> Follow dulu yah, karena sewaktu-waktu cerita ini akan di privat<
Di benci oleh orang tua sendiri!
Di bully!
Di Teror!
Di ancam!
Di jadikan bahan taruhan!
Dan ingin di bunuh!
Siapa yang akan tahan jika menjalani hidup seperti itu?
Yah, Dia Belva Am...
Hi semuanya! Jangan lupa pencet bintang dan komentar, biar aku semangat nulisnya.
Selamat membaca!
=======================
1 minggu kemudian.
Setelah melakukan ritualnya, Belva bersiap-siap di depan cermin menyisir rambut yang panjangnya tidak beraturan karena bekas guntingan waktu itu. Walaupun rambutnya sangat susah diikat karena terlalu pendek, dia tetap mengikatnya dan membiarkan sisa rambut pendeknya tergerai.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kurang lebih kaya gini gengs rambutnya Belva
Setelah itu, dia memakai sedikit bedak baby dan pelembab bibir, mengenakan kaca mata, dan memperbaiki letak tag namenya. Kemudian, dia keluar dari kamarnya dan turun ke bawah menuju pintu utama.
Sebelum Belva membuka pintu, sayup-sayup dia mendengar dentingan sendok yang berbunyi, yang menandakan keluarganya sedang sarapan sekarang.
"Jangan pernah makan bersama kami, karena kau sudah di anggap bukan bagian dari keluarga."
Tiba-tiba kata itu langsung memenuhi kepalanya.
Belva menelan air liurnya dan menggeleng keras. Dia lalu membuka pintu kemudian berangkat sekolah. Namun berapa langkah ingin membuka gerbang, seseorang memanggilnya.
"Non Belva" Teriak Pak Radit satpam di rumahnya.
"Iya. Kenapa Pak?" tanyanya
Pak Radit kemudian keluar dari pos jaga lalu berlari ke arahnya membawa sebuah kotak kecil.
"Ini ada paket Non" jawab Pak Radit memberikan kotak itu.
"Dari siapa?" tanya Belva heran karena tidak pernah memesan ataupun membeli sesuatu.
"Nggak tau. Buka aja, Non" jawabnya.
Belva kemudian langsung membuka kotak itu. Dan di dalamnya terdapat pistol mainan. Lalu di bawahnya terdapat surat.
Pistol ini akan berubah menjadi asli seiring berjalannya waktu
R
Deg
Belva menjadi takut dan langsung menutup kotak itu.
"Dia lagi" batinnya
Tangan Belva gemetar dan perasaan takut menghampirinya. Wajahnya pucat dan kakinya terasa susah umtuk digerakkan.
"Non Belva, baik-baik saja?" tanya Pak Radit melihat ketakutan di wajah Belva.
"Hmm."
Jawabnya sambil mengangkuk dan melangkah untuk membuka pagar. Dia lalu memasukkan kotak itu ke dalam tasnya kemudian berjalan.