Dia hebat

94 42 9
                                        

Hi!

Kalian nunggu yah!

Maaf karena buat kalian nunggu.

Di part kali ini aku pengen numpahin semua emosiku lewat air mata.

Jadi teruntuk kalian yang baca, siapin tisu.

Komen sebanyak 200

==============================

POV Belva

Setelah mengganti pakaian, aku langsung pergi melalui jendela. Aku belum sanggup bertemu siapapun sekarang, apalagi Bu Tati. Pasti akan bertanya banyak mengenai kejadian tadi.

Sekarang aku memanjat pagar belakang sekolah. Yah aku bolos. Dan untuk saat ini aku tidak mau belajar, karena aku ingin mengeluarkan semua emosiku sekarang.

Aku terus berlari menjahui sekolah. aku tidak peduli lagi jika aku di hukum besok karena bolos sekolah. Aku tidak peduli .... Hari ini aku hanya ingin sendiri.

Aku tidak tau ke arah mana aku berlari. Aku memasuki kawasan hutan dan mendaki gunung dengan terus berlari sambil menangis. Sesekali aku terjatuh, namun aku bangkit dan menghapus air mataku lalu terus berlari mendaki gunung.

Aku tidak peduli lagi dengan luka yang ada di tubuhku sekarang, karena itu tidak terlalu sakit di bandingkan dengan hatiku yang setiap hari harus merasa kesedihan dan pedihnya hidupku ini.

Aku akui, aku memang lemah. Tapi siapa yang bisa bertahan hidup jika hidupnya sepertiku. Mungkin mereka akan bunuh diri karena tidak memiliki tujuan hidup.

Aku berhenti berlari akibat jalan buntu. Di depanku sekarang, ada sebuah jurang yang memperlihatkan kota jauh di sana.

Aku berdecih, melihat ke bawah sana karena sedari tadi aku berlari, ternyata aku hanya berputar-putar di sekitar tempatku saja.

Aku kembali berdecih karena sangat bodoh!

Aku menatap pemandangan di hadapanku sekarang.

Indah.

Itu yang ada di benakku sekarang.

Jika seseorang melihat pemandangan seperti ini tiap hari, pasti akan lebih tenang dan damai. Namun tidak bagiku. Karena menurutku, kota metrapolitan yang ada di hadapanku saat ini membuatku seperti ada di neraka.

"HUAAAAAAA ... AKU BENCI HIDUPKU" teriakku ke arah kota.

"AKU BENCI DENGAN DIRIKU YANG LEMAH ... AAAAAAAAAAAAAA!" teriakku lalu menangis.

"Tuhan ... Hiks ... apa salahnya, jika Kau mengabulkan doaku" kataku menunduk lemah dan jatuh terduduk karena tak bisa menopang tubuhku lagi.

"Hiks ... itu sederhana ... tapi kenapa? Hiks ... kenapa sangat sulit mengabulkan permintaanku?" ucapku semakin menangis.

"Hanya satu. Tapi kenapa?" gumamku pelan.

"Aku tidak kuat jika harus terus hidup seperti ini Tuhan."

"Aku tidak kuat."

"Aku iri pada makhluk lain yang Kau ciptakan. Mereka sangat kuat. Sedangkan aku sangat lemah."

POV end

Sedari tadi seorang laki-laki remaja yang bersembunyi di balik pohon membiarkan Belva berteriak dan menangis sesukanya.

Waktu Belva datang laki-laki itu langsung bersembunyi karena penasaran dari mana Belva tahu tempat itu. Tapi semakin mendengar suara pilu tangis itu, dia menjadi kasihan dan simpati padanya.

Why Should Be Me [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang