28 Juni 2022. Nggak direvisi kembali jadi kalau ada kata yang nggak sreg ya maapin.
Hari ini hari minggu. Cantika, Liam dan Lucas berencana untuk melihat rumah mereka. Menurut Dirga yang setiap hari mengamati rumah tersebut, renovasi sudah lebih dari 50 persen selesai. Diperkirakan tak lebih dari 1 bulan rumah tersebut sudah bisa dihuni. Terima kasih pada teman-temannya yang banyak membantu menemukan ahli yang tepat hingga pekerjaan cepat selesai.
Ting! Tong! Bunyi bel pintu ketika ditekan oleh Niana. Dengan berbekal buah tangan yang berada di tangan kanannya untuk pertama kalinya Cantika mengunjungi rumah Dirga.
Saat pintu terbuka, muncul sosok perempuan paruh baya yang terlihat kalem.
“Iya, nyari siapa ya?” tanya perempuan tersebut yang Cantika taksir sebagai ibu dari Dirga.
“Saya Niana temannya Dirga, Tante. Saya ke sini mau—“
BRAAAAKKK!! Belum sempat Cantika menyelesaikan kalimatnya, pintu rumah Dirga ditutup dengan kasar tepat di depan muka.
“Kita nggak dibolehin masuk ya?” sedih Lucas menatap ke arah kakaknya.
“Kehadiran kita tidak diharapkan” Liam ikut memelas.
Cantika yang masih terpaku juga mulai merasa sedih.
“Cari jajan dulu yuk! Nggak jauh dari sini ada warung kopi yang jual banyak jajanan, siapa tau abis jajan kita diijinin masuk” ajak Cantika menghibur adik-adiknya sekaligus menyemangati diri sendiri.
“Ada seblak?” tanya Liam.
“Kayaknya ada” jawab Cantika.
“Cupcakenya boleh dimakan?” tanya Lucas menunjuk buah tangan yang dibawa Niana.
Cantika mengangguk menyetujui tak sanggup menolak setelah mereka sudah merasakan ditolak untuk hari ini.
QodoQ Lu
Sembari ditemani semangkok seblak, cupcake, sebungkus cilok dan semangkuk es buah, Cantika mendengarkan celotehan kedua adiknya. Kedua cerita adiknya seakan tak ada habisnya, mulai dari kegiatan sekolah, teman-teman, bahkan hingga anak-anak yang mereka labeli sebagai musuh. Cantika dengan cermat memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut mereka hingga perhatiannya teralihkan kepada seseorang yang baru datang ke warung kopi.
“Kalian lanjutin makannya, kakak mau nyapa temen kakak dulu” pamit Cantika pada Liam dan Lucas.
“Mang Jaja, kopi susunya satu sama gorengannya 10000” pesan—setengah berteriak—'teman’ Cantika yang baru datang.
“Gorengannya isi apa aja?” sahut Mang Jaja—yang juga ikut berteriak—dari dalam warung kopi.
“Campur Mang”
“Agak lama nggak pa-pa? Masih mau digoreng ini”
“Saya mah selalu sabar kalau sama Mang Jaja. Selama apapun pasti akan saya tung—“ omongan orang tersebut terhenti ketika melihat seseorang yang berjalan mendekatinya.
“Hi” sapa Cantika pada ‘temannya' tersebut.
Orang tersebut hanya bisa diam mematung karena perasaan takut dan terkejut yang menyerang secara tiba-tiba.
“Akas kan?” tanya Cantika memastikan.
Akas yang meski tahu jika dirinya diajak bicara oleh Niana hanya bisa diam. Dirinya memang terlihat sok jika bersama Zidny, tapi jika sendiri begini dirinya merasa ngeri-ngeri sedap jika harus berhadapan dengan Niana. Apalagi jika dia mengingat tingkat pembullyan Niana yang begitu ekstrem condong ke gila. Terdengar pengecut memang, tapi bagi Akas jauh lebih baik dia dikatai pengecut daripada dia melawan Niana yang lebih segala-galanya dari dia. Keluarga Niana hanya butuh satu kalimat untuk menghancurkan keluarganya, secara mental juga Niana jauh lebih kuat darinya (perlu diingat jika bagi Akas Niana itu si gila yang tak takut apapun) dan meski dia laki-laki dan Niana perempuan namun Akas yakin jika Niana lebih dari mampu untuk mematahkan lehernya jika mereka adu fisik. Dia tidak mau berakhir seperti Mawar maupun Tika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me alone
FantasíaNiana Putri Joyodiningrat, seorang tokoh antagonis dalam sebuah novel. Sesuai dengan perannya, Niana akan selalu berusaha membuat masalah untuk sang protagonis. Hingga akhirnya datanglah sang pangeran berkuda putih yang akan datang menyelamatkan san...
