B a g i a n 44 : Teman Lama.
Sungguh aku lebih mencintaimu,
Di banding dia.
Dibanding Dia - Lyodra.
***
Tama melangkahkan kakinya, menyamakan tingginya dengan sebuah batu nisan, disana sudah tertulis rapih nama seseorang yang akan selalu ia jadikan contoh selama masih bernafas di dunia ini.
Jemarinya mengusap nisan tersebut dengan perlahan, setitik air mata jatuh membasahi pipinya.
Jika kalian bertanya, apakah kamu sudah mengikhlaskannya? Maka Tama akan menjawab iya, namun perihnya rasa penyesalan itu masih berkelana di dalam hatinya dan sepertinya akan terus seperti itu dalam kurun waktu yang masih belum di ketahui.
"Tam."
Tama menoleh kala seseorang menepuk bahunya, "Lo kuat, Tam. Gue yakin temen gue bisa lewatin semuanya."
"Makasih, Za."
Aziel ikut duduk di sebelah Tama, "Papa lo orang baik, gue yakin dia akan selalu ada di setiap perjalanan lo, Tam."
"Thanks, Ziel."
Fitri mengusap-usap pelan bahu Tama, "Kuat ya, gue tau temen gue yang satu ini kuat."
"Turut berduka cita ya, Tam. Gue tau ini sulit, tapi gue tau lo pasti bisa."
"Makasih, Mel, Pit."
Tama tersenyum tipis menatap Anggi yang sepertinya tengah bingung harus berkata apa, ia pun meraih tangan Anggi untuk di genggamnya.
"Makasih tadi malam udah hadir di samping aku, dan juga di samping Mama, maaf kalau aku merusak acara prom yang pastinya udah kamu tunggu sejak lama kan?"
"Gapapa, Tam. Nggak usah minta maaf, aku disana juga atas kemauan diriku sendiri, jadi jangan pernah merasa bersalah, okey?"
Anggi merentangkan tangannya, barangkali Tama membutuhkan sedikit pelukan kecil untuk menenangkan perasaan kehilangannya.
Tama menghambur ke dalam pelukan Anggi, walaupun hanya terjadi beberapa detik, namun pelukan itu berhasil memberikan ketenangan baginya.
"Tam, ayo!"
Tama mengangguk lalu beralih menatap teman-temannya satu persatu, "Gue balik dulu, makasih atas dukungannya, karena hal itu sangat berarti buat gue sekarang."
"Sama-sama,Tam. Besok kita mampir ke rumah, sekaligus bareng yang lain."
Setelah selesai berpamitan, Tama langsung masuk ke dalam mobilnya dan menjalankannya kembali menuju ke rumah.
"Tadi itu cewe lo, Tam?"
"Yang mana, Sel?"
"Yang lo peluk tadi."
"Bukan," jawab Tama singkat.
"Terus?"
"Bisa di bahas lain kali kan, Sel?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Hati
Подростковая литература"Kalau cuma di liatin doang, nggak akan bisa jadian, Nggi." "Kodrat cewe itu nunggu, kalau lo lupa." Sudah genap satu bulan Anggi Zelina Nayara menyukai teman sekelasnya, lelaki berparas tampan nan mempesona bernama Mark Natama Altezza. Semesta mema...
