Bagian 49 : Tak Terlupakan

1.1K 91 141
                                        

B a g i a n 49 : Tak Terlupakan.

Lembar monokrom hitam putih,
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku,
Takkan ku mengenal cinta,
Bila bukan karena hati baikmu.

Monokrom - Tulus.

***

"Gue juga sayang sama lo."

"Tapi gue cinta sama Anggi, Sel."

Selin menggigit bibir bawahnya, menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja menyerang hatinya.

"Sel?"

"Ma-maf, seharusnya gue nggak utarain perasaan ini," ucap Selin kembali menunduk.

"Lo nggak perlu minta maaf, karena gue pun paham bagaimana susahnya mengatur sebuah perasaan, dan gue juga tau kalau lo nggak pernah milih buat jatuh cinta sama gue."

"Maka dari itu jangan pernah salahin diri lo sendiri," jelas Tama sembari menatap lekat kedua bola mata sahabat perempuannya itu.

"Makasih atas semua rasa itu, maaf sedari dulu gue nggak pernah bisa balas perasaan lo, tapi lo juga harus tau bahwa pernyataan gue tadi tulus, gue bener-bener sayang sama lo, sebagai sahabat, Sel."

Selin mengangguk paham, "Iya gue paham, Tam. Gue juga bukan orang jahat yang akan merusak hubungan kalian, walaupun gue sempat ingin bersaing sama Anggi, tapi sekarang gue sadar kalau memang cuma dia satu-satunya."

"Sini," Tama merentangkan kedua tangannya, dan membiarkan Selin menghambur ke dalam dekapan penuh kehangatan itu.

"Gue selalu disini sebagai sahabat lo, Sel. Jangan pernah sekalipun sungkan untuk datang ke gue, karena pelukan hangat ini yang akan selalu menyambut lo."

"Makasih banyak, Tam."

"Yaudah gue balik dulu ya? Kasian kalau Anggi sama Kak Nafira harus nunggu lama-lama."

Selin melepaskan pelukannya, "Titip salam sama orang rumah ya, Tam. Gue balik dulu ke Bandung."

"Sering-sering ke Yogya ya, Sel. Jangan pernah hilang lagi, cukup sekali gue kehilangan lo."

"Siap, Pak Bos!" seru Selin, tangannya terangkat membentuk posisi hormat.

Tama mengacak-acak rambut Selin gemas, "Yaudah gue duluan ya, hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa kabarin gue."

"Iya, lo juga hati-hati, Tam."

Selin menatap punggung Tama yang mulai menjauh dari pandangannya, ia tersenyum tipis, setidaknya perasaan ini sudah berhasil terungkap, dan mulai saat ini, ia berjanji akan berusaha membatasi rasa ini sebagai rasa sayang antar sahabat, bukan lebih.

Karena mungkin Tama memang digariskan untuk Anggi, bukan dirinya.

Tak hanya Selin, Tama pun juga sama lega-nya. Lelaki itu akhirnya menetapkan pilihannya pada Anggi.

Gadis yang awalnya hanya menjadi salah satu dari sekian banyak penganggum rahasianya, kini berubah menjadi gadis yang berhasil membuatnya jatuh cinta.

"Tam, kenapa senyum-senyum sih?

Tama terbuyar dari lamunannya, "Eh maaf, Nggi."

"Kalau aku nggak buka kaca mobil, mau sampai kapan kamu berdiri disitu sambil senyum-senyum?" tanya Anggi ketika Tama sudah masuk ke dalam mobil.

Rahasia HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang