Private acak
Follow dulu sebelum baca!
Tepi-tepi! Uwuphobia diharap mundur‼️‼️
Disarankan baca ini di tempat sepi. Nanti dikira kenapa-napa gara-gara senyum-senyum sendiri.
Blurb
Gimana ya rasanya kalau kita sebenernya dekat bahkan punya hubungan sa...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
-oOo-
Senyum Aretha mengembang sempurna, ketika sebulan lamanya dirinya berpisah dengan Rafa, kini besok ia akan menjenguk laki-laki itu di Australia.
"Senyum ae! Gila lama-lama!" ucap Satria sambil menimpuk kepala Aretha dengan buku yang ia bawa.
"Bang, sakit!" ucap Aretha sambil memukul Satria dengan bantal.
"Lo berangkat sendiri besok?"
"Kenapa? Lo mau ikut?" tanya Aretha yang dibalas gelengan kepala oleh Satria. "Bang, kok Rafa nggak pernah nelpon gue lagi, ya. Selingkuh apa, ya?"
"Lo itu! Pikiran kok selingkuh-selingkuh! Komitmen lo gimana, sih?! Tapi kalo beneran selingkuh, lo gue jodohin sama temen satu angkatan gue. Ganteng, Tha. Anak FK lagi."
"Siapa?" tanya Aretha penasaran. Pasalnya, sejak Rafa berada di Australia, laki-laki itu gencar menjodohkannya dengan teman-teman kuliahnya.
"Arvan namanya. Naksir lo dia."
"Bodo amat!" ucap Aretha. Gadis itu hendak beranjak, tapi langsung kembali mendekati Satria yang sibuk dengan acara televisinya. "Lo kok jadi ketularan Kak Gibran sama Kak Arsha, sih?"
"Maksudnya?"
"Ngaku nggak lo! Lo deket sama Kak Laura, tapi lo perhatian sama Hani! Mau lo apain sahabat gue?!"
"Lo enak bener kalo ngomong! Yang deket sama Laura siapa?! Kita cuman temen," ucap Satria tak terima.
"Allahu Akbar, Satria jelek! Lo nggak tau isi chatan gue sama Kak Laura cuman ngomongin lo! Lo yang perhatian, lo yang suka bantu-bantu tugas Laura yang belum kelar, lo, lo, lo, dan lo! Dan sekarang lo bilang cuman temen! Gedeg gue!" Aretha menarik rambut Satria dengan sangat keras membuat sang empunya rambut merintih kesakitan.
"Tha! Lepasin! Gue jelasin-gue jelasin!" Setelah Aretha melepaskan tarikannya, laki-laki itu menatap nyalang adik sepupunya, kemudian menjelaskan kronologis yang sebenarnya. "Dia dateng minta tolong, masa nggak gue tolong. Dia jatuh, gue obatin. Salah? Dia nggak bawa payung, gue kasih. Emang gue tega?"
"Bang, dengerin! Perempuan nggak sesimpel pikiran lo. Gue tanya, Hani ... perhatian lo ke dia apa?"
"Nggak ada. Gue anggep dia itu lo, adik gue sendiri."
"Terserah! Susah ngomong sama calon perwira!"
-oOo-
Bandar udara Australia
Aretha menguap berkali-kali ketika kakinya baru saja menapaki negeri kanguru ini. Padahal dirinya berangkat dari Jakarta jam tiga dini hari, tetapi ketika ia sudah sampai di sini ternyata sudah pagi.
"Sorry miss, are you named Aretha?" tanya seorang supir taksi.
"Yah," ucap Aretha agak gagu. Dirinya tidak begitu paham dengan bahasa Inggris. Efek selalu meleng ketika sedang pembelajaran seperti ini.
"Sorry, this is the destination of the Australian National Airline college, right?"
"Huh?" Aretha benar-benar gagal fokus sekarang. Dasar supir taksi bahasa planet. Sudah bahasa planet, bicaranya seperti kereta api lagi. "Repeat!"
"This is the destination of the Australian National Airline college, right?"
"Hm ... pilot school?" tanya Aretha memastikan.
"Ya."
"Right," ucap Aretha. Senyum Aretha terus mengembang ketika membayangkan ekspresi Rafa nantinya.
Sebuah gedung bertuliskan Australian National Airline College sudah mulai terlihat dari beberapa meter dari dirinya berada.
"Here we are!"
Aretha menyerahkan beberapa lembar kertas kepada supir itu kemudian langsung berlalu. Untuk urusan bermalam itu terakhir. Yang terpenting, dirinya bisa bertemu Rafa secepatnya.
"Itu Rafa pasti!" ucap Aretha semangat.
Meninggalkan segala barang bawaannya, Aretha langsung berlari ke arah Rafa yang sedang duduk sendiri di bangku taman.
Aretha menutup mata laki-laki itu membuat Rafa langsung berdecak.
"Who is this? Nggak usah jahil jadi orang!" bentak Rafa kesal.
"Karisa pasti! Nggak usah aneh-aneh, Ka!" ucap Rafa berusaha menyingkirkan tangan Aretha.
Senyuman Aretha yang semula mengembang langsung surut ketika Rafa menyebutkan nama seorang wanita.
Setelah tangan Aretha lepas dari mata Rafa, laki-laki itu langsung menoleh dan kaget ketika melihat istrinya berada di sini.
"Aretha?!"
"Siapa Karisa?" tanya Aretha datar.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.