IX

1.3K 179 38
                                        


"Tidak ada informasi kehilangan penduduk. Sudah ku jelajahi seluruh perbatasan. Dan nihil, mereka yang sedang pergi juga aman, tidak dalam keadaan hilang." Jelas Noe, lengkap.

"Jadi?"

"Quint, dia bukan dari sini." Timpal Wyns. "Seperti kata Wazee."

"Lalu dia datang dari mana?" Tanya Quint lagi. Memang, sih, semua yang Seta katakan itu aneh.

"Tidak ada yang tahu pasti, dia dikirim Dewa atau iblis. Juga tak ada ramalan apapun tentang kedatangan dia." Lanjut Wyns.

Berdecak sebal, si bungsu yang sudah tak suka dengan kehadiran Seta, di tengah-tengah kehidupannya. "Sihir, dia diciptakan iblis, apa lagi kalau bukan itu, Kak."

"Vin, dewasalah. Jangan simpulkan sendiri, tanpa ada bukti."

"Lalu jelaskan padaku, dia datang darimana?" Wyns bungkam. Dia juga masih terlalu dini jika harus menyimpulkan. "Tidak bisa, kan?"

"Vin, berhenti memojokkan Wyns." Arsus angkat bicara. "Kita juga masih berpikir tentang itu."

Noe menginterupsi, "Aku mau memberi tahu sesuatu. Muncul goa, di tempat tak jauh kalian--" Menatap Faust, Vin, serta Quint. "Berburu."

Semua mendadak menatap Noe tak percaya. "Ini bukan sesuatu yang biasa, selain fenomena itu, aku berpikir, bahwa kejadian itu, bertepatan dengan hadirnya Seta " Sambung Arsus.

"Fenomena?"

Arsus mengangguk, "Tidak terjadi disini, Wyns."

"Aku melihat sesuatu." Celetuk Faust. Semua menatapnya heran dan bingung. "Saat berkuda, aku melihat gelang." Wyns tentu saja kaget, namun dia bisa menyembunyikan keterkejutannya itu.

"Gelang yang sama, dengan milik Ibunda." Lanjutnya. "Persis. Gelang itu cuma satu bukan?" Quint juga Vin yang memang tidak mengerti sang Kakak membicarakan apa, cuma diam, penasaran.

Berbeda dengan Arsus, yang langsung tertuju pada Wyns. "Kenapa Wyns? Kau tidak bilang dari awal?"

"Aku cuma mau memastikan lagi, kalau itu bukan hanya sebuah ilusi." Sanggah Wyns, tak terima.

"Memang ada apa dengan gelang yang kalian bicarakan? Kenapa ada sangkut pautnya dengan Ibunda?" Tanya Vin langsung, karena sudah cukup penasaran, malah Kakaknya berdebat, yang ada.

Terdengar helaan napas dari hampir semua orang. Terkecuali Quint serta Vin. Arsus mengalah untuk menjelaskan, "Itu--gelang yang dipakai Ibunda, gelang pelindung satu-satunya dari Wazee, sebelum beliau tiada."

Semua percakapan ini, sudah Arsus tebak akan berakhir keterdiaman masing-masing. Mengingat sebuah pengorbanan demi seluruh rakyatnya. Mengorbankan dirinya sendiri, untuk dilahap iblis. Dan menjadi kenangan paling buruk dan menyedihkan. Apalagi untuk Quint dan Vin.

"Lalu maksud dari semua itu apa? Mungkin ada gelang yang lain?" Pertanyaan Vin berlanjut, terdengar sinis, dan makin tak suka.

"Tidak ada Vin. Satu-satunya yang dibuat Wazee untuk Ibunda." Wyns juga tak kalah geram. Baiklah, Vin tidak suka dengan orang asing. Tapi seharusnya tidak perlu seperti itu. Apalagi dia seakan meragukan segalanya.

"Oh, baiklah. Jika benar begitu. Tapi aku tak akan segan mengusirnya kalau dia berbuat buruk pada keluarga kita." Memilih melenggang dari sana mengabaikan teriakan para Kakak.

Sungguh, dia benci ini. Ketika ada seseorang yang datang menyita seluruh perhatian orang. Tidak, dia tidak iri akan Kakak-Kakaknya yang membela si orang asing itu. Tapi, setidaknya hargai pendapatnya. Iya, tahu, mereka juga waspada. Tapi benar-benar tidak ada yang mendukungnya? Apa, sebetulnya dia hanya cemburu? Seperti punya Adik? Dia tidak suka ada yang lebih muda darinya.

'''

Sebuah keramaian yang tak biasa, tempat Wazee tengah penuh dengan manusia. Entah ada apa. Semua orang segera membelah kerumunan, membelah jalan, setelah tahu kedatangan seorang Wyns.

Masih seperti biasa setelah melihat jasad yang terbaring di meja. Namun, setelah di dekati. Betapa terkejutnya dia, karena di dada mayat tersebut, tertoreh pesan.

Dia terlahir kembali.

Tubuh Wyns menegang, napasnya memburu. Sekarang ini, dia nampak sekali frustasi. Harus bagaimana dia?

"Dia dibunuh oleh iblis, di rumahnya." Tutur Wazee. "Jiwanya dilahap habis, tadi malam."

"Kenapa?"

"Mereka sudah mulai bergerak. Di bawah kendali seseorang."

"Penyihir maksudmu?"

"Ya, penyihir terkutuk. Ini hanya gertakan, bukan awal permulaan."

"Jadi apa yang mereka mau?"

"Tentu saja, Quint." Menggeram, gigi Wyns bergemelutuk. Tidak. Selama ini kehidupan mereka baik-baik saja. Bahkan tak terjadi apa-apa. Kenapa jiwa Quint harus terancam lagi. "Iblis adalah yang pertama tahu, kedatangan anak itu."

"Maksudmu?"

"Jika kau berpikir akan mengusir atau bahkan membunuhnya. Yakinlah, itu jawaban yang salah. Kau juga pasti sadar, bukan? Bawa dia kesini. Temui aku."

Sungguh, pikirannya kalut, bercampur aduk. Otaknya tak pernah sekusut ini. Disisi lain, dia juga takut kalau Seta akan membawa sesuatu yang buruk, karena semuanya bersangkut pautan dengan iblis. Namun, ucapan Wazee tentang jangan membiarkan dia pergi. Itu juga mengganggu. Faktanya, awal dari kemunculan Seta, juga menjadi pemicu kehadiran penyihir terkutuk serta iblisnya.

Tak beda jauh dari yang lain. Quint juga demikian, masih memikirkan pembicaraan barusan. Seraya berjalan, menuju perpustakaan, dia sedikit melamun. Kenangan bersama orang tuanya, tidak banyak. Tapi Vin juga mengalami itu, kan? Namun, beda. Vin terbilang sehat sejak lahir, dia bisa menikmati masa kecilnya dengan baik.

Perihal Ibunda dan Ayah. Rindu, tentu saja begitu. Maka dari itu, agaknya Quint menghindari sesuatu yang berhubungan dengan mereka. Sebab, kematian mereka yang mengerikan, membuat Quint enggan mengingatnya. Yang selalu dia ingat adalah, kenangan manis, bukan kenangan tragis.

Ketika Ibunda mengandung untuk terakhir kalinya. Tapi, dia, juga empat Kakaknya serta Vin--yang tak mau punya adik--tidak dapat melihatnya.

Tak terasa, dia sudah sampai depan pintu perpustakaan. Tapi, dia tidak langsung masuk, hanya mengambang disana. Entah kenapa, dia merasa begitu dekat dengan Seta. Dia yang tak mudah akrab dengan orang asing--kecuali tahu informasi juga asal-usulnya. Ada sesuatu dalam diri Quint, ingin selalu berada di samping Seta. Seperti seseorang, yang pernah bersama, lalu pergi dan kembali setelah sekian lama. Atau, bisa dibilang Quint menemukan teman dalam diri Seta.

"Seta?" Kenapa sepi sekali? "Seta, kau dimana?" Quint berjalan, matanya menilik sana-sini, namun tak ditemukan batang hidung Seta.

"Apa dia di lantai dua?" Bergegas menuju ke sana. Benar saja, baru sampai di tengah tangga. Maniknya menemukan si mata biru tergeletak tak bergerak.

Peluh seolah membanjiri kening Seta. Bibirnya bergetar konstan. Apa Seta ketiduran sembari membaca buku? Tunggu, bukunya bahkan teronggok agak jauh dari Seta. Lalu dalam keadaan tertutup pula.

Mencoba membangunkan, "Seta, bangun." Menggoyangkan kencang tubuh Seta. Namun, tak ada hasil. Seta tetap diam. Takut, Quint takut. Kalau terjadi sesuatu dengan Seta. Sejurus kemudian, tangan Seta terulur, tapi masih dalam keadaan yang sama.

"Jo-ly-on," Bisiknya, saat Quint hendak meraih jemari itu. Sontak saja, membuat Quint mundur dan terduduk. Mengabaikan tangan itu mengapung di udara.

"Seta, siapa kau?" []

Hoiland
Wonosobo, 2021, 23 Feb.

ᴅᴇ ʟᴜᴄᴇ ᴇɴᴛʀᴇʟʟᴀ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang