28. Salah Niana!!!

17K 2.4K 179
                                        

16 November 2021. Cieeee nungguin. Sorry ngaret.

Perlahan kelopak mata seorang gadis terbuka. Atap putih lah hal pertama yang dia lihat. Atap putih khas rumah sakit yang sering ditontonnya di drama.

Mengerjap beberapa kali sebelum pengelihatannya kembali seperti biasanya. Setelah pengelihatannya kembali normal, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah sang kakak yang tengah duduk menemaninya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

“Kak...” panggil gadis tersebut dengan lemah.

Tidak seperti harapannya, sang kakak tidak segera menjawab panggilannya seperti biasanya. Tak juga menunjukkan raut khawatir seperti biasanya. Kakaknya kini hanya menatapnya dalam diam.

Apa salahnya hingga sang kakak sampai marah seperti ini? Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan apapun.

“Kamu...” sang kakak menjeda ucapannya.

Gadis itu sedikit kaget. Sang kakak yang biasanya akan memanggilnya dengan nama panggilannya kini menggunakan ‘kamu’ untuk memanggilnya.

Ada apa dengan kakaknya sebenarnya?

Sang gadis tak ada niatan untuk menyela perkataan kakaknya. Dia memilih untuk menunggu sang kakak melanjutkan perkataannya yang sepertinya memiliki sangkut-paut dengan keanehan kakaknya.

“Yang dikatakan Niana tadi pagi apa benar?” tanya sang kakak akhirnya.

“Yang mana?” tanya gadis tersebut masih tidak memahami arah pembicaraan sang kakak.

“Yang bilang kalau Satria dan teman-temannya sering ngejek Niana yang ngedeketin Satria” ucap Dion mengingat-ingat perkataan Niana tadi pagi.

Gadis itu—Liliana—terdiam. Sejak kapan kakaknya peduli dengan hal tersebut? Biasanya juga kakaknya akan abai dengan kakak perempuannya.

“Itu bener?” tanya Dion kembali setelah belum mendapatkan jawaban dari Liliana.

Liliana hanya diam sebagai jawaban. Menandakan jika perkataan Niana tadi pagi memang benar adanya.

“Kenapa kamu nggak pernah bilang?” tanya Dion dengan nada melas.

Liliana masih saja diam.

“Kenapa kamu nggak pernah cerita kalau Niana sering diejek Satria dan teman-temannya?” Dion menatap kecewa Liliana yang hanya menundukkan kepalanya.

“Dan apa bener kalau beberapa hari yang lalu Satria dan Dewa ngejambak rambut Niana?” lanjut Dion masih menuntut jawaban dari Liliana.

Liliana masih diam. Namun dengan perlahan dianggukkan kepalanya dengan ragu. Melihat jawaban Liliana, Dion segera mengubah tatapan datarnya pada Liliana menjadi tatapan kecewa.

“Kakak kecewa sama kamu, Li” Dion tidak sanggup untuk tidak menyatakan kekecewaannya pada Liliana.

“Lili—“

“LILI”

Belum sempat Lili memberi pembelaan diri, seseorang sudah terlebih dahulu memotong ucapannya dengan memanggil namanya khawatir.

Dari arah pintu ruang inap Liliana, Satria dan teman-temannya datang. Sebagian dari mereka terlihat khawatir, ada juga yang acuh tak acuh dan ada juga yang menatap Liliana jengah. Yang terakhir itu dikhususkan untuk Zidan. Dia sudah lelah dengan Liliana yang tak pernah absen membuatnya kerepotan.

“Kamu nggak apa-apa kan? Nggak ada luka serius kan?” tanya Satria bertubi-tubi dengan khawatir.

Dion yang semula duduk di kursi samping ranjang rawat Liliana segera berdiri dan memberikan tempatnya pada Satria dan teman-temannya.

Leave me aloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang