Bagian 40 : Sembunyi

816 80 122
                                        

B a g i a n 40 : Sembunyi.

Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.

- Tere Liye -

***

"Thanks ya, Nggi, acaranya keren banget!"

"Thanks atas undangannya, Nggi."

"Iya sama-sama, makasih juga ya kalian udah mau dateng!"

Satu-persatu orang yang hadir di acara Anggi mulai berpulangan ke rumah masing-masing, hingga tersisa Kelvin, Reza, Aziel, Fitri, Melisa, dan Tama.

"Udah jam berapa anjir ini, Za?"

"Masih jam sepuluh, lama dikit nggak masalah kan, Nggi?"

"Santai, gue malah seneng kalau rame."

"Sumpah ya, senin kan udah mulai ujian akhir, dan gue belum nyicil materi sama sekali anjir," curhat Fitri.

"Dasar kebiasaan, nanti malam minggu panik nelfon aku sama Anggi sambil nangis-nangis karena nggak paham sama materinya, padahal udah di ingetin dari bulan lalu buat nyicil."

Fitri menyengir tanpa dosa, "Uuu sayang-sayang aku, siap-siap gue gituin lagi ya?"

"Santai lah kayak gue dong," pamer Reza dengan bangga-nya.

"Tapi gue bingung beneran, dia nggak ngapa-ngapain nilainya bagus anjir."

"Iyalah, kurang apalagi sih gue, Mel?"

Melisa memandang Reza malas, "Udah yuk bisa yuk."

"Demi apa kita lulus?" monolog Aziel dengan wajah sok sendu.

"Emang lo bakal lulus?"

"Kurang ajar lo, Vin!"

"Tapi iya loh, nggak kerasa juga," ujar Melisa mendukung pernyataan Aziel barusan.

"Emang lo paling ngerti gue deh, Mel."

"Idih? Target gue jangan di embat juga dong!"

"Iihh nggak mau cepet-cepet pisah," rengek Anggi tiba-tiba.

Tama menahan senyumnya, kalian harus tau bagaimana menggemaskannya Anggi di mata Tama saat gadis itu merengek seperti tadi.

Jika hubungan mereka masih seperti dulu, mungkin sekarang tangan Tama sudah terangkat untuk mencubit pipi tembab Anggi yang sangat menggemaskan.

"Kenapa lo Tam? Senyum-senyum sendiri anjir."

"By the way, Mama kalian berdua kayaknya nyambung banget ya? Tuh ngobrolnya sampai ketawa-tawa gitu, nggak tau aja mereka anaknya lagi diem-dieman."

"Diem-diem nahan rindu?" pancing Reza sembari tertawa kecil.

"Apaan sih, Za."

"Apaan sih, Za."

Keduanya saling menatap sebentar, Tama menggaruk tengkuknya sembari melirik Anggi yang tengah menahan senyum.

Rahasia HatiCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang