23. OLIMPIADE

113 26 9
                                        

Percaya diri dan berujung berharap lebih adalah awal dari sakit hati
-Rachel

❤️✨

Rachel mendapatkan pesan singkat dari Rangga. Katanya, ia akan membicarakan sesuatu dan memintanya untuk tidak menghindar. Mau tidak mau, ia harus bertemu dengan Rangga nanti.

"Rachel, kamu tim inti. Jadi, persiapkan diri kamu baik-baik, ya!" Ujar Arini.

Rachel mengangguk, "Siap bu,"

Jika orang normal pada umumnya akan merasa gugup, takut tak dapat menjawab soal-soal itu. Beda halnya dengan Rachel, ia nampak santai sambil memasukan beberapa camilan kedalam mulutnya.

"Chel, kalau tim kita gagal karena lo, gue gak kasih ampun, ya!" Ujar Agni salah satu teman satu timnya.

Rachel mengangkat kedua jempolnya, "Siap!" Dalam batinnya ia menggerutu, "ambis bener,"

"Lo gak pelajari materi, Chel?" Tanya Caca rekan satu timnya juga.

"Udah kok,"

"Lo, kok bisa santai kayak gitu, sih?"

"Ya, harus gimana? Harus panik, buka buku terus sampai pusing?" Tanya Rachel.

Caca tak menjawab lagi, ia memilih duduk di samping Agni lalu membaca bukunya.

Rachel jadi teringat Rangga. Lelaki itu, sangat ambisius. Sepertinya, saat ini Rangga juga sama seperti teman-teman satu timnya.

"Tim inti siap?" Tanya Arini.

Rachel, Agni dan Caca mengangguk.

"Siap, Bu!" Kompaknya.

Olimpiade dimulai. Mereka mengerjakan soal-soal dengan penuh ketelitian. Disini, Rachel adalah leader, ia mengatur strategi untuk mengerjakan. Babak ini sangat penting, karena bisa membawa mereka menuju babak selanjutnya.

Disisi lain, Rangga mencoba fokus mengisi soal-soal. Hampir semua rumus-rumus yang ia pelajari ada bahkan bisa ia pecahkan. Sungguh, buku itu membantu banyak dalam belajarnya. Disampingnya, Cinta sedang sama fokusnya. Gadis itu terlihat sedikit kesulitan saat mencari rumus yang tepat.

Waktu terus berjalan, Rachel menyelesaikan jatah soalnya terlebih dahulu. Agni dan Caca menatapnya bingung. Mereka sebelumnya tak pernah satu tim dengan Rachel. Jadi, mereka berpikir jika Rachel asal-asalan dalam mengerjakan soal-soalnya.

"Jangan ngasal, Chel!" Agni memperingati.

"Gak kok, kalau gak percaya periksa aja,"

Caca menoleh, "Chel, bantu isi soal yang belum gue kerjain. Gue bantu lo koreksi,"

Rachel tak keberatan, ia mengangguk menyetujui keinginan Caca. Lagi pula, soal-soal ini pernah ia kerjakan.

"Gila, jawaban lo teliti banget!" Ujar Caca.

Agni menoleh, "Gantian, punya gue Chel,"

"Sebentar, dua soal lagi,"

Agni mengangguk seraya mengecek kembali jawabannya. Lalu setelah itu, Rachel memeriksa pekerjaannya dan bertukar ia memeriksa pekerjaan Caca yang Rachel kerjakan.

DIARY RACHELCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang