Dia Selalu Baik

39 12 1
                                        

Di rumah sakit, di atas kasur pesakitan. Belva mulai sadar membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk di matanya. Dokter yang melihat itu langsung memanggil nama Belva.

"Belva!"

"Anda siap- oh dokter yang negur aku waktu itu kan, di atas Bus" tebak Belva

"Iya. Saya dokter Wira. Kalau boleh tahu kamu punya penyakit atau tidak?" tanya dokter Wira.

Belva menggeleng karena bingung dengan pertanyaan itu.

"Itu aneh," pikir dokter meregangkan otot lehernya melihat catatan pemeriksaan Belva.

Belva semakin bingung. Dia lalu berusaha duduk di bantu dokter Wira.

"Kenapa Glen ada di situ?" tanya Belva menunjuk Glen yang tertidur di ranjang sebelahnya.

"Dia mendonorkan darahnya padamu tadi" jawab dokter Wira.

"Golongan darah kami sama. Kebetulan sekali," gumam Belva melihat Glen yang tertidur.

"Hm. Dia sangat antusias mendonorkan darahnya, padahal keadaannya kurang baik," balas Dokter Wira mengingat kejadian tadi.

"Oh, yah! Glen sampai seperti itu?"

"Hmm."

"Lalu dimana temanku yang---"

"Bisa kita melanjutkan pembicaraan tentang kesehatanmu!"

Izin Dokter Wira membuat Belva sedikit tersentak. Dia  jengah karena sedari tadi Belva hanya mempedulikan temannya.

"Memangnya kenapa dengan kesehatanku?" tanya Belva menaikkan alisnya bingung.

"Berdasarkan pemeriksaan tadi, tubuhmu tidak sehat. Dan saya yakin kalau kamu memiliki penyakit yang parah," jawab Dokter Wira membenarkan.

Belva tertawa hambar mendengarnya.

"Itu tidak mungkin, Dokter. Aku bahkan sudah baikan sekarang," balas Belva dengan sangat pasti walaupun badannya masih sakit-sakit.

"Itu menurutmu, tapi saya tidak pernah salah. Tubuhmu memang sakit, tapi kamu tidak menyadarinya," kata Dokter Wira

Belva memalingkan wajahnya malas mendengar perkataan Dokter itu.

"Kalau kamu mau, kamu bisa melakukan pemeriksaan lanjut sekarang. Itu pun jika kamu sudah merasa baikan," saran Dokter

Belva melihat Dokter Wira kemudian mengangkuk. Melihat responnya, Dokter Wira mengambil kursi roda dan membantunya untuk duduk. Sebenarnya, dia juga penasaran. Karena selama ini dia juga merasakan bahwa dadanya sering sesak.


****

Mikeil yang baru pulang dari kantin rumah sakit membeli air putih dibuat kaget, karena dia tidak melihat keberadaan Belva di kasur. Dia lalu mencarinya di kamar mandi dan semua ruangan, namun tidak melihat Belva. Karena sudah sangat khawatir, dia membangunkan Glen secara paksa.

"Glen, bangun Glen!" panggilnya memukul-mukul wajah Glen.

"Apaan sih, sakit nih pipi gue!" sahut Glen kesal tidak membuka matanya.

"Belva mana?" tanya Mikeil

"Di kasurny---" ucapan Glen terpotong karena sadar, lalu membulatkan matanya kemudian duduk melihat kasur Belva.

"Dia kemana?" tanyanya khawatir.

"Kenapa nanya balik, dari tadi lo kan disini!" bentak Mikeil

"Gue ketiduran," ucap Glen menggaruk kepalanya pusing.

Why Should Be Me [ Tamat ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang