Perlahan kelopak mata seorang gadis terbuka. Mencoba mengerjapkannya beberapa kali guna membiasakan cahaya yang memasuki matanya.
Merasa pandangannya semakin membaik, dilihatnya keadaan sekitar. Mencoba memahami keadaannya. Dan tanpa dapat dicegah gadis tersebut menangis akan perasaan membuncah yang dirasakannya. Dia bersyukur. Benar-benar bersyukur karena Tuhan mengabulkan do'anya. Dia masih hidup. Dia masih dapat berkumpul bersama keluarga dan sahabatnya.
Setelah euforia yang dirasakannya mereda dan juga setelah merasa cukup lelah karena terlalu lama menangis, dia mulai memperhatikan sekitar dengan lebih teliti. Dia cukup yakin bahwa sekarang dia tengah berada di rumah sakit dan berada di ruangan yang diyakininya bukan kamar rawat biasa dan hal tersebut membuatnya cukup terkejut. Keluarganya bukanlah keluarga kaya yang dapat menghambur-hamburkan uang seenaknya. Kamar yang ditempatinya untuk beberapa hari menginap ini bisa menghabiskan seluruh gaji ayahnya selama sebulan. Dia tahu mereka menyayanginya tapi ini terlalu berlebihan.
Tapi...kemana mereka sekarang? Kenapa mereka tak menungguinya? Biasanya jika dia sakit mereka akan mengelilingi kasurnya. Sesibuk-sibuknya mereka pasti akan menyempatkan diri untuk merawatnya. Apalagi sahabatnya itu takkan segan-segan untuk bolos sekolah. Tapi kini dia sendiri. Tak ada satu orangpun yang menemaninya. Ini terasa aneh baginya. Teramat sangat aneh.
Mencoba berpikir positif, dia menunggu mereka datang tanpa memanggil perawat menggunakan tombol yang berada di samping ranjang rawatnya. Namun setelah 1 jam menunggu, masih belum ada tanda-tanda kedatangan orang yang dikenalnya. Ini benar-benar terasa aneh.
Selagi dia berada dalam pikirannya, seorang perawat memasuki kamar rawatnya.
"Nona Niana sudah bangun?" tanya perawat tersebut "Tunggu sebentar akan saya panggilkan dokter"
Seseorang yang dipanggil Niana tersebut kini masih sibuk dengan pikirannya sehingga tidak memperhatikan apa yang dikatakan oleh sang perawat.
Tak butuh waktu lama perawat tersebut kembali bersama seorang dokter yang terlihat masih muda. Melakukan beberapa pemeriksaan dan menyatakan bahwa tidak ada hal serius yang terjadi pada sang pasien.
"Keluarga saya mana?" tanya gadis tersebut.
Mendengar pertanyaan sang pasien, dokter tersebut memandanginya dengan tatapan aneh beserta kerutan di dahi.
"Keluarga kamu....sibuk" jawab sang dokter dengan sedikit ragu.
Sibuk? Sibuk apa? Keluarganya yang akan selalu berada di sisinya saat sakit itu tak bisa menemaninya yang habis tertabrak mobil ini karena sibuk? Ayahnya yang bahkan pernah membatalkan perjalanan keluar kota hanya karena dulu dirinya terserempet motor, tak datang karena sibuk? What a bullshit!
"Tenang saja, di rumah sakit ini banyak dokter dan perawat yang akan menjagamu" hiburnya setelah melihat wajah kecewa pasiennya yang sekaligus keponakannya itu.
Melihat keponakannya yang semakin mengerutkan dahi membuatnya hanya bisa menghela nafas lelah.
"Di sini juga ada om yang akan menjaga Niana. Jadi Niana nggak usah sedih ya?"
Niana? Dokter tadi memanggilnya dengan nama Niana? Dia bukan Niana!
"Cantika" ralat gadis tersebut.
"Iya?" jawab sang dokter kebingungan.
Cantika benar-benar berharap salah seorang keluarganya maupun sahabatnya datang saat ini. Dia ingin mereka yang mewakilinya untuk bicara. Ini terlalu melelahkan dan merepotkan untuk berbicara. Apalagi jika harus mengulangi ucapannya.
"Saya Cantika"
Cantika harap sang dokter paham jika dia salah orang. Dia Cantika bukan Niana.
Dokter tersebut mengernyitkan dahinya kembali. Namun dengan segera memberikan pertanyaan pada seorang yang diyakininya sebagai keponakannya, Niana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave me alone
FantasyNiana Putri Joyodiningrat, seorang tokoh antagonis dalam sebuah novel. Sesuai dengan perannya, Niana akan selalu berusaha membuat masalah untuk sang protagonis. Hingga akhirnya datanglah sang pangeran berkuda putih yang akan datang menyelamatkan san...
