Hai!
Tetap semangat yah, karena hari indah itu akan datang.
Jangan lupa pencet bintang dan comen yah.
Selamat membaca!
===============================
Pagi hari telah datang dan semua orang kembali melakukan rutinitas mereka masing-masing. Jalan sudah macet akibat banyaknya kendaraan yang berlalu lalang membawa sang pemilik ke tempat tujuan.
Tidak lengkap rasanya jika rutinitas kita tidak di awali dengan sarapan dulu. Seperti halnya dengan keluarga satu ini menyantap makanan mereka dengan lahap.
"Bagaimana dengan sekolahmu, Audrea?" tanya Darma Papanya.
"Baik-baik aja, Pah" jawab Audrea lalu melanjutkan kegiatan makannya.
"Nilaimu bagaimana?"
pertanyaan itu sontak membuat Audrea jadi diam dan kaku.
"Tidak turun, kan?" tanya Sinta Mamanya.
Audrea diam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Audrea!" panggil Darma.
"Itu ... Audrea kalah sama anak itu, Mah, Pah" jawab Audrea menunduk.
"Belva?" Darma memastikan dan Audrea mengangkuk mengiyakan.
"Apa! Kenapa bisa? Kamu kan pinter, dan lebih tua dari dia!" marah Sinta sedangkan Darma menghela nafasnya.
"Tiap malam kamu juga belajar, Audrea, apa ada materi yang belum kamu pahami?" tanya Darma.
Sebenarnya Audrea setiap malam bermain instagram saja dan belajar jika ada kemauan, dan jika Papa dan Mamanya datang ke kamarnya maka Audrea akan pura-pura belajar.
"Jika memang kamu kesusahan belajar sendiri, Papa akan mencarikan guru les lagi untuk kamu," saran Darma.
Audrea menggeleng. Dia tidak mau lagi les dan memaksakan otaknya untuk belajar. "Nggak Pah, Audrea nggak mau. Audrea bisa belajar sendiri."
"Pokoknya Mama sama Papa nggak mau tau, nilai kamu harus tinggi!" kata Sinta tegas.
"Tapi otak Audrea nggak bisa tandingin kepintarannya" balas Audrea cape.
"Kalahkan dia pake cara apapun, Mama nggak mau tahu."
"Mah, Pah. Tolong ngertiin keadaan Audrea. Lagian kenapa sih kalian paksa Audrea buat dapet nilai tinggi di sekolah, sedangkan otak aku nggak mampu?" Audrea mulai menaikkan satu oktaf suaranya.
"Audrea! Ini semua juga demi masa depan kamu, mau jadi apa kamu kalau sudah besar nanti kalau kamu bodoh, HAH?" bentak Darma sambil memukul meja makan.
"Kamu banggain nilai yang kamu anggap tinggi itu. Dan Kamu pikir nilai saja cukup untuk masa depan?" lanjutnya
"Nggak Audrea! Kamu harus punya skill, kecerdasan dan ilmu yang cukup" sambungnya lagi.
"Papa kan sudah punya perusahaan yang bakal di warisin sama aku, jadi aku nggak usah mikirin masa depan aku" balas Audrea karena sudah jengah.
"Bagaimana jika Papamu bangkrut" Sinta angkat bicara.
"Mah," Audrea tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kita nggak tahu Audrea kehidupan kita di masa mendatang dan Mama juga nggak mau malu, gara-gara kamu yang di kalahkan oleh anak 16 tahun!"
"Mah."
"Audrea! Dengar. Papa sama Mama nggak mau tau selesaikan masalah itu!" tegas Darma lalu pergi meninggalkan ruang makan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Misteri / Thriller> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)