36.

854 79 0
                                        


Entah setan apa yang ada di tubuh gua sampai gua berani memeluk Mingyu dari belakang dan menaruh kepala gua di atas punggung Mingyu. Tangan kiri Mingyu mengusap-usap tangan gua yang melingkar di pinggangnya.

Gua nggak tau kemana Mingyu membawa gua, tapi yang gua perhatikan dari tadi adalah jalanan yang nanjak. Artinya dia bakal ngebawa gua ke tempat yang tinggi.

Motor Mingyu berhenti di pinggir jalan dan gua sama Mingyu turun dari motornya lalu berjalan sedikit sampai akhirnya gua sama dia menemukan tempat dengan view yang bagus banget.

"Lu tau tempat ini dari mana?" Tanya gua.

"Lupa." Jawab Mingyu sambil duduk di atas aspal.

Di depan mata gua ada view kota di malam hari yang bener-bener cantik. Tempatnya juga sepi banget bikin gua semakin tenang. Mood gua jadi bagus banget karna Mingyu. Emang dia jarang mengecewakan gua.

Mingyu mengambil makanan yang sempat kita beli di jalan dari plastiknya. Gua sama Mingyu sempet beli sosis, corndog, sama ciki-cikian. Padahal gua baru aja makan malem.

"Suka nggak?" Tanya Mingyu, gua mengangguk.

Gua menarik nafas dalam-dalam menghirup udara segar malam ini. Angin yang berhembus membuat gua sedikit kedinginan padahal gua udah pake jaket punya Mingyu.

Tiba-tiba gua kepikiran sama Mingyu yang nggak pake jaket dari tadi karna jaketnya ada di gua. Apa dia nggak kedinginan?

"Gyu, lu nggak kedinginan?" Tanya gua.

Dia menggeleng, "Kalo dingin tinggal peluk lu. Jadi anget juga nantinya." Katanya santai sambil membuka salah satu bungkus ciki.

Melihat Mingyu yang sedang makan, gua juga jadi mau ikutan makan. Gua menyambar corndog yang nganggur di hadapan gua lalu melahapnya seperti orang kelaparan.

"Lu nggak kenyang, Kay? Perasaan tadi baru aja makan malem." Kata Mingyu, gua menggelengkan kepala gua dan Mingyu hanya tertawa.

"Katanya tadi lu mau cerita." Kata Mingyu.

Gua membuang nafas gua kasar saat mengingat makan malam tadi bersama Om Adrian. Gua pun menepati janji gua ke Mingyu untuk menceritakan tentang Om Adrian. Dari awal gua masuk restoran dan semua tingkah gua yang bikin dia kesel.

Sekarang gua mikir gimana caranya supaya Om Adrian sama mama berhenti punya hubungan spesial. Gua rasa hubungan mereka juga harus ada persetujuan dari gua. Kalo gua nggak suka sama Om Adrian, gua harap mama bakal dengerin gua. Tapi, intinya sekarang gua harus cari cara buat ngebuktiin ke mama kalo Om Adrian bukan laki-laki yang pantes buat keluarga kita.

"Pasti berat banget, ya." Kata Mingyu sambil menggenggam tangan gua dengan erat.

Hati gua membaik saat Mingyu menggenggam tangan gua dengan erat dan membuat gua lebih hangat malam ini. Mingyu menuntun kepala gua untuk bersender di bahunya dan gua sama sekali nggak menolak tindakannya tersebut.

"Inget ya kalo lu nggak sendiri. Gua selalu ada buat lu kapan aja, di mana aja. Gua mau jadi orang yang nampung semua keluh kesah lu. Karna gua nggak bisa ngasih solusi buat masalah ini karna masalahnya sensitif. Jadi, gua rasa lebih baik gua ada buat nenangin lu aja." Kata Mingyu.

"Thanks." Kata gua sambil menutup mata gua menikmati momen-momen malam ini.

Kali ini gua bersyukur karna punya Mingyu yang selalu ada buat gua selama ini. Dari awal mama papa pisah, dia yang paling merhatiin gua lebih dari siapa pun. Saat gua pikir gua nggak punya siapa-siapa, dia selalu ngingetin gua kalo gua punya dia.

B-Friend ; Kim MingyuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang