HALLO!!!
UDAH PADA VOTE BELUM NIH?
Enjoy Reading!
❤❤❤
"GOBLOK!" umpat Putri pada Fauzia.
"Mulut lo minta di geprek!?" kesal Fauzia karena perkataan Putri.
"Gue heran sama lo, Zi. Lo pinter tapi otakku lemot," sahut Citra. "Gue sendiri jadi bingung gimana jelasinnya," sambungnya.
"Untung tadi gue bungkam mulut lo!" balas Nia.
Elisa hanya diam. Tak berminat menyahuti ucapan sahabat-sahabatnya ini. Elisa terlalu malas untuk bicara kali ini.
Buat yang tidak tahu. Fauzia tadi punya ide gila. Ia hampir saja mencegah Kenand yang sedang bertengkar dengan Ranum. Dan untung saja sebelum Fauzia berbicara tadi, Nia cepat membungkam mulutnya dan menyeret Fauzia dari sana sebelum dua sejoli tadi menoleh kearah mereka.
"Tapi 'kan gue sebagai cewek nggak terima aja kalo dia marah-marah sama cewek lain. Apalagi pakek ngebentak segala," sahut Fauzia dengan bibir mengerucut.
"Ada karet gelang nggak?" tanya Citra.
"Buat apa?" sahut Putri.
"Buat nguncir mulut Zia. Gemes gue lama-lama," gemas Citra.
"Zi, lo yang bilang sendiri sama kita kalo kita nggak berhak ikut campur urusan mereka berdua," kata Elisa yang sedari tadi diam.
"Jadi?" tanya Nia pada Fauzia.
Fauzia menaikkan alisnya tanda bertanya.
"Lo udah nggak suka sama Kenand?" sambung Nia.
"Kata siapa?" balas Fauzia sedikit marah karena perkataan Nia.
Citra menghembuskan nafas pelan. "Susah memang kalo ngomong sama batu!"
"Nggak kurang manusia kok ngajak ngomong batu! Situ gabut?" ujar Fauzia membuat Citra mengelus dadanya sabar.
"Gue kira image Kenand di mata lo udah hancur gara-gara lihat dia ngebentak Ranum tadi," ucap Elisa.
"Udahlah, gue mau ke kelas dulu. Gue ada ulangan matematika wajib," ujar Putri kemudian berjalan menuju kelasnya. Kelas X IPA 5.
"PUT NANTI KASIH BOCORAN YA!?" balas Nia berteriak yang dibalas acungan jari tengah oleh Putri.
Saat ini mereka tengah berada di taman belakang sekolah yang jarang sekali ada siswa maupun siswi yang datang ke sini.
"Jari Putri kenapa gitu?" tanys Fauzia yang melihat Putri mengacungkan jari tengahnya tadi.
"Allahumma barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa 'adzaa bannar," ujar Citra merapalkan doa sebelum makan dan minum lalu melenggang pergi begitu saja. Citra butuh mendinginkan kepalanya karena menghadapi tingkah Fauzia.
"Zi, gue antarin ke kelas lo yuk!" ajak Elisa yang tak ingin otak sahabatnya ini lebih menguras emosi yang lain.
"Yuk!" balas Fauzia lalu berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Seven Of Us ✔
Fiction généraleWARNING!!! Siapa sih yang nggak pengen punya sahabat? Mungkin menyenangkan apabila memiliki sahabat yang dapat berbagi segala hal. Yang dapat mengerti dan dimengerti. Seperti kisah ini yang menceritakan tentang kisah persahabatan. Kisah tujuh oran...
