---------------------------------
Happy Reading!
---------------------------------"Sama kak Anggi aja yah, mandinya?" Pinta Tama pada Adleen dengan nada memohon.
Laki-laki itu sudah selesai membukakan baju Adleen, tinggal di bawa ke kamar mandi lalu di mandikan saja. Namun Tama masih ragu untuk memandikannya, takut terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Nda mau, abang!"
"Nggak boleh bentak-bentak," peringat Anggi.
Adleen mengerucutkan bibirnya, hampir menangis. Ia juga menundukkan kepalanya, "maaf abang, Alen janji tida benta-benta ladi.." lirihnya yang membuat hati Tama menghangat.
Kalau gini, mana bisa ia menolak untuk memandikan batita gemas di depannya.
"Hey, jangan nangis. Abang maafkan kok, sekarang mandi sama abang yah?"
"Nda uca abang, Alen madi cama ta Ndi caja."
Adleen beralih menatap Anggi yang berada di samping Tama, "Alen madi cama ta Ndi, ya?"
Anggi mengangguk, "iyah, ayo. Sini gendong,"
Baru saja Anggi merentangkan tangannya, Adleen sudah lebih dulu diambil alih oleh Tama.
"Abang dendong Alen? Abang tida malah?"
Tama mengecup singkat pipi kanan Adleen, "gak ada yang marah sama Adleen,"
"Benal?"
"Iyah."
"Kapan mandinya ini?" teriak Anggi yang sudah di depan pintu kamar mandi.
"Ayo, abang!"
Tama menghampiri Anggi, menurunkan Adleen dari gendongannya. Ia terus mengamati Anggi yang dengan mudahnya memandikan Adleen, mungkin memang Anggi sudah biasa. Hal itu membuat Tama menjadi terbayang dengan kehidupannya... beberapa tahun kemudian?
"Tama. Tolong ambilin handuknya di tempat tidur dong."
"Siap, sayang."
"Tama, mulutnya!" Sentak Anggi, ini kali pertama Tama menyebutnya dengan panggilan 'sayang'. Bukannya ia tidak mau, tapi Tama mengatakan itu di waktu yang tidak tepat, karena takut Adleen mendengar lalu mengikutinya.
Untungnya tidak, karena ternyata Adleen masih main air.
"Nih," Tama menyodorkan handuk berwarna putih milik Adleen.
"Makasih,"
Setelah mengeringkan tubuh Adleen dengan handuk, Anggi beralih ke lemari untuk memilih baju apa yang cocok digunakan oleh Adleen.
Sementara Tama bertugas memakaikan minyak telon, singlet, dan pampers sebisanya.
"Pilih baju yang lucu, Nggi." kata Tama.
"Pili baju yang ucu, Ndi."
Nah loh.
Anggi langsung berhenti melakukan kegiatannya memilih baju Adleen, ia berbalik lalu menatap Tama tajam.
"Adleen, gak boleh gitu ya?"
"Hihi, maaf abang."
"Ini lucu gak?" Anggi memperlihatkan baju autumn winter baby romper berwarna biru tua.

KAMU SEDANG MEMBACA
Presence Of Feel
Teen Fiction-𝙀𝙉𝘿- ❁❁❁ ❝ Lo pernah baca gak, quotes tentang kenapa kebanyakan manusia lebih suka senja dibandingkan fajar?" Anggi menggeleng. "Enggak, emang kenapa?" "Karena terkadang manusia lebih banyak meratapi kepergian dari pada menyambut yang datang." "...