3. Menerima hidup baru

27.9K 3.2K 50
                                        

Setelah beberapa hari merenungi nasibnya. Akhirnya Cantika sudah mulai sedikit menerima kenyataan. Ingat hanya sedikit. Itupun karena dia ingat perkataan bundanya bahwa orang bunuh diri tak bisa masuk surga. Iya, Cantika sempat berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dan karena sekarang dia tidak bisa mengakhiri hidupnya dia hanya bisa pasrah.

Dan kini tiba saatnya dia pulang ke rumah Niana. Memikirkan dia harus mulai terbiasa dipanggil Niana membuatnya sedikit-banyak merasa marah. Belum lagi memikirkan masalah yang akan menantinya nanti.

Selama seminggu dia dirawat di rumah sakit tak ada seorang pun yang datang menjenguknya selain kedua dokter menyebalkan itu. Itu pun karena mereka bekerja di sana. Sungguh miris hidup tubuh yang kini digunakannya ini.

Bahkan yang menjemputnya di rumah sakit adalah para pekerja di rumahnya. Yah, setidaknya dia tak perlu repot-repot untuk berhadapan dengan keluarga Niana yang merepotkan itu.

Sesampainya di rumah bak istana itu Cantika hanya bisa menghela nafas lelah. Dia membayangkan betapa lelahnya dia nanti saat ingin ke dapur atau ruangan lainnya. Menjadi orang kaya memang sangat merepotkan.

Saat melewati ruangan yang diyakininya sebagai ruang keluarga, terdengar suara tawa yang saling bersahutan. Hebat! Sungguh hebat! Pikir Cantika. Saat anak dan adik mereka sedang berada di rumah sakit mereka sama sekali tak menjenguk bahkan khawatir pun rasanya tidak. Mereka lebih memilih untuk bersenda gurau satu sama lain daripada meluangkan waktu sedikit saja untuk menjenguknya. Ah! Dia lupa tak semua anak seberuntung dirinya yang memiliki keluarga yang menyayanginya tanpa syarat.

Cantika memang sudah mulai sedikit menerima kehidupannya yang sekarang, tapi jika ada cara selain mengakhiri hidupnya agar bisa kembali ke kehidupannya sebagai Cantika maka dia dengan senang hati akan melakukannya.

"Kak Niana sudah pulang?"

Sebuah suara halus menyadarkannya dari lamunan. Tanpa sadar ternyata sedari tadi dirinya memandangi mereka. Gadis itu pasti Liliana sang pemeran utama.

"Kakak sudah sembuh? Aku benar-benar khawatir dengan keadaan kakak" tanya gadis itu kembali sembari memasang raut wajah khawatir dan mendekatinya.

Jika dia khawatir kenapa tidak menjenguknya coba, pikir Cantika. Dia dirawat selama seminggu. Apa dalam seminggu itu gadis tersebut sama sekali tidak memiliki waktu untuk menjenguknya? Sesibuk apapun gadis tersebut jika dia benar-benar khawatir tentu dia akan menyempatkan diri untuk menjenguknya meski hanya sebentar. Kecuali jika memang dia sama sekali tidak peduli padanya.

Jika dingat-ingat lagi, tak pernah dalam novel tersebut gadis ini memberikan perhatian pada tokoh antagonis kita. Perhatiannya hanya berupa ucapan lisan saja.

Sekarang Cantika ingat. Riana pernah bilang jika pemeran utama novel ini bodohnya minta disleding. Yup, Cantika setuju dengan perkataan Riana.

Karena tahu jika berhubungan dengan pemeran utama hanya akan memberinya masalah yang merepotkan maka Cantika putuskan untuk mengabaikannya.

'Anggap saja dia pohon. Abaikan! Abaikan! Abaikan!' sugesti Cantika pada dirinya sendiri.

Tanpa menjawab pertanyaan terlebih dahulu, Cantika melanjutkan jalannya menuju kamarnya diikuti pekerja yang tadi menjemputnya.

Baru saja berjalan beberapa langkah, seseorang mencekal salah satu pergelangan tangannya.

"Seharusnya lo bersyukur Lili khawatir pada lo! Bukannya malah bertingkah kurang ajar!" Marah orang yang mencengkram tangannya itu.

Cantika yakin orang ini adalah kakak dari Niana yang bernama Dion. Kalau nggak salah dulu Riana menyebutnya dengan sebutan 'Kakak tanpa otak'. Dan sekarang Cantika setuju dengan Riana.

Cantika hanya mengabaikan pertanyaan Lili, dan ini respon dari 'kakak tanpa otak'nya itu? Kenapa harus meributkan hal sepele seperti ini? Kenapa harus sedrama itu?

"Jatuh dari tangga bikin lo jadi bisu? Tinggal jawab aja apa susahnya sih?"

Sedari tadi kayaknya si 'Kakak tanpa otak' ini belum berhenti mengoceh. Cantika harap ocehan ini segera berhenti. Dia ingin tidur.

Bukannya semakin tenang, Dion malah semakin murka. Dia tidak suka diabaikan. Apalagi oleh adiknya satu ini yang biasanya selalu membuat ulah untuk mencari perhatiannya. Dan amarahnya semakin tak terbendung saat mendapati adik menyebankannya ini menguap.

Cantika yang awalnya merasa tak masalah dimarahi meskipun dia merasa tidak melakukan kesalahan, merasa terganggu ketika cekraman ditangannya semakin erat. Apa orang ini benar-benar ingin mematahkan tangannya. Nggak punya otak emang.

Merasa geram dengan tingkah manusia tanpa otak di depannya ini, akhirnya Cantika memutuskan untuk mencubit sekuat tenaga lengan yang mencekalnya tanpa rasa kemanusiaan.

"AAAAAKKKHHHH!!!!!" pekik Dion yang tak menyangka akan mendapat serangan balasan dari adiknya.

Selagi mereka semua fokus kepada Dion, Cantika segera melarikan diri menuju ke lantai 2 diikuti oleh pekerja yang menjemputnya tadi.

"Dimana letak kamarku?" tanya Cantika sesampainya di lantai atas.

Pekerja yang mengikutinya sedari tadi kini berjalan mendahuluinya guna menunjukkan arah.

Sedari awal dia dijemput hingga sekarang, pekerja tersebut hanya mengeluarkan beberapa kata yang sekiranya penting. Bahkan pekerja tersebut tak menyembunyikan raut tak sukanya pada Cantika. Lebih tepatnya kepada Niana. Mau bagaimana lagi, Cantika paham betul hampir seluruh pekerja di rumah ini membenci Niana.

Nah, ini lebih baik baginya yang tak mau diganggu. Lebih baik jika mereka semua menghindarinya daripada mereka berusaha mencari perhatiannya.

Sudah dia duga, kamarnya pasti diapit oleh ruangan si pemeran utama bodoh dan ruangan si manusia tanpa otak.

"Pindah kamarku ke lantai bawah!" suruhnya ke pekerja yang mengantarkannya.

Cantika pikir jika pekerja tersebut tidak sopan kepadanya mengapa dia harus segan. Toh mereka tetap tak akan menyukainya sebagaimana pun kelakuannya.

"Apa?"

Tanpa merasa perlu menjawab, Cantika melangkah memasuki ruangan tersebut. Ruangan ini sangat luas. Tiga hingga empat kali lipat ukuran kamarnya sebagai Cantika.

"Pilih kamar yang dapat mengakses semua ruang dengan mudah"

Mendengar permintaan Niana membuat pekerja tersebut merasa bingung. Bukannya dulu Niana sendiri yang ngeyel agar kamarnya berada tepat di samping kamar Dion. Bahkan sempat bertengkar dengan ayahnya dan kakaknya yang menginginkan Lili untuk menempati kamar tersebut. Apa mungkin ini cara barunya untuk mencari perhatian, pikir sang pekerja.

Karena merasa ini bukan urusannya, sang pekerja hanya menjalankan perintah yang diberikan.

"Saya akan meminta beberapa pelayan untuk membersihkan ruangan baru Nona terlebih dahulu" ucap sang pekerja yang ternyata seorang bodyguard.

Akhirnya sekarang Cantika sendirian. Kini dia dapat merenungi keanehan yang terjadi padanya setelah berada dalam tubuh Niana. Ada 2 hal paling menonjol yang selalu dia pikirkan. Pertama adalah staminanya, biasanya dia akan mudah lelah dengan melakukan bahkan hanya sedikit kegiatan namun tubuh ini seakan tak mengenal kata lelah. Selama memasuki tubuh Niana dia tidak pernah merasa lelah secara fisik, kalau secara psikis sih sering. Dan semua itu terjawab dengan banyaknya piala dan medali yang tersusun rapi di kamarnya.

Dan yang ke-dua adalah emosinya. Sejak memasuki tubuh ini, dia selalu merasa ingin marah dan menangis setiap saat. Mungkin itu adalah perasaan yang selalu dirasakan oleh Niana. Tapi untung saja perasaannya yang meluap-luap itu ditekan oleh rasa malasnya. Dia malas untuk marah. Malas untuk menangis. Untuk pertama kalinya Cantika merasa bangga dengan sifat malasnya. Tapi meski perasaannya ditekan oleh kemalasannya, rasa itu walau sedikit masih dapat dia rasakan. Dia takut jika terus ditekan suatu saat perasaan itu akan meledak. Ini terlalu berlebihan untuknya yang hampir tak pernah berekspresi.

Pikirannya lelah. Dia ingin tidur. Setidaknya selama dia tidur, dia tidak akan mengingat-ingat masalahnya.

Leave me aloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang