Hi semuanya! Jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan cara komen dan vote part ini, oke!
Sehat selalu buat kalian 😉
Selamat membaca!
❤
_
_
_
_
_
Tok...Tok...Tok....
"Masuk!" jawab seseorang dari dalam ruangan itu.
Pria yang mengetuk pintu itu lalu membuka handle pintu dan masuk ke dalam ruangan. Dan tak lupa menguncinya kembali.
"Maaf Pak, mengganggu waktu anda," ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Katakan, ada informasi apa?" tanya pria yang duduk sambil membaca dokumennya. Di mejanya tertulis nama Mr. Raymon.
"Ini tentang Nona Belva, Pak," jawabnya.
Raymon mendongak karena penasaran dengan informasinya.
"Kenapa dengan anak sialan itu?" tanya Raymon berhenti membaca dokumennya.
"Sesuai permainan, Nona Belva sekarang di teror dan ingin diculik oleh Mr. Crhistan," jawabnya lagi.
Raymon tersenyum jahat.
"Itu berita bagus. Sekarang anak itu pasti merasa tertekan dan merasa sangat takut," ucap Raymon.
"Dia juga sering dibully oleh teman sekolahnya, jadi dia pasti tambah stres Pak, " tambah pria itu.
Raymon tertawa.
"Itu sangat bagus, kita tidak perlu membunuh anak itu bukan? Dia akan membunuh dirinya sendiri, atau mungkin Crhistan yang akan membunuhnya. Kita tidak akan mengotori tangan kita" katanya lalu tertawa lagi.
"Bapak benar."
Saking senangnya, Raymon tertawa begitu bahagia. akhirnya dendamnya akan terbalaskan dengan sendirinya tanpa mengotori tangannya sendiri.
()*_*()
Di atas gendongan Mikeil, Belva merasa cemas. Dia merasa kasian pada Mikeil yang sudah ngos-ngosan menggendongnya sedari tadi.
Menggendong bobot seseorang sepertinya bukanlah yang wajar untuk Mikeil, apalagi medannya adalah pegunungan. Tapi Mikeil tetap menggendongnya. untung saja Mikeil sering berolahraga, jadi dia punya banyak stok tenaga untuk sesuatu yang tidak terduka seperti ini.
Sebenarnya lo baik Mikeil, tapi kenapa? Kenapa kamu jadiin aku bahan taruhan. Batin Belva mengingat antusiasnya Mikeil waktu itu.
"Mikeil," panggil Belva namun tak ada jawaban.
"Apa masih jauh, kalau kamu capek kamu bisa nurunin---"
Belum selesai mengucapkan perkataannya Mikeil lebih duluan menurunkannya.
Belva yang melihat pemandangan di puncak Gunung Tangkuban Perahu itu ternganga. Dia lalu melangkahkan kakinya ke pagar pembatas gunung sedikit demi sedikit karena kakinya masih sakit. Kemudian dia merentangkan tangannya dan tersenyum menutup matanya menikmati angin sopoi-sopoi yang menerpa dirinya begitu segar.
Belva benar-benar menikmati pemandangan itu. Sedangkan Mikeil masih menetralkan nafasnya yang tersengal-sengal karena capek. Belva membuka matanya lalu berbalik ke belakang melihat Mikeil.
Belva tersenyum mengambil air putih di kantong tasnya, lalu melangkah memberikannya pada Mikeil dan Mikeil meminumnya hingga tandas.
"Makasih," hanya kata itu yang bisa dia ucapkan. Yah, walaupun tidak ada respon dari Mikeil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Misteri / Thriller> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)