11 - Pantai

758 60 70
                                    

--------------------------------
Happy Reading!
--------------------------------


Anggi mengangguk. Setelah dirasa sudah mendapat izin dari Anggi, Tama merentangkan tangannya tidak terlalu lebar. Disusul Anggi yang langsung menghambur ke pelukan Tama.

"AAAA!! FRETA SINI PELUKAN SAMA GUA!!" teriak Rayhan heboh, merentangkan tangannya sambil berlari ke arah Freta.

"Han, stop! Lo udah bosen hidup?!" sentak Freta kesal.

Rayhan menurunkan tangannya, tubuhnya di lemas-lemaskan seakan ia yang paling tersakiti. Tapi tak cukup sampai disitu, Rayhan beralih pada Gentala, memeluk tubuh Gentala tanpa izin.

"Han, apaansi! Lepas gak?!"

Gentala tanpa basa-basi mendorong Rayhan sampai tersungkur ke pasir-pasir.

"Peluk tuh pasir!" Rayhan langsung berdiri, mendumel tak jelas.

Tama dan Anggi yang sudah melepas pelukan dari tadi dan mendengar keributan di belakangnya beranjak pergi, ganggu momen banget teman-temannya itu.

"Udah mau maghrib, ayo ke hotel dulu." ajak Dhava.

Semuanya mengangguk setuju, menyusul Tama dan Anggi yang mungkin sudah pergi ke hotel duluan.

Sampai tiba di hotel, mereka berkumpul di ruang televisi unit hotel Tama, Gentala, dan Rayhan. Untuk mempersiapkan balon-balon dan pernak-pernik lainnya sebagai hiasan saat mereka makan-makan di pantai nanti.

"Ambil koper gua dong di kamar," suruh Gentala pada Rayhan.

"Ogah!"

Gentala beralih pada Althaf, "Thaf, ambil sono."

"Gak liat gua lagi nonton tv sama Kyra?"

"Ck! Dhav ambil gih!"

"Gak liat gua lagi mabar sama Naraya?"

"Elah! Tam ambil, Tam!"

"Gak liat gua lagi nyemil berdua sama Anggi?"

"Ish! Vin ambil buruan!"

"Gak liat gua lagi meluk bantal?"

"Sialan! Berarti balik lagi ke lo Han, ambil cepet!"

"Gak! Lo aja sono," tolak Rayhan cepat.

Gentala melihat ke arah Freta, ide cemerlang muncul di otaknya. "Freta, tolong ambilin dong,"

Plak!

"Berani banget lo nyuruh Freta!" bentak Rayhan.

"Dih, lo siapanya dia?" tantang Gentala.

"Y-ya lagian lo nyuruh-nyuruh cewek!"

"Berisik anjir! Udah gue yang ambil." Freta ingin berdiri namun tangannya ditahan oleh Rayhan.

"Biar Genta aja,"

"Gua mager, Han. Lagian juga si Freta mau," sahut Gentala.

"Koper-koper lo, ya lo yang ambil Gen!"

Freta memaksa dirinya berdiri, melepaskan tangannya dari genggaman Rayhan lalu berjalan menuju kamar. Namun Rayhan dengan gerakan cepat menghalangi jalannya.

"Gua aja, lo duduk lagi." Freta berbalik, membiarkan Rayhan yang mengambil.

Nice! Gentala tersenyum bangga, otaknya sedang berfungsi dengan baik.

Setelah Rayhan kembali membawa satu koper Gentala yang berisi balon-balon dan beragam jenis hiasan lainnya itu, mereka semua bersama-sama meniup balonnya satu persatu.

Presence Of FeelTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang