Bagian 19 : Pemilik Senyum

986 92 85
                                        

B a g i a n 19 : Pemilik Senyum

"Senyum adalah cara termudah untuk membuat orang lain bahagia."

***

"Cowo lo ber-damage juga ya, Nggi. Kalau lagi main basket," ujar Fitri.

Di jam olahraga kali ini, seluruh anak perempuan di kelasnya sedang menonton pertandingan basket. Setelah menyelesaikan materi, ternyata masih tersisa empat puluh menit sebelum jam pelajaran berakhir, dan para lelaki memilih untuk bermain, sedangkan para perempuan memilih untuk bersantai sembari menonton teman-temannya.

"Iyalah, punya siapa dulu?"

"Sombong amat!"

Anggi terkekeh lalu kembali menatap ke arah lapangan, ia tersenyum kala melihat Tama sedang asik bermain bersama teman-temannya.

Tama mengedipkan sebelah matanya saat tatapan mereka bertemu, hal itu spontan membuat pipi Anggi merona.

"Anjrit! Di kelas tuh anak nyebelin, giliran di lapangan kenapa berubah?"

"Nggi, bisa gak kita tukeran posisi bentar?"

"Iya anjir, gue kesel sama dia kalau di kelas, tapi kenapa waktu main jadi keliatan cakep?"

"Pantes banyak adik kelas yang suka, liat deh di pinggiran deket kantin udah banyak dekel yang istirahat dan ngeliatin anak kelas kita."

Melisa mengangguk setuju, "Di kelas kita ada Tama, Kelvin, Reza, sama Aziel, tapi gak ada yang bisa buat gue tertarik, emang ya yang beda sekolah lebih menarik."

"Hati-hati, Nggi. Banyak yang suka tuh kayaknya."

"Gue percaya dia kok."

Suara peluit berbunyi menandakan permainan sudah selesai, Anggi mengambil air mineral yang sudah ia beli tadi, lalu beranjak menghampiri Tama.

Ia sedikit ragu untuk bergabung dengan para lelaki yang masih asik berbincang, namun untung saja Kelvin menyadari keberadaannya.

"Eh, Nggi, sini!"

Tama refleks menoleh, "Kenapa kesini?"

"Enggak, cuma mau kasih ini," ujar Anggi sembari memberikan sebotol air mineral.

"Tau aja minumku habis, sini duduk," suruh Tama sembari menepuk-nepuk tempat di sebelahnya.

"Eh ada neng cantik," goda Reza, lalu dengan santainya ia duduk tepat di sebelah Anggi.

"Hai, Za!" sapa Anggi tersenyum.

"Enggak usah senyum," ujar Tama.

Bukannya menuruti, Anggi justru semakin melebarkan senyuman-nya, hal itu membuat Tama kesal sendiri.

"Jangan senyum ke sembarang orang, Anggiii."

"Kamu suka kan aku senyum?"

"Suka."

"Yaudah, biarin aja lah."

"Posesif amat sih bang," cibir Aziel.

Rahasia HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang