Mereka khawatir

88 47 176
                                        

Tetap tinggalkan jejak kalian, oke!

Selamat membaca
.
.
.
.
.
.

Di ruang makan keluarga Raymon, suasana begitu mencekam karena kejadian semalam. Tidak ada yang bersuara. Bahkan makanan yang ada di depan mereka tidak disentuh sedikit pun.

"Papa akan tinggal mulai hari ini di sini" kata Rafi membuat Sella dan Raymon membulatkan matanya kaget sedangkan Salsa dan Belva malah senang.

"Terus Mama bagaimana, siapa yang jaga dia di Bandung?" tanya Sella sedikit ngegas.

"Papa sudah pindahkan ke rumah sakit di sini. Papa juga harus fokus dengan cabang perusahaan Papa di sini dan juga mau menjamin keadaan cucu papa sekalian!" ucapnya lalu memakan sarapannya.

Mendengar itu, Raymon mengepal kuat tangannya. Sedangkan Sella malah khawatir.

"Salsa, Belva. Makan sarapan kalian, nanti kalian bisa terlambat ke sekolah."

"Iya Kek" ucap mereka berdua lalu makan.

Setelah sarapan, semuanya keluar rumah. Salsa membuka pintu mobil dan Belva berjalan menuju pagar untuk mengejar bus. Raymon dan Sella juga masuk ke dalam mobil mereka.

"Belva!" panggil Rafi.

"Iya, Kek." Sahut Belva berbalik.

"Berangkat sama Salsa!" suruh Rafi

Belva kaget lalu melihat ke dalam mobil yang dinaiki Raymon. Sedangkan yang dilihat melihatnya dengan tatapan yang sangat tajam dan rahang yang sangat keras.

"Masuk Sekarang!" Belva tersentak lalu masuk mobil bersama Salsa karena takut jika kakeknya juga marah.

Setelah mobil berjalan, Salsa menepuk punggung Belva berusaha menyalurkan kekuatan.

"Semuanya bakal baik-baik aja sekarang." Ucapnya membuat mata Belva memanas.

"Apa mungkin?" tanya Belva tidak yakin.

"Hmm. Sekarang Kakek ada di rumah, pasti semuanya baik-baik saja." Salsa yakin itu.

"Tapi aku nggak yakin," balas Belva lalu menangis mengingat perkataan Papanya semalam.

"Kamu bisa, kamu kuat!" ucap Salsa juga ikut menangis lalu memeluk Belva.

Belva menggeleng tidak setuju. Karena nyatanya dia tidak kuat jika sudah menyangkut dengan orang tuanya.

"Sabar yah, Non" ujar Pak Darwi

Sebenarnya Pak Darwi kasian pada mereka, namun apalah dayanya yang hanya sebagai supir pribadi di keluarga mereka. Mau ikut campur, pastinya dia akan dipecat. Jadi lebih baik dia diam, dari pada jadi pengangguran.

Sesampainya mereka di sekolah, Salsa dan Belva langsung turun dari mobil dan masuk ke pekarangan sekolah.

"Kamu duluan aja, aku mau ke toilet" ucap Belva.

"Ya udah. Jangan terlalu lama, bentar lagi masuk soalnya," saran Salsa.

"Hmm."

Salsa kemudian masuk terlebih dulu. Sedangkan Belva kembali berbalik ke luar pagar sekolah.

Satpam sekolah memanggil-manggil Belva, namun Belva tak menghiraukannya. Dia terus berjalan menyusuri trotoar dengan air mata yang terus mengalir dan dada yang sesak.


(===)


Di dalam kelas XII IPS 1, semua siswa sibuk dengan temannya masing-masing, kecuali Salsa. Dia lebih memilih mengerjakan tugas yang belum sempat dikerjakannya semalam karena kejadian itu.

Why Should Be Me [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang