B a g i a n 8 : Permulaan.
Tetaplah bersinar,
Di langit milikku
Terangi temaram
Meski tak berbalas
Temaram - Fiersa Bersari.
***
"Nggi, aku tau kamu kecewa tapi Fitri itu temen kita, dan dia pun merasa bersalah banget waktu liat kamu marah, Fitri juga udah minta maaf kan?"
"Aku juga nggak mungkin bisa marah lama-lama sama kalian, tapi Cimey paham kan sama apa yang aku rasain sekarang?"
"Iya, Nggi. Aku paham, tapi mau sampai kapan?"
"Kita nggak usah bahas ini dulu ya? Aku mau ke kelas duluan, bye Ci!" pamit Anggi lalu beranjak meninggalkan Melisa, bukannya tidak ingin memaafkan, tapi Anggi hanya butuh waktu.
Sesampainya di kelas, Anggi langsung duduk di bangkunya, bersamaan dengan sampainya Femila dan Tama ke dalam kelas.
Keduanya asik tertawa hingga tatapan Tama bertemu dengan bola mata Anggi, sontak lelaki itu terdiam mengingat apa yang baru saja ia ketahui.
"Kamu balik ke kursi aja, Fem. Kita lanjut ngobrol nanti."
Femila terlihat bingung, "Loh? Katanya kamu mau lanjutin di kelas?"
"Nggak jadi," jawab Tama singkat.
Femila hanya mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya, ia tersenyum pada Anggi.
"Hai, Nggi! Tumben sendirian? biasanya bareng Melisa sama Fitri."
"Bukan urusan lo kan?"
"Eh? Iya juga, maaf ya."
Anggi tak berniat membalas, ia memilih untuk tidur dengan tumpukan tangan sebagai alasnya, hari ini terasa melelahkan untuk hati dan pikirannya, mungkin karena terlalu banyak hal yang tiba-tiba terjadi.
"Siang, anak-anak."
Suara guru sudah terdengar di telinganya, ia mengadahkan kepala, walaupun rasanya malas sekali.
"Hari ini kita ulangan ya."
Baiklah, Anggi panik sekarang, atau lebih tepatnya seluruh teman kelasnya.
"Untuk mengurangi peluang menyontek, saya ingin menukar barisan pertama bangku perempuan dengan barisan kedua bangku laki-laki."
Anggi menoleh ke arah barisannya, sial kenapa harus Tama? Kenapa harus lelaki itu? Sekedar bertatap muka saja Anggi malu, apalagi duduk bersebelahan.
"Numpang sebentar ya, Fem."
"Iya, santai aja."
Tama duduk di tempat Femila tanpa menghiraukan Anggi yang sedang berusaha menetralkan jantung sekaligus menahan malu.
Selembar kertas sudah di bagikan oleh guru mereka, Anggi mengerjakannya dengan serius, sedangkan Tama hanya bisa pasrah, tidak ada satu soal pun yang ia mengerti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Hati
Teen Fiction"Kalau cuma di liatin doang, nggak akan bisa jadian, Nggi." "Kodrat cewe itu nunggu, kalau lo lupa." Sudah genap satu bulan Anggi Zelina Nayara menyukai teman sekelasnya, lelaki berparas tampan nan mempesona bernama Mark Natama Altezza. Semesta mema...
