Cantika memasuki gerbang sekolah dengan lesu. Rencananya untuk membatalkan pertunangan dengan Satria terpaksa harus ditunda selama 2 Minggu. Salahkan Pak Arya yang pergi ke luar kota tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Lupakan menggunakan telepon, bicara langsung saja belum tentu permohonannya dikabulkan.
”Lecek amat muka. Nggak punya setrika di rumah?"
Celetukan seseorang membuat rutukan dalam hati Cantika berhenti. Tak jauh darinya, Bima berjalan menghampiri.
"Laper" jawab Cantika lesu.
Cantika tidak berbohong. Memang sebagian besar faktor yang menyebabkannya lesu adalah masalah pertunangannya dengan Satria namun ada masalah lain yang tengah melandanya, masalah perut.
Pagi ini dia belum sempat sarapan, alasannya karena Liam dan Lucas juga tidak ikut sarapan. Mereka bilang selama Pak Arya tak ada di rumah mereka tidak punya alasan untuk sarapan dengan si duo lampir dan si Dionsaurus. Dan Cantika tentu tak mau sarapan dengan mereka tanpa Liam dan Lucas. Jadilah mereka bertiga berangkat lebih pagi daripada biasanya.
"Kebetulan. Gue lagi mau ke kafe Rando buat nyari gratisan. Ikut?" ajak Bima.
"Yuk" semangat Cantika.
Cantika yang senang dengan usulan tersebut, segera mengekori Bima. Dan beruntungnya Cantika saat keluar gerbang sekolah dia secara tidak sengaja bertemu dengan Dirga yang tengah ditendang keluar dari dalam mobil. Tanpa ragu dan dengan semangat Cantika segera menghampiri Dirga yang tengah meratapi kepergian mobil yang mengantarnya.
"Pagi Dirga" sapa Cantika bahagia dengan diikuti oleh Bima di belakangnya.
Dirga merasa sedih. Baru juga dia sampai sekolah, masalah sudah datang menghampiri. Ini semua gara-gara Papanya. Bukan. Bukan. Bukan. Ini semua salah Pak Bambang. Jika saja pagi tadi Pak Bambang tidak menelepon Papanya saat Dirga menyelinap ke rumah Pak Bambang, pasti Papanya tidak akan marah dan menyuruhnya berangkat di sepagi ini seperti sekarang ini.
Sekedar informasi, pagi tadi Dirga menyelinap ke rumah Pak Bambang jam 5 pagi. Jadi jangan salahkan Pak Anton yang merasa kesal dengan kelakuan Dirga. Dan tanpa dapat membendung rasa kesalnya Pak Anton menendang Dirga keluar dari mobil dengan sepenuh hati.
"Pagi" jawab Dirga canggung sembari masih terduduk di jalanan.
"Kenapa lo?"
"Ada beberapa insiden di rumah, Bim"
Bima yang merasa tak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan pribadi Dirga hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Bima tidak mau mengorek informasi pribadi orang lain lebih banyak karena Bima tidak ingin berubah menjadi seperti si tukang gosip Rando yang suka mengumpulkan informasi pribadi orang lain. Membayangkannya saja sudah membuat Bima bergidik ngeri.
"Udah sarapan?" tanya Bima lagi "kalau belum, ikut aja kita ke kafe Rando"
Tanpa menunggu jawaban dari Dirga, Cantika segera menarik Dirga berdiri dan membawanya menuju ke kafe Rando. Sedangkan Bima hanya mengikuti mereka dari belakang.
Beruntungnya mereka saat sampai di kafe Rando, Rando tengah berada di depan kafenya menyirami tanaman hias yang berjejer rapi di depan kafe.
"Ngapain pagi-pagi udah pada ke sini?" tanya Rando tanpa menghentikan kegiatannya.
"Sarapan" jawab Bima.
"Kafe gue masih tutup, bukanya jam 11"
"Nggak ada istilah tutup buat temen" ucap Bima sembari memasuki kafe tanpa mempedulikan ucapan Rando "Nasi goreng pedes satu"
"Udah gue bilang kafe gue buka jam 11" jengkel Rando.
"Sabar Ran. Pagi-pagi jangan marah" ucap Cantika menenangkan "Nasi goreng gue jangan pedes ya. Telurnya 2 setengah matang" lanjut Cantika sembari berlari menyusul Bima ke lantai 3.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me alone
FantasíaNiana Putri Joyodiningrat, seorang tokoh antagonis dalam sebuah novel. Sesuai dengan perannya, Niana akan selalu berusaha membuat masalah untuk sang protagonis. Hingga akhirnya datanglah sang pangeran berkuda putih yang akan datang menyelamatkan san...
