Mencintai sampai lupa berhenti
-Rachel
❤️✨
Hari Senin. Hari dimana Rachel mengikuti seleksi olimpiade sosiologi. Bayangkan saja, sudah dijemur di lapangan saat upacara. Sekarang, ia harus fokus mengerjakan soal.
Dan yang paling parah adalah Rachel sama sekali tidak belajar. Malam Minggu ia habiskan bersama sahabat-sahabatnya. Hari Minggunya, ia gunakan untuk bersantai ria.
Dan saat ini, ia masih sempat-sempatnya memikirkan seseorang yang bahkan tak pernah peduli dengan keberadaannya.
"Rangga udah makan belum ya?" Gumamnya.
Seperti biasa, ia membawa dua bekal. Kali ini berbeda, ia hanya membuat roti panggang selai strawberry dan tidak lagi memakai tupperware milik sang mamah.
"Chel!"
Rachel mendelik, "Kenapa?" Ketusnya.
Bayangkan saja, sedang memikirkan pangeran pujaan. Diganggu oleh sahabat sialan.
"Santai. Gue sama Vania cuman mau menyemangati lo," ujar Afifah seraya merangkul bahu sahabatnya.
"Ya, makasih,"
Melirik ke arah bekal sahabatnya, Afifah berinisiatif untuk mengerjainya.
"Eh, bawa bekal lebih ya lo? Bagi dong buat gue. Gue belum sarapan," kata Afifah dramatis.
Rachel melotot, "Enak aja. Gak!"
Afifah menyeringai. Dengan cepat, ia mengambil bungkusan bekal itu membuat Rachel murka.
"Afifah! Balikin gak!"
"Gak," katanya seraya berlari.
Rachel mengejarnya, begitu juga dengan Vania.
"Afifah, balikin. Kasian Rachel mau seleksi!" Ujar Vania.
"Ya woy! Nanti gue traktir di kantin!" Tambah Rachel.
Tanpa memperdulikan dua sahabatnya yang mulai kelelahan. Afifah terus berlari sambil tertawa. Jika bukan sahabatnya dari lama, ingin sekali Rachel menjualnya kepada om-om berperut buncit.
Rachel menambah kecepatan berlarinya. Ia hampir menggapai Afifah. Namun, lantai licin yang baru saja di pel tidak mendukungnya.
"Aaa-" teriak Rachel dan Afifah berbarengan.
Namun Rachel tidak merasakan sakit apapun. Ia perlahan membuka matanya. Pantas saja ia merasa hangat. Pasalnya, ia jatuh pada pelukan seorang lelaki tampan.
"Aduh, lantainya kotor!" Panik Vania.
Afifah menjitak gemas kepalanya, "Nih, pantat gue sakit lo malah ngurusin lantai!"
Vania mencebikan bibirnya, "Ih. Udah ngepel terus kotor itu bikin sakit hati tahu! Gue tuh lagi ngerasain perasaan orang yang piket,"
"Bodo!"
Rachel tersadar, "Eh, maaf," katanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIARY RACHEL
Teen FictionCinta pada pandangan pertama. Itulah yang Rachel rasakan. Dahulu, yang Rachel tahu itu hanya sekedar rasa kagum. sebelum, detak jantungnya mulai tak karuan saat memperhatikan lelaki itu dari kejauhan. dialah Rangga. sosok laki-laki yang matanya ber...
