49. Tristan

1.6K 143 55
                                        

Kamis, 13 November 2025

Hari ini perasaannya tak tenang. Gelisah terus menghantuinya. Instingnya yang telah terasah selama belasan tahun memberikan peringatan tanda bahaya. Sepertinya musuh sejatinya akan melakukan pergerakan malam ini.

Dia bukanlah dia yang sebelumnya. Bukan dirinya dari masa lalu yang akan dengan bodohnya memasuki perangkap musuh. Dia kini mampu menunggu pergerakan musuhnya dengan tenang. Dia yakin akan kemampuannya setelah pengalaman belasan tahunnya menghadapi segala serangan musuhnya.

Kini dia sudah siap dengan apapun itu.

Dihisapnya kembali rokok yang menemaninya dalam penantian malam ini. Dengan pelan dan khidmat. Menikmati setiap detik dalam kenikmatan dan ketegangan penantian.

Akhirnya musuhnya datang. Wujudnya memang belum nampak, tapi dia tahu jika musuhnya sudah semakin mendekat. Intuisinya tidak pernah meleset.

“Malam”

Seperti biasa sang musuh akan menampilkan senyum ramah sebagai topeng untuk menutupi kelakuan busuknya.

“Apapun rencanamu malam ini” dia menjeda kalimatnya untuk kembali menghisap rokok yang sudah hampir habis ditangannya, menghembuskan asapnya dengan perlahan guna menunjukkan kesiapannya “tidak akan berhasil”

“Benarkah?” tanya sang musuh dengan nada meremehkan.

Diberikannya tatapan menantang pada sang musuh.

“Bahkan jika itu menyangkut salah satu anak kesayanganmu?”

Hatinya bergetar ketika sang musuh menyebutkan para kesayangannya. Tidak! Sang musuh hanya menggertaknya. Dia udah memastikan jika para kesayangannya sudah pada tempat yang aman.

“Bualanmu tak akan mempan padaku”

Mendengar nada penuh keyakinan darinya membuat sang musuh tertawa mengerikan.

“Tristan” satu nama keluar dari mulut sang musuh.

Nama itu! Nama yang selama setahun ini tak lagi di dengarnya. 

“Jangan ucapkan namanya dengan mulut kotormu itu! Kau yang membuatku kehilangan dia!”

“Kehilangan?” Sang musuh terkekeh “Sungguh mengecewakan! Benar-benar mengecewakan! Anda yang selalu mengaku menyayangi Tristan sepenuh hati bahkan tidak mampu menyadari kehadirannya di sekitar anda”

“Apa maksudmu?”

“Selama ini nyatanya Tristan masih ada di sekitar kita”

“Tidak mungkin! Kau pasti hanya membual!” Ucapnya penuh emosi.

“Saya tahu anda saat ini sedang berusaha membodohi diri anda sendiri. Saya tahu jika saat ini di dalam hati kecil anda tengah membunuh harapan-harapan yang mulai tumbuh. Anda takut merasa kecewa akan harapan yang tak terkabul. Tapi rasa takut itulah yang membuat anda tak dapat menemukan Tristan. Saya tahu anda terkadang mendengar suara Tristan, namun segera anda sangkal karena anda takut. Pe-nge-cut!”

“JAGA UCAPANMU!!!!”

“Sebulan yang lalu Tristan masih ada di rumah kosong itu”

Sang musuh menunjuk salah satu rumah di dekat mereka. Rumah yang sedang dalam renovasi, rumah yang sebulan lalu masih terbengkalai. Dia menangis meratapi sifat pengecutnya sekaligus menangisi nasib malang Tristan. Dia pasti merasa ketakutan berada di rumah kosong itu sendirian.

“Dimana dia sekarang?”

“Ikuti saya”

Tanpa keraguan dia mengikuti kemana sang musuh melangkah. Tanpa keraguan. Kali ini dia akan menghilangkan seluruh sifat pengecutnya.

Leave me aloneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang