Selamat sore, malam, pagi atau siang!
Aku nggak tahu kalian yang membacanya kapan, jadi kondisikan saja yah 😉
Selmat membaca!
Eits, tapi pencet bintang dulu. Trus komen juga yah, hehehe....
Matahari terbit dari timur, hembusan angin pagi begitu sejuk dan segar. Membuat daun-daun bergoyang. Dan kicauan burung begitu merdu terdengar begitu indah di telinga.
Seorang gadis yang masih berada di dalam selimut tebal dan lembut itu mulai terbangun. Dia membuka matanya yang bengkak lalu berusaha duduk.
Ya dia adalah Belva. Dia memengang kepalanya yang terasa pusing dan langsung membulatkan matanya saat melihat jam yang ada di atas nakas.
"Astaga. Aku terlambat!" ucapnya sambil beranjak pergi ke dalam kamar mandi.
Dan setelah malakukan ritual mandinya, dia langsung memakai seragamnya kemudian menuju ke meja rias.
"Astaga. Mataku mirip banget sama mata panda," gumamnya melihat wajahnya di cermin.
Dia kemudian menyisir rambutnya dan mengikatnya ke belakang, serta sedikit memakai bedak dan menggunakan kaca matanya. Setelah itu, dia mengambil tag name-nya dan memasangnya tepat sebelah kiri seragamnya.
Sedangkan di meja makan keluarganya, semua sudah berkumpul untuk sarapan pagi kecuali dia. Mereka belum memulai sarapan karena Kakek yang bernama Rafi tidak ingin makan jika belum ada dirinya.
"Pah. Belva itu nggak sering sarapan di meja ini, jadi untuk apa kita nungguin dia!" kata Sella geram membuka suara
"Iya Kek. Belva memang sangat malas sarapan dari dulu" sahut Salsa
"Itu karena kalian tidak mengajaknya sarapan bersama!" balas Rafi yang membuat semuanya diam.
"Pokoknya kita nggak sarapan kalau Belva tidak ada, titik!" lanjutnya.
Sella dan Salsa semakin geram, sedangkan Raymon sang ayah berusaha bersikap santai dengan membaca sesuatu di handphone-nya.
"Kakek!" teriak Belva dengan wajah berseri membuat semuanya melihat ke arahnya.
"Kakek kapan datangnya?" tanyanya mendekati meja makan.
"Kemarin. Ayo duduk!" jawab Rafi sambil menarik kursi untuk Belva.
Belva kemudian duduk di dekat kakeknya. Sedangkan yang lainnya mulai memakan sarapannya. Belva sebenarnya merasa sedih karena melihat sikap Ayah dan Ibunya serta Salsa yang tidak mempedulikannya berada di meja makan. Tapi Belva berusaha tersenyum lalu melihat Kakeknya.
Melihat tingkah anak dan cucunya, Rafi menghela nafas lalu menunduk dan mengambil sebuah kotak di samping kursinya. Kemudian meletakkannya di atas meja.
"Happy birthday Belva ... happy birthday Belva ... happy birthday Belva ...." Rafi bernyanyi sambil tersenyum.
Mendengar Rafi bernyanyi membuat Raymon, Sella, dan Salsa berhenti makan. Mereka diam dan berusaha bersikap seperti biasa dan meminum air yang sudah ada di meja.
Mata Belva berkaca-kaca sambil tersenyum bahagia melihat Kakeknya yang masih mengingat hari ulang tahunnya.
"Ehem. Aku ada meeting hari ini Pah, jadi aku harus berangkat sekarang" pamit Raymon lalu beranjak pergi
"Aku juga Pah" kata Sella lalu meninggalkan meja makan tapi sebelum itu melototi Salsa.
"Maaf Kek. Aku juga harus berangkat sekolah sekarang, soalnya masih ada tugas yang belum aku selesaikan" Salsa ikut pamit dengan wajah memelas lalu berlari mengikuti Ibunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Why Should Be Me [ Tamat ]
Mystery / Thriller> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat< Di benci oleh orang tua sendiri! Di bully! Di Teror! Di ancam! Di jadikan bahan taruhan! Dan ingin di bunuh! Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu? Yah, Dia Belva Am...
![Why Should Be Me [ Tamat ]](https://img.wattpad.com/cover/273926434-64-k730538.jpg)