Author PoV
Alicia kembali ke kelasnya sambil misuh-misuh. Niatnya tadi ia akan ke toilet dan menjatuhkan dirinya ke lantai. Seperti sesaat sebelum ia masuk ke dalam novel online ini. Tapi semuanya rusak karena Jay.
Bukan hanya idenya saja yang rusak. Tapi moodnya juga rusak. Menyebalkan sekali.
"Ayok pulang." Ajak Mira saat anak kelas sudah keluar semua. Bel pulang sudah berbunyi sejak tadi.
"Mir. Gue ada urusan sebentar. Lo duluan aja. Dahh Mira."
Mira seperti akan menghentikannya tetapi melihat Alicia sangat bersemangat begitu ia jadi ragu.
*****
Di sisi lain, Bara sudah duduk manis menunggu Radinka di taman belakang. Seharusnya Radinka sudah ada di sini sejak bel tapi rupanya Radinka main-main dengan Bara.
"Kayaknya lapangan sepi." Gumam Bara.
Ia berusaha mengingat tempat yang biasanya dikunjungi Radinka. Kalau tidak lapangan ya pasti Radinka sudah kabur. Tapi tidak mungkin juga Radinka kabur karena teman Bara sudah berjaga di gerbang sekolah.
Drrttt
Ponsel Bara bergetar. Nama temannya muncul di layar.
"Bar. Kabur dia kayaknya. Udah gak ada lagi yang lewat gerbang."
"Okee thanks yah. Lo pulang duluan aja."
"Oke. Duluan ya Bar."
Setelah itu sambungan telfon terputus. Bara menghela nafas. Harus kemana kira-kira ia mencari Radinka?
"Lapangan indoor." Gumamnya lalu tersenyum puas. Lumayan juga otak cemerlangnya ini.
Bara melangkah santai menuju lapangan indoor. Ia yakin sekali Radinka ada di sana. Feelingnya berkata begitu.
Bara tersenyum saat tiba di depan pintu lapangan indoor. Suara sorakan terdengar dari dalam.
Bara membuka pintunya.
Rupanya disana mereka sedang bersenang-senang. Haruskah Bara ganggu? Itu bukan ide yang buruk sebenarnya.
"Woahh Bara!!" Pekik Jay yang pertama melihat Bara. Seketika Bara menjadi pusat perhatian di sana.
"Radinka. Hukuman lo belum selesai."
Bara tidak perduli pada pandangan di sekitarnya. Ia hanya perduli Radinka harus menyelesaikan hukumannya.
"Ahh sial sial. Kok lo bisa kesini sih? Ish. Nyebelin banget." Umpatan Radinka menggema. Ia merasa dirinya sudah sangat hebat saat mencari cara melarikan diri tadi. Tapi kenapa Bara masih bisa menemukannya?
Bara tidak menanggapi Radinka. Matanya melirik bola yang ada di depan kakinya sekarang. Ia menunduk mengambil bola itu lalu berdiri dan maju sambil men-dribble bolanya. Membuat yang ada disana terkejut. Mereka belum pernah melihat Bara memegang bola. Guru olahraga mereka jarang sekali masuk kelas jadi mereka juga jarang ikut praktek olahraga.
Disaat temannya bermain basket atau futsalpun, Bara hanya menonton. Tapi kini, semua yang ada disana melihat bagaimana santainya Bara men-dribble bola seperti seseorang yang sudah biasa melakukan itu.
"Sok banget sih pake dribble bola gitu. Baru bisa ya Bar? Hahaha." Ejek Radinka. Bara tetap diam dan melanjutkan langkahnya menghampiri Radinka.
"Kalau gue menang, lo harus lanjut jalanin hukuman lo. Rawat tanamannya sampai bunganya mekar."
Bara menyebutkan penawarannya. Membuat Radinka tidak bisa berkata-kata. Apa itu masuk akal? Bara yang kelihatannya selalu memegang buku menantang Radinka yang notabennya sering membawa tim sekolah meraih juara 1?
KAMU SEDANG MEMBACA
INEFFABLE [COMPLETED]
Teen FictionMULAI REVISI PELAN-PELAN ************* Alicia menyukai semua bacaan fiksi. Mulai dari novel sampai komik. Menyukai semua genre mulai dari horror sampai romantis. Yang paling ia suka adalah fiksi remaja. Di umurnya ke 18 ini ia memang sedang mendamba...
![INEFFABLE [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/240269220-64-k167601.jpg)