itu.
"Gue gak tau ternyata lo orangnya gini." Ucap Alicia tanpa sadar.
"Gimana?" Alicia hanya tersenyum tidak menjawab.
"Kalau lo mau buka diri sama orang lain, lo tuh sebenernya anaknya enak diajak cerita. Sayang banget lo malah sama Lezio doang. Kalau lo ada di satu genk, lo pasti jadi penasihat." Ucap Alicia lalu tertawa. Bara hanya tersenyum mendengarnya. Ia tidak berpikir demikian. Ia cenderung canggung dan tidak bisa cepat beradaptasi. Ucapannya juga sering sekali menyakiti hati orang lain. Karena itulah jarang ada yang mau dekat dengannya.
"Banyak tau yang mau temenan sama lo." Bara hanya mendengus lalu terkekeh. Ia sadar ia terlalu fokus pada dunianya dan tidak memikirkan sekitar. Mana mungkin ada yang tertarik berteman dengannya.
"Beneran Bar.. serius." Ucap Alicia.
"Iya iya serah lo." Balas Bara. Alicia mencibir karena Bara tidak menganggapnya serius.
KAMU SEDANG MEMBACA
INEFFABLE [COMPLETED]
Teen FictionMULAI REVISI PELAN-PELAN ************* Alicia menyukai semua bacaan fiksi. Mulai dari novel sampai komik. Menyukai semua genre mulai dari horror sampai romantis. Yang paling ia suka adalah fiksi remaja. Di umurnya ke 18 ini ia memang sedang mendamba...
![INEFFABLE [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/240269220-64-k167601.jpg)