Hari ini Belva pulang bersama Salsa menggunakan mobil. Salsa sudah tidak peduli lagi jika Mamanya akan marah jika melihat hal itu. Dia hanya ingin bersama Belva, seperti saudara lainnya di luar sana. Dia sudah sangat muak dengan Mamanya yang melarangnya bergaul dengan Belva. Dia sudah tidak tahan. Hari-harinya yang ingin ia isi dengan canda tawa bersama saudaranya itu hilang di telan waktu karena perbuatan kedua orang tuanya kejam.
Di dalam mobil mereka bercanda, saling tukar cerita, dan bernyanyi mengikuti alunan musik bersama. Pak Darwi, supir pribadi Salsa itu juga ikut bahagia melihat majikannya yang akur. Dia sengaja melambatkan laju kendaraan yang ia bawah itu agar majikannya bisa menikmati waktu yang singkat, namun sangat berharga untuk mereka. Setelah sampai di rumah, mereka turun dari dalam mobil.
"Hufff ... Pak Darwi kok cepat banget bawa mobilnya" ucap Belva memanyunkan bibirnya.
"Pak Darwi udah pelan banget tadi bawa mobilnya," balas Salsa. "Kenapa? Seru yah" lanjutnya merangkul Belva.
"Seru banget," jawab Belva.
"Hah! Andai aja dari dulu kita selalu pulang bareng, belajar bareng, tertawa bareng, saling tukar cerita, nyayi bareng. Pokoknya dilakuin bareng-bareng." Ujar Salsa berandai sambil berjalan.
"Pasti aku yang paling bahagia," lanjut Belva
"Mau langgar aturannya nggak!" ajak Salsa masih merangkul Belva
Belva menyergit keningnya tidak mengerti.
"Iya. Jangan hiraukan aturan itu. Dan mulai sekarang, kita lakuiin semuanya bareng-bareng, biar kita bahagia," ucapnya antusias.
"Kayaknya seru tuh." Balas Belva semakin mempererat rangkulannya pada Salsa.
Perkataannya membuat Salsa dan dirinya tertawa. Mereka lalu berjalan sangat riang masuk ke dalam rumahnya.
"Papa, malu punya anak kayak kamu!" bentak Rafi.
Bentakan Kakeknya membuat langkah dua gadis itu berhenti dan sontak melepaskan rangkulan mereka.
"Memangnya kapan Papa akuin Sella sebagai anak Papa yang istimewa. Papa selalu malu, akuin Sella sebagai anak Papa! Papa selalu bedain aku sama Sinar. Papa lebih sayang sama dia di banding aku, Pah!" balas Sella membentak Rafi Papanya.
"Papa tidak pernah membedakan kalian sejak awal, cuman kamu saja yang tidak pernah mau menerima kasih sayang kami. Setiap hari kamu cuman pergi sama teman-teman kamu yang nggak benar itu?!" kata Rafi berusaha menjelaskan yang sebenarnya.
"Alah. Papah memang gitu, selalu saja membedakan kami. Buktinya Papah selalu saja marahin Sella sedangkan Sinar nggak pernah!"
"Pertengkaran orang dewasa sangat menyeramkan,yah" ucap Salsa mendengar suara mereka yang sangat keras.
"Hmm." Belva hanya berdehem menanggapinya.
"Itu karena kamu melakukan hal yang tidak benar Sella, kamu selalu saja membangkang dan tidak mau mendengarkan perkataan Papah. Bahkan sampai sekarang kamu masih saja melakukan hal yang tidak penting, pergi belanja sama teman-teman kamu dan melupakan Salsa yang sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang Ibu!" kata Rafi.
"Aku kayak gitu karena mau senangin diri aku, Pah!"
"Kita pergi ke luar yuk!" ajak Belva karena sangat malas mendengarkan pertengkaran mereka.
"Aku kepo tau kelanjutannya" balas Salsa
"Hah! Dasar +62!" ucap belva memutar bola matanya.
"Memangnya lo bukan warga +62?" ledek Salsa
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Mistério / Suspense> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)