Cantika itu benar-benar malas dengan yang namanya masalah. Jadi dengan senang hati akan menjauh dari kehidupan Satria dan Liliana guna tidak menghalangi kisah cinta mereka. Tapi apa daya Cantika yang hanya manusia biasa tak dapat mengubah takdir. Keadaan terus memaksanya untuk berubah menjadi villain yang akan dan selalu terlibat dalam masalah. Seperti halnya yang dialaminya saat ini.
Setelah satu jam profesor menjelaskan perihal buku klasik yang dibawanya, kini profesor menyuruh anak didiknya untuk berdiskusi berkelompok mengenai isi buku tersebut. Dan dari 6 kelompok yang dibuat, Cantika harus satu kelompok dengan Satria dan Liliana. Padahal kelompok dibuat secara acak menggunakan undian. Cantika merasa takdir memang tak pernah berpihak padanya di dunia ini. Cantika bahkan sering berpikir jika hidup di dunia ini adalah hukuman untuknya yang seorang pemalas.
Dan disinilah dia, duduk bersama dengan para anggota kelompoknya. Ada si muka masam yang Cantika tebak adalah Satria. Ada Liliana yang masih saja mencoba mendekati Niana padahal tahu kalau Niana benci setengah hidup kepada Liliana. Ada si murid teladan dayang Niana. Dan ada satu murid yang sangat dikasihani Cantika karena terseret dalam drama ini.
Mereka berlima seharusnya mendiskusikan pro dan kontra dari isi buku tersebut, namun bagaimana mau berdiskusi jika salah satu anggota kelompok mereka tak hentinya menunjukkan raut masamnya. Bahkan tak jarang mereka mendengar suara decakan lidah yang sengaja dikeraskan dari anggota tersebut. Siapa lagi jika bukan Satria yang sangat tidak puas dengan kehadiran Niana di kelompok tersebut.
Cantika yang tahu hal tersebut hanya berusaha abai. Dia tidak merasa membuat masalah di sini, jadi dia tidak harus merasa terbebani dengan perasaan Satria. Lagipula Cantika sudah memutuskan untuk tidak berurusan dengan Satria selama tidak ada urusan penting.
"Awas aja Lo sampe bikin ulah!" peringat Satria dengan nada marahnya.
Cantika yang sedari tadi duduk hanya bisa menatap heran Satria. Seingatnya sedari tadi dia tak melakukan apapun, bicara pun tidak. Satria sendiri yang sedari tadi membuat suasana permusuhan dengan Cantika. Dan sekarang, Cantika yang dituduh membuat ulah?
"Ok Sat" namun Cantika yang seharusnya merasa baik-baik saja mendengar tuduhan Satria kini egonya merasa sedikit tersakiti berkat emosi yang masih tertinggal di dalam tubuh Niana dan berniat untuk setidaknya sedikit mengganggu Satria.
Dan Satria yang sedari awal memang sudah tidak menyukai keberadaan Niana kini semakin merasa marah setelah mendengar nama panggilan dari Cantika yang terdengar seperti merendahkannya.
"Apa lo bilang?" geram Satria.
"Apa?" Cantika berpura-pura bingung yang dia perlihatkannya dengan jelas.
"Lo panggil gue apa tadi?" emosi Satria makin tersulut.
"Sat?" Lanjut Cantika masih berpura-pura bingung "Nama Lo Satria kan?"
"Kalo ini cara Lo buat narik perhatian gue, jangan harap bakal berhasil!"
"Oh...ok"
Cantika merasa bingung karena tidak menduga Satria akan mengira jika ini salah satu triknya untuk menarik perhatian Satria. Padahal Cantika benar-benar tulus untuk membuat marah Satria.
"Lo pura-pura nggak tertarik lagi sama gue biar gue merhatiin Lo kan?" tuduh Satria.
Cantika akui Satria memang tampan. Hidungnya yang bangir, rambut halus hitam legam yang tidak lepek maupun kering, rahang tegas, tatapan mata tajam dan terutama aura dominannya yang jelas terasa, mampu membuat banyak wanita bertekuk lutut padanya. Tapi tidak cukup tampan untuk membuat Cantika rela melepaskan kehidupan tenangnya demi mengejar-ngejar Satria.
"Asal Lo tau aja gue nggak bakalan dan nggak akan pernah tertarik sama Lo. Apapun yang Lo lakuin nggak akan pernah bisa buat gue suka sama Lo. Camkan itu dalam otak Lo!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me alone
FantasíaNiana Putri Joyodiningrat, seorang tokoh antagonis dalam sebuah novel. Sesuai dengan perannya, Niana akan selalu berusaha membuat masalah untuk sang protagonis. Hingga akhirnya datanglah sang pangeran berkuda putih yang akan datang menyelamatkan san...
