Hegar berjalan masuk ke ruangan untuk berganti baju. Dia sudah dua hari tidak pulang ke kostan. Memilih menginap di bengkel karena pelanggan sedang ramai datang bersama motor-motor mereka. Tadinya mengeluh, tapi ini keputusan Hegar untuk ikut turun membantu dua sepupunya menggarap bengkel.
Selama dua hari itu pula, Hegar jarang menyentuh handphone. Paling hanya mengecek jadwal kuliah atau menerima telepon.
Sekali melihat, Hegar berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ada puluhan pesan dan panggilan telepon tak terjawab dari kawan-kawan.
"Gila, artis gue nih artis."
Kurang lebih notifikasi paling atas isinya ya seperti ini.
Pasukan Bu As (173) Cahya: Meluncur
Sabrina (2) Kalo ditawarin makan sama masmu, jangan nolak
Neena (5) Asik jadi bang toyib sekarang
Buaya Rawa (11) Gue samper ke bengkel y
dst.
"GAR! KANCAMU IKI RESE, CEPET METU." (Gar! Temenmu ini rese, cepet keluar)
Hegar buru-buru mengenakan jaket dan mengambil kunci motornya.
"Oh boyo rawa. Yo pantes rese, mas." Hegar kecewa, dia kira tadi yang datang adalah Sabrina, gebetannya.
Si buaya rawa memasang ekspresi datar, "lo tuh bersyukur dikit kek, ada gue yang rela ngehabisin bensin kesini buat nganterin nasi."
"Lah? Gue aja mau balik kostan."
"Ngeprank lo ya! Katanya sampe besok nyari nafkah disini," Nanta si buaya rawa pun meletakkan seplastik bungkusan nasi dan lauk di atas kursi.