XXX

718 104 18
                                        

"Lunar! Awas!"

Crok!

Arsus menusuk punggung Anubid. Pedangnya yang menembus dada dia tarik.

"Anda tidak seharusnya ikut bertarung, Pangeran." ujar Lunar di tengah kewaspadaan mereka yang sedang diuji. Lunar hanya takut jika sang pemimpin Entrella itu terluka. Mata mereka harus awas terhadap kanan kiri, agar selamat.

"Bukan saatnya kita memikirkan jabatan, Lunar. Fokus saja pada lawanmu."

Sebagian prajurit Tropski Val harus mati terkena bisa Vesp. Beruntung Noe mengirim pasukan Avem. Mereka dapat menghalau, pula memusnahkan para lebah berbisa itu, dengan api mereka. Hanya saja sekarang kalah jumlah.

Mengeratkan genggaman pedangnya. bersiap bergerak melawan musuh yang sebenarnya tidak begitu hebat. Bukan apa-apa, untuk ukuran monster-monster itu, mereka terbilang bodoh. Tak punya strategi. Asal serang, yang penting korban tumbang.

Tapi tak bisa disepelekan, karena Arsus saja terkena serampang Wendigo. Membuatnya menahan nyeri pada pergelangan kakinya, membuat jalannya pincang.

Berbekal ilmu pedang yang dia kuasai, tidak membuatnya cuma melihat para prajurit kesana-kemari melawan iblis-iblis ini. Pangeran tampan itu memilih untuk ikut andil memusnahkan mereka. Lagipula dia bukan Raja, jadi dia bebas. Berbeda dengan Nex. Dia tak boleh mati. Karena Raja merupakan saka Negeri yang yak boleh runtuh.

Syarat Raja adalah memiliki permaisuri. Dan Arsus terlalu sibuk untuk memikirkan itu. Jadi dia memutuskan, untuk mengosongkan posisi Raja di Entrella.

Bahkan pernah, Noe membawa beberapa orang Putri. Agar dirinya bisa memilih, lalu menjadi Raja. Namun semua dia pulangkan baik-baik. Satu hal yang membuatnya malas menjadi raja adalah, karena dia suka sekali bepergian—yang intinya bukan kunjungan kerajaan, tanpa pengawalan, dan berbaur bersama penduduk lokal.

"Pangeran! Merunduk!"

Arsus menundukkan badannya, ketika cakar Minotaur hampir saja mengenai lehernya.

Sret!

Sebaliknya, Lunar berhasil, menyabetkan pedangnya tepat di leher sang musuh.

Arena perang itu sudah mulai menjadi lautan darah. Bau amis dimana-mana. Arsus menatap ngeri pada mayat yang bergelimpangan di sekitarnya. Ini bukan perkara baik. Lebih baik cepat selesaikan ini semua, sebelum merenggut banyak korban lagi.

Gerakan Arsus cukup cepat. Di serang 3 Lycan, dari depan samping kanan-kiri secara tiba-tiba. Menunggu waktu yang tepat, sejurus kemudian  dirinya menunduk, agar ketiganya saling bertubrukkan. Setelahnya, Arsus dapat menghabisi mereka satu persatu.

Tak kalah dari Arsus, Lunar dan sebagian lebih prajuritnya juga mampu menghabisi monster-monster itu, walau kepayahan. Hingga pada akhirnya, mereka dapat mengatasi para musuh sampai matahari hampir terbenam.

'''

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Vin, melihat Seta memunguti kaca-kaca berserakan.

"Ah, aku tidak sengaja. Maafkan aku."

"Kenapa kau tidak pergi?" Suara lain mengunjungi rungu Seta. Dan muncullah Wyns disana. Menatap sangar Seta yang tengah gelagapan. "Aku menyuruhmu pergi dari sini. Dan kau malah kembali ke sini."

Wyns memutar bola matanya. Merasa lelah, kalau harus menyuruh-nyuruh orang macam Seta. Dia akan lakukan cara lain. "Kau bisa bertarung?"

"Tidak." Vin yang menyambar.

Krak!

"Latih dia Vin. Untuk berjaga-jaga." Wyns melenggang pergi setelah melempar pedang yang masih bersarung kepada Vin.

ᴅᴇ ʟᴜᴄᴇ ᴇɴᴛʀᴇʟʟᴀ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang